Rasanya banyak hal yang luput dari penglihatanku selama ini. hidup dan impian. Banyak yang terkubur bersama waktu yang terus berjalan. Aku masih berleha-leha pada hidup yang memanjakanku. Hingga aku tersentak kaget saat ia (ibu yang paling kusayangi) berkata “aku sangat ingin melihatmu diantara orang-orang itu ” sembari menunjuk ke arah jejeran 10 besar siswa dengan nilai terbaik di sekolahku (waktu aku SMP). Dan entah bagaimana caranya, kata-kata itu seperti mensugestiku. Tertanam di otakku, meskipun jauh dalam hatiku, aku menjerit bahwa hal itu tak akan mungkin tercapai karna aku tak akan bisa.
Dulu, aku berada dalam jutaan orang yang tak akan dikenal siapapun di sekolahku, meskipun aku bolak balik ke sekolah lamaku waktu SMP. Aku iri, mereka teman-temanku yang hebat dan pintar. Kupikir kenapa aku tak bisa seperti mereka? padahal kami semua sama. Makhluk ciptaan Tuhan. Dan kusadari hal yang tak ada pada diriku dan merupakan hal yang paling penting membuat mereka terlihat berbeda dari orang lain. Mereka ….BERANI! sedangkan aku, hanya bisa bersembunyi di antara mereka dan tak akan pernah terlihat.
Kemudian kesempatan untuk berubah itu datang ketika aku SMK. Aku mulai memunculkan keberanianku yang selama ini kukubur. Kuberanikan diri untuk melangkah ke depan. Sedikit saja, karena aku tahu, aku phobia keramaian, aku trauma dipermalukan. Saat itu, pendaftaran untuk menjadi seorang debaters terbuka. Aku takut! Tapi, ada sesuatu yang membuatku bertahan untuk ikut. Entah apa. Perasaan malukah? yaitu perasaan yang membuatku malu pada semua orang jika aku mundur (yah, sudahlah!Toh sudah kepalang basah) atau perasaan ingin berdampingan bersama kakak-kakak kelasku yang terlihat hebat karena berorganisasi.
Lalu hidupku berubah, aku bisa (antara percaya dan tidak percaya) aku berdiri di antara orang-orang untuk berdebat! Hal yang luar biasa! Aku sebut itu Revolusi! Kemudian, orang mulai mengenalku dan setelah kutelusuri mungkin (atau setidaknya) aku lebih hebat dari kakak-kakak kelasku itu. Mata dan pikiranku terbuka. Ternyata mereka masing-masing mempunyai sifat yang sama. “Munafik” dan aku (dengan bodohnya) termasuk dalam orang yang “menjilat” pada mereka untuk bisa terkenal di sekolah. Kuputuskan untuk menghindari mereka. Lalu aku dipercayakan sekali lagi untuk mewakili sekolahku untuk lomba tingkat provinsi dan aku berhasil menjadi wakil provinsiku ke tingkat nasional. Dan berkat itu, tahun lalu aku juga berhasil pulang pergi dengan Garuda Air (pesawat impianku dan terbang pertamaku) ke Bali tanpa biaya! Dan pencapaian terbesarku adalah saat aku menerima piala juara III tingkat Nasional dari 28 provinsi yang ikut serta.
Kukatakan pencapaian terbesar karena aku berhasil meruntuhkan opini bahwa cewek berjilbab tidak akan bisa berbuat banyak dalam dunia pariwisata! And look at me! aku berjilbab, bahkan baru setahun, aku tidak melepasnya saat orang sudah mengatakan padaku bahwa kesempatanku menang berkurang karena jilbabku. Tapi aku malah bangga, aku yakin dan optimis (meski setelah diserang rasa pesimis beberapa kali)mereka akan melihatku berbeda! And Guess What? ternyata benar!
Di atas adalah sepenggal curhat dari seseorang, mungkin kita juga pernah merasakan perasaan yang sama dengannya. Dan setidaknya yang ingin saya sampaikan adalah ” Jangan biarkan satu bab dalam hidupmu kosong tanpa warna dan tinta karena ketika kau kehilangan itu, kau sudah membuat satu period keberhasilanmu tertunda”
Tapi, apapun yang terjadi, berpikir positiflah! karena hanya itu senjata kita. Dan Allah SWT punya rencana dalam segala hal yang terjadi. Hal yang perlu kau lakukan hanyalah mencari celah dalam keberuntunganmu, dan tumbuhkan keberanian dalam hidupmu.
Author:
cherish, 12 May 2007 : 9:41 am.
Kategori
- Cerpen Motivator (45)
- Motivasi (10)
- Renungan (19)
Rabu, 28 Januari 2009
Keberuntungan dan Keberanian
Diposting oleh Ide di 21.08
Label: Cerpen Motivator
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
hebatt...
critamu kren2....
Posting Komentar