CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2012

Move On dari Patah Hati

Interview With MT
BARU PUTUS CINTA

Om Mario, aku baru putus cinta. Gimana ini Om?

Hmm … apakah aku harus bersedih atau bergembira?

Yah bersedih dong Om?

Itu kalau perpisahan ini merugikanmu.

Yah jelas-jelas rugi dong Om?

Apakah dia yang terbaik?

Iya dong Om?

Apakah engkau sudah ahli memilih, dan selama ini engkau tak pernah salah?

Yah namanya anak muda, aku sih masih sering salah.

Nah itu maksudku, kalau masih sering salah, mengapa engkau begitu sedih kalau kau ditinggalkan oleh orang yang kau kira kau cintai?

Yah dia-nya bilang cinta, tapi dia ingkar janji.

Apakah dia pengkhianat?

Iya.

Jadi kau ini sedang sedih menangisi perginya seorang pengkhianat?

Yah, seharusnya sih nggak ya Om?

Ya jangan lah? Engkau masih muda dan banyak pilihan, mengapa meratapi kepergian orang yang tidak setia.

Masalahnya ini juga gengsi Om?
Karna dia sekarang sama teman aku. Dia katain aku loser, dan dia winner karena menangin pacarku.

Bilang saja sama temanmu itu:
Selamat ya? Eloe mencuri seorang pengkhianat.
Di MTFB gue belajar,
'Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya.'
Nah hukum itu berlaku ama kalian,
'Wanita pengkhianat untuk laki-laki pencuri pacar.'
Ho ho ho …

Kwk wk wk … iya Om, nanti aku bilangin gitu!

Nah, sekarang apakah engkau merasa lebih damai?

Iya Om, tapi agak kepikiran juga sih?

Kepikiran apa?

Itu, khan ada tuh, teman sekelas yang naksir aku, aku sih juga OK aja sama dia. Tapi kalo aku besok tembak dia, apa gak terlalu cepet nih OM?

Terlalu cepat kenapa?

Khan …, yah Om khan tau aku baru putus?

Lho, ini ceritanya sudah mau pacaran lagi?

Yah, khan berkat nasihat Om, aku cepat sembuh?

Oh … he he he … terus kesedihanmu yang tadi mana?

Yah namanya anak muda, masa' Om gak tahu.
Please sesuaikan diri dong Om?

Menyesuaikan bagaimana?

Khan dunia ini tidak selebar daun kelor?
Mati satu tumbuh seribu!

Jadi, sudah siap untuk cinta yang baru nih ceritanya?

Iya dong Om, jangan terlalu kuno.
Ditolak adalah kesempatan untuk mencintai lagi.

Oh begitu?
Emh emh emh … plak! (tepok jidat …)

He he … hidup ini kaya' gitu Om, kita gak boleh lama berkubang dalam derita.
Masih banyak kebahagiaan di luar sana, mengapa memilih bersedih?

Uh uh uh … super sekali!

Udah ya? Baru denger? Kalo mau lagi, aku kasih tau Om, aku ini pujangga cinta.

He he he … ha ha ha … I love you.
Mudah-mudahan Tuhan selalu memeliharamu dalam perhatianNya yang penuh perlindungan dan pemuliaan.

Aamiin … aku doain juga Om supaya sehat selalu en tetep sabar menemenin kita-kita yang muda ini.

Aamiin

-----------------

Sahabat saya yang muda dan baik hatinya,

Kebijakan kehidupan ini sesungguhnya sudah ada pada diri kalian, tapi sering dikalahkan oleh emosi dan kurangnya pengalaman yang sewajarnya ada pada anak muda.

Tapi jika kalian bersabar, tetap menghormati dan patuh kepada orang tua dan guru, mudah-mudahan Indonesia di masa depan akan kalian pimpin dengan jujur, tegas, dan penuh kasih sayang kepada rakyat.

Sampai nanti ya?

Mario Teguh - Loving you all as always

Kamis, 11 Februari 2010

i miss you,dad...

seperti biasa, setiap bangun pagi saya langsung duduk di depan laptop dan online...cuma sekedar untuk ngecek facebook aja... hari ini saya dapat message dari seorang teman, Hellen namanya, sama-sama mahasiswa rantau. bedanya saya di denpasar, dia di salatiga.

saya nggak tau dia dapat tulisan itu dari siapa tapi isinya sangat menarik dan mengharukan. tentang papa. bukan papanya hellen, bukan tentang papa saya. ini tentang seseorang yang kalian sebut papa atau ayah, atau mungkin abah, papi, daddy or pop. ini tentang kita.

Dibalik Kisah seorang Papa

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.



Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Sabtu, 12 Desember 2009

Permainan Palsu

Pernah suatu hari aku coba melakukan suatu hal yang seharusnya tak kulakukan. Ketika itu aku sedang ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari yang aku miliki saat itu. Sebenarnya sudah ada kata yang berbisik ditelingaku, "sebaiknya ini tak kau lakukan". Aku kemudian berargumentasi dengannya, "kenapa hal ini tak boleh aku lakukan?" Lantas kata di telingakupun menjawabnya pula, "bukankah pak ustad pernah bilang, bahwa sebuah permainan yang hanya mengandalkan untung-ungan itu tidak boleh dilakukan, haram...haram...itu sama dengan judi...haram...haram..." Diucapkannya kata itu berulangkali, sampai akhirnya aku menutup telinga tanda tak mau lagi aku mendengar tutur katanya.

Aku letakkan selembar uang ribuan di satu tanda, saat itu, uang seribuan sangatlah besar harganya, bisa untuk makan beberapa kali di warung pojokan alun-alun. Bahkan sambil minum es teh manis beberapa gelas pula. Tapi seibuan itu akhirnya kuletakkan juga di salah satu tanda, dengan hrapan aku akan mendaatkan enam kali seribuan, yang berarti enam ribu rupiah, begitu pikirku.

Sementara satu orang yang menguasai permainan itu, disebut bandar, masih menunggu orang lain untuk juga ikut bertaruh sama halnya sepertiku. Matanya menengok ke kanan dan kiri, sesekali wjaahnya mendongak kepada orang yang berharap-harap cemas. Matanya terkadang melotot, tak jarang pula, sesekali dia menghardik kepada orang yang ikut bertaruh. Padahal menurut nalarku dia tidak menghardik, tapi hanya memastikan, apakah benar orang yang bertaruh itu sudah meletakkan taruhannya di tanda yang dikehendaki atau masih ingin berubah pikiran. Itu saja nalarku. Tidak lebih dan tidak kurang.

Satu menit berlalu, dua menit menuju. Jantungku berdegup tak menentu. Rasanya sama seperti saat aku kena damprat orang tuaku saat aku terlambat pulang ke rumah setelah bermain seharian diluaran. Dag...Dig...Dug.... Rasa dadaku sesak bagai tertindih bongkahan batu sebesar kerbau. Wuuihh...

Tibalah saatnya bandar itu mengangkat tutup alat permainannya...mataku melotot dan nafasku tertahan di jakun.... Dapat...dapat...dapat...

Ternyata tanda yang keluar tidaklah sama dengan gambar taruhanku. Aku tertunduk lesu, menyesali selembar uang seribuan yang telah melayang berpindah tangan dengan mudahnya. Tidak dijambret, tidak pula dirampok, tidak juga dicopet. Hilang dengan mudahnya dihadapanku.

Kata-kata di telingaku kembali berbisik, kali ini lebih keras lagi, "bukankah sudah aku bilang jangan kau lakukan, itu sama dengan judi, dan judi itu dilarang oleh Allah sebagai perbuatan yang munkar...sekarang kau menyesal bukan?"
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Tetapi setengah menit kemudian, aku merogoh sakuku dan kukeluarkan lagi uang seribuan dari dalamnya. Aku berkata dalam hati, "uang seribuan tadi harus kembali lagi kepadaku..." Kuhembuskan nafasku dengan kerasnya, sampai beberapa orang menoleh ke arahku. Ya, uang seribuanku harus kembali lebih banyak lagi. Kemudian kuletakkan uang seribuan ke tanda yang kuinginkan. Perasaanku bercampur antara soto dan rawon, es jeruk dan jus alpukat. Kutunggu beberapa menit dengan kadar keresahanku yang semakin meningkat.

Dua menit kemudian....
Aku memaki dengan keras.... Sontak beberapa orang menatap ke arahku dengan perasaan jengah. Aku memaki tak henti-henti dan kutinggalkan tempat itu dengan pandangan tertunduk lesu. Kugenggam kepalan tangan kiriku. Dan kuhentakkan pula tapak kakiku keras-keras di jalan setapak alun-alun yang temaram. Dengan gundah aku berlalu begitu saja, berjalan menuju arah timur, pulang.

Esok paginya, kebetulan aku lewat sekitaran alun-alun untuk menuju ketempat kerjaku. berjalan kaki saja dan kadang-kadang aku juga sempatkan untuk berhenti sambil menikmati segarnya udara pagi. Kudapati orang-orang yang tadi malam ada di sekitarku saat kupertaruhkan dua lembar uang seribuanku dengan harapan akan kudapatkan enam kalinya. Mereka tertawa-tawa dan kebetulan aku kenali salah satu diantaranya...bandar...yah bandar itu. Suaranya masih kuhafal walau tadi malam aku telah terbaring lesu ditekan penyesalan. Bandar itu berucap, "Orang-orang bodoh...dibohongi mau saja. Tidak mungkin mereka menang dalam permainan kita, mereka tidak tahu kalau kita curangi...." dan masih banyak lagi kata-kata yang membuat telingaku semakin memerah sakit setengah mati.

Ternyata mereka telah curang, orang-orang yagn berkerumun dan sesekali ikut bertaruh adalah kawan-kawannya juga. Aku adalah salah satu korban mereka. Korban dalam permainan palsu yang tanpa mengenal belas kasihan.

Akhirnya aku bisa mulai memahami, bahwa saat kita melakukan suatu perbuatan munkar, maka akan ada penyesalan yang tak terhingga. Semoga kelak kemunkaran ini tak pernah kulakukan lagi. Memang hanya 2 lembar uang seribuan, tapi saat itu bisa menghidupiku selama 10 hari lamanya dengan nasi bungkus di warung pojokan alun-alun.

Astaghfirullahhaladziim...

DOA

Dengan hormat
Kepada Allah yang Maha Besar
Ya Allah,Penguasa Bumi Angkasa Raya dan seluruh Jagat. Yang mengatur alur waktu dan hukum alam. Yang mengontrol takdir dan nasib. Yang tak terjangkau logika manusia dan yang terdekat setipis hati dan selembut aliran darah. Yang memberi nasib baik dan nasib buruk. Yang menyediakan akal dan hasrat nafsu kepada manusia. Yang awal dan yang akhir. Penguasa tujuh langit surga dan tujuh lapis neraka serta tujuh hari.
Ya Allah,semua kemuliaan dan kehormatan ditelapak kakikumu. Semua kemasyuran dan kebesaran ditelapak tanganmu. Semua cahaya dan gelap tercipta karenamu. Semua kebudayaan dan sejarah bermula dari rencanamu. Semua tiupan nafas dan hembusan kematian berawal dan berakhir karena keinginanmu. Semua rencana dan keagunganmu terhadap manusia.
Ya Allah, yang pencemburu dan pemarah. Yang menghancurkan juga membangun. Yang merawat dan juga yang memecut. Yang melihat dan campur tangan dalam kehidupan dan kematian. Yang mengasihi juga membenci. Yang mengatur dan juga memporak porandakan. Yang esa juga yang terkecil. Yang manusia juga bukan manusia. Yang dimengerti juga yang tidak diketahui.
Hambamu ini ya Allah yang hina dan berdosa. Yang layak dan tidak layak dihadapanmu berdasarkan kehendakmu. Yang termungil dari yang terkecil. Yang terhina dari yang terbuang. Yang membenci dan melukai sesamanya juga membunuh. Yang berzinah dan mencela durhaka. Yang menghasut juga yang melawan firmanmu. Yang sembunyi dan ketakutan. Yang tersesat dan terhilangkan didebu tanah.
Anakmu ini ya Allah. Meminta dengan doa dari hati dan pikirannya. Memohon dan bertekuk lutut diatas kelemahan dan kerinduan. Menangis karena kesalahan yang tercipta dari diri sendiri. Yang bergantung kepadamu dari belum sampai habis. Yang mengenalmu dan tidak mengenalimu dari lahir sampat mati. Yang mengetahui dan tidak mengetahui keberadaanmu. Yang menyanjungmu dan menyangkalmu.
Ciptaanmu ini ya Allah. Yang tidak setia dan selingkuh. Yang menghujat dan menyembah berhala. Yang buta dan pincang dalam hidup. Yang mencintai dan yang membenci. Yang merasakan kehadiranmu dan yang menolak hukummu. Yang sakit dan sehat diraga dan jiwa. Yang menciptakan baginya dan yang menghancurkan apa yang baginya. Yang menjadikan dan yang memutuskan bagi kepentingan dirinya.
Jika hambamu ini diperkenankan ya Allah. Permintaanku ini ya Allah dikabulkan.

Minggu, 25 Oktober 2009

Bencana Alam, Azab ataukah Ujian?

Penulis : Zen El-Fuad

Tahukah Anda bahwa Hukum Alam ternyata memiliki nilai-nilai yang selaras dengan diri kita, istilahnya keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Perhatikanlah, apa saja yang berlaku di alam secara makro, maka seringkali berlaku juga pada individu manusia secara mikro. Itu sebabnya tak heran, jika Anda berhasil hidup selaras dengan alam maka hidup Anda akan lebih sejahtera, mengikuti arus tapi tak terbawa arus.

Allah telah memberitakan kepada kita semua bahwa Alam semesta ini diciptakan Allah dengan begitu seimbang. “…Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” Q.S. Al-Mulk : 3-4.

Mungkin Anda bertanya, “Kalau alam semesta itu seimbang, mengapa banyak terjadi bencana alam? Bukankah bencana alam itu menandakan bahwa alam itu tidak seimbang alias rapuh?” Nah, sementara silakan Anda pikirkan sendiri jawabannya (maksimal 3 menit saja ya...). Nah, apa jawaban Anda? Baik, mari kita selaraskan jawaban kita. Mungkin jawaban Anda bisa jadi lebih benar dari jawaban saya. Wallahu a’lam.

Yup, Alam diciptakan oleh Allah dengan ketelitian yang luar biasa. Sehingga apabila terjadi pergeseran di alam semesta ini walaupun satu per sekian milyard maka akan berdampak secara signifikan pada kehidupan manusia, dan itu bisa saja sebuah kehancuran yang sangat besar. Begitupun sebaliknya. Jika ada pergeseran di jiwa manusia maka alam semesta pun ikut “bergeser”.

Tanda-tanda alam adalah tanda-tanda jiwa. Kalau jiwa kita tenang, damai, khusyu dan dekat dengan Allah, maka Alam semesta pun berlaku sama kepada kita. Tapi kalau kita sebagai jiwa selalu berontak, protes, mengeluh, maksiat, zalim, berlebih-lebihan, marah-marah, suka membentak, dan jauh dari Allah, maka Alam semesta pun akan sering “membentak-bentak” kita. Alam semesta bukanlah Tuhan, tapi alam semesta bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan.

Itu sebabnya Allah pun berfirman dalam Al-Quran, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.” Q.S. As Syuura : 30-31

Ternyata, justru musibah itu hadir sebagai penyeimbang energi negatif yang banyak dilakukan oleh manusia di daerah musibah tersebut. Tetapi tentunya memang tidak semua tempat-tempat maksiat dihadiahi bencana alam dan musibah lainnya, sebab ada juga beberapa tempat maksiat lainnya sengaja ditangguhkan azabnya oleh Allah SWT.

Perhatikan Firman Allah berikut, “Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada Keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima Taubat mereka. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Q.S. At Taubah : 106

Suburnya “energi negatif” (baca : amalan maksiat) yang ditanam di suatu daerah, dan minimnya “energi positif” (baca : amal sholeh) yang dihadirkan di daerah tersebut, bisa mengakibatkan ketidakseimbangan di alam semesta, sehingga telah membuat alam semesta “terpaksa” langsung turun tangan untuk menjaga kelestarian dan keseimbangannya.

Untuk itu wahai sahabatku, sebelum ”Alam semesta” mencapai ambang batas ”Toleransinya” atas energi-energi negatif yang masih sering kita berdayakan di muka Bumi ini, maka segeralah bertaubat dan mulailah memberdayakan energi-energi positif yang Anda miliki. Tidak mudah memang, apalagi jika energi negatif kita sangat banyak, maka kita harus betul-betul bersegera menyeimbangkannya dengan energi positif terbaik kita, sebelum ajal menjemput atau sebelum sang alam mengamuk.

Azab dihadirkan bukan untuk sekedar menghukum orang-orang yang patut dihukum, tapi lebih kepada untuk menjaga kelestarian bumi ini dari perilaku manusia yang suka berlebih-lebihan. Perhatikan pembelajaran berikut, ”...Seandainya Allah tidak menolak (mengganti) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam.” Q.S. Al-Baqoroh : 251

Sahabatku, Ujian dan Azab itu memang beda tipis. Tingkat kesulitannya kadang sama. Ujian itu biasanya hadir di depan (didahulukan), sedangkan azab biasanya hadir dibelakang. Azab diberikan kepada orang-orang yang bertingkah berlebih-lebihan, sedangkan ujian diberikan kepada orang-orang yang akan "dilebihkan-Nya".


Wallahu alam

PEMENANG VS PECUNDANG

Penulis : Aris Ahmad Jaya ABCo

pemenang selalu jadi bagian dari jawaban;
pecundang selalu jadi bagian dari masalah.
pemenang selalu punya program;
pecundang selalu punya kambing hitam.
pemenang selalu berkata, “Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda”;
pecundang selalu berkata, “Itu bukan pekerjaan saya”;
Pemenang selalu melihat jawab dalam setiap masalah;
pecundang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban.
Pemenang selalu berkata, “itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa”;
Pecundang selalu berkata, “Itu mungkin bisa, tapi terlalu sulit”.
Saat pemenang melakukan kesalahan, dia berkata, “saya salah”;
saat pecundang melakukan kesalahan, dia berkata, “itu bukan salah saya”.
Pemenang membuat komitmen-komitmen;
Pecundang membuat janji-janji.
Pemenang mempunyai impian-impian;
Pecundang punya tipu muslihat.
Pemenang berkata, “Saya harus melakukan sesuatu”;
Pecundang berkata, “Harus ada yang dilakukan”.
Pemenang adalah bagian dari sebuah tim;
Pecundang melepaskan diri dari tim.
Pemenang melihat keuntungan;
Pecundang melihat kesusahan.
Pemenang melihat kemungkinan-kemungkinan;
Pecundang melihat permasalahan.
Pemenang percaya pada menang-menang (win-win);
Pecundang percaya, mereka yang harus menang dan orang lain harus kalah.
Pemenang melihat potensi;
Pecundang melihat yang sudah lewat.
Pemenang seperti thermostat;
Pecundang seperti thermometer.
Pemenang memilih apa yang mereka katakan;
Pecundang mengatakan apa yang mereka pilih.
Pemenang menggunakan argumentasi keras dengan kata2 yang lembut;
Pecundang menggunakan argumentasi lunak dengan kata2 yang keras.
Pemenang selalu berpegang teguh pada nilai2 tapi bersedia berkompromi pada hal2 remeh;
Pecundang berkeras pada hal2 remeh tapi mengkompromikan nilai2.
Pemenang menganut filosofi empati, “Jangan berbuat pada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat pada Anda”;
Pecundang menganut filosofi, “Lakukan pada orang lain sebelum mereka melakukannya pada Anda”.
Pemenang membuat sesuatu terjadi;
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi.
Para Pemenang selalu berencana dan mempersiapkan diri, lalu memulai tindakan untuk menang…
Para pecundang hanya berencana dan berharap ia akan menang …

Sebatang Bambu

Penulis : Aris Ahmad Jaya


Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh dengan subur.”
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”
Petani menjawab, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna ketimbang batang bambu yg lain. Inilah aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sarat, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa.
Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Inilah aku, Allah…perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”

Jumat, 07 Agustus 2009

SURAT UNTUK KAMU

Ditulis oleh Mustaqiem Eska

Bagai seribu malam yang tengkurap di satu musim, entah kenapa mendadak aku kembali mengingatmu. Sebenarnaya jujur kuakui, aku sudah bertahun-tahun terus melubangi setiap tanah pekarangan rumah membentuk kuburan-kuburan sehingga setiap kenangan itu muncul segera aku melemparnya menuju alam sepi yang lumat dengan batu-batu nisan. Tapi memang terlalu sulit. Kau seperti alam semesta yang terus melakukan metamorphosis. Sehingga beribu-ribu kali aku terus menemukan wajahmu bergerak berubah dari waktu ke waktu, namun sejatinya itu tetap kamu. Di sini, di atas batu kecil ini aku belajar melupakanmu dari waktu ke waktu. Perlahan-lahan aku belajar dengan kerasnya kerikil-kerikil di sekitarku. Begitu tenang ia menjadi tapakan-tapakan sederhana bagi kaki-kaki telanjang.
Dulu pernah kau mengatakan kepadaku, bahwa lebih baik aku melakukan yang kecil karena itu sesungguhnya besar daripada aku melakukan yang besar tapi jika ternyata itu tak bisa merubah apa-apa, katamu. Nyaris aku lantas menjelma menjadi apa saja yang siap bersemayam di derasnya kehidupan. Aku masih ingat betul kenangan kita waktu itu. Saat kita berdua merayap di bawah untuk setiap tanah menjadi rumput. Kau dan aku selalu mengisi ruang-ruang kosong untuk kita tumbuh dan bernafas. Kita bertahan untuk segala musim. Begitu panas datang, kita merasa cukup dengan selimutnya malam dan cipratan embun di setiap paginya, hingga kita bersih dan bening. Ya, kita belajar ketegaran dari bawah dan dari rupa-rupa persenyawaan. Betapa aku pernah bangga bisa melihatmu tertawa dengan terbahak-bahak meski di senja usia itu kau harus kerapkali bergulat dengan sakit. Masih ingatkah kau, bagaimana saat aku memapahmu menuju pembaringan, lantas kau minta aku injak-injak agar tubuhmu dapat segar. Dan aku melakukannya dengan sempurna. Sempurna untuk dua hal, yang pertama aku telah membuat otot-ototmu bisa kendor dan berkeringat. Keduanya, itu kepentingannya untuk diriku sendiri. Setidaknya aku bisa melampiaskan sisa-sisa dendam sakit hatiku dengan menempatkan posisi kegagahanku yang bisa meremukkan semua tulang-tulangmu saat itu, tanpa membuat hatimu terluka. Aku memang akan selalu memanfaatkan sudut-sudut yang terpojok itu menjadi endapan kenikmatan yang seringkali disia-siakan oleh banyak orang.
Masih ingatkah kamu, saat kau menulis surat untukku lewat selembar daun pisang. Betapa perlahan kau mengukir butiran-butiran huruf itu membentuk kata dengan tenang dan sabar. Kalimatmu sangat sigkat, “Jadilah orang yang bermanfaat, jika tidak bisa untuk banyak orang, setidaknya untuk diri sendiri” katamu. Dan aku masih tidak tahu apa sesungguhnya pesanmu yang begitu sulit kueja saat kamu memanggang daun pisang itu dalam kondisi setengah basah setengah kering. Terus aku menyimpannya hingga sekarang di ruang hatiku dengan tersusun rapi. Tapi aku tak pernah berniat untuk membalasnya. Maafkan aku, aku memang terlalu melankolis dalam surat menyurat. Bahkan aku begitu cengeng untuk sebuah penghormatan. Karenanya aku tak mau terlarut begitu jauh dengan urusan diriku sendiri. Aku sudah terbiasa melemparkan diriku di ruang nol yang tidak lagi mengenal untung dan rugi, senang dan susah. Atau dalam kalimatmu, kau pernah terucap dengan menyebutku manusia nol tanpa dosa. Ah, itupun aku tak pernah memperdulikannya. Yang ada di depan bayangan hidupku hanyalah bagaimana aku bisa lebih baik hari ini ketimbang kemarin. Hingga terkadang begitu hati-hatinya aku takut terjerembab ke jalan ketergesa-gesaan, lantas aku diam untuk beberapa saat, semadi, merenungkan langkah-langkah ke depan yang terbaik nantinya. Banyak sekali ronak dan lompatan-lompatan yang harus aku lalui dengan perjuangan dan tekad yang kukuh membaja. Tidak hanya itu, persiapan mental untuk tidak memperdulikan segala gesekan yang melukai perasaanku saat ujian itu tiba menikamku.
Begitu untuk yang kedua kalinya kau kirim surat untukku, aku menjadi lebih bersemangat untuk tidak menemuimu lagi. Hingga terakhir aku katakan padamu, bahwa anggap saja saya sudah mati. Kalaupun suatu saat Tuhan masih saja memepertemukan kita anggap saja itu adalah mayat. Sebenarnya begitulah cara aku menyayangimu. Aku tak kuasa menatap wajahmu. Entahlah, perasaan apa sebenarnya ini, ada pemberontakan kecil yang begitu menyumbat kesadaranku, dan betul-betul aku tak sanggup mengatakannya. Aku sama sekali tak ingin melihat air matamu menderas di hadapanku. Seringkali kau tanpa sengaja, dengan ketulusanmu mengatakan sejuta keluhanmu tentang hidup ini yang begitu berat. Tapi aku justru sangat lemah dan tak sanggup menolongmu. Meskipun ribuan dan jutaan doa setiap malam aku hantar di rumahmu sebagai obat dan ketenanganmu. Dalam gelap aku meraba-raba pintu nuranimu untuk menyusun gejolak batinmu yang tercecer di ribuan tempat. Setelahnya, aku pulang tanpa sepengetahuanmu.
Hari ini, saat aku memaksakan menulis surat untukmu, sebenarnya aku tak sanggup mendengar berita tentangmu semalam. Berpuluh-puluh utusan malaikat itu menemuiku. Mereka membawakan mayatmu untukku. Aku tak percaya dengan semuanya. Tapi mereka memaksa aku untuk melihat wajahmu.
“Mayat ini adalah hadiah untukmu, begitu Tuhan menitipkan kepada kami semua untuk menyerahkannya kepadamu” kata utusan malaikat terdepan.
“Mayat siapa ? saya tidak kenal” jawabku menolak.
“Tuhan tidak pernah salah dalam keputusanNya. Semua terserah kamu” kata malaikat satunya lagi.
“Baiklah…, letakkan saja di amben depan situ” jawabku dengan berat. Benar-benar tak sanggup menolaknya setelah para malaikat itu menyebut kata Tuhan.
Setelahnya, berpuluh-puluh malaikat itu mendadak menghilang. Aku memandangi tajam wajahmu. Perlahan-lahan jasadmu kian mengecil – dan terus mengecil. Lantas menghilang dari pandangan mataku. Aku sangat terkejut dan memastikan untuk meraba amben tempat jasadmu di mana para malaikat itu meletakkanmu. Dan setelahnya aku terbangun. Nyaris aku tak sanggup menerjemahkan mimpiku malam itu tentangmu.
Ya, tentunya surat ini sangat khusus buatmu. Aku campur tintanya dengan minyak misk yang menaburkan keharuman di setiap kata-katanya, agar tidak ada satu kalimat pun yang menyakitimu. Aku harus membuatmu bahagia dan bisa tertawa di sisa-sisa usiamu. Harapanku tidak lain untukmu adalah bagaimana kamu bisa benar-benar mendapatkan hadiah khusnul khatimah dari Tuhan. Meski aku tahu hingga sekarang kau masih menolak hubungan sholat dengan sorga. Itu yang sangat berbeda dengan pikiranku. Bagimu, apalah artinya sholat lima waktu, rajin ke masjid kalau perilaku selalu sarat dengan comberan. Sementara bagiku, justru dengan sholat itu adalah batas sessungguhnya antara orang itu muslim atau tidak. Aku lebih menerima orang berperilaku dosa tetapi masih mau sholat menghadap Tuhan setelahnya. Di sini aku mencoba berfikir positif, semoga…, dan semoga…., sementara kamu langsung klaim dan menghidar.
Setelah surat ini kutulis, aku benar-benar kehilangan alamatmu. Aku telah kehilangan jejakmu yang sempurna. Ratusan dan ribuan sahabat yang pernah mengenalmu pun tak lagi menyimpan keberadaanmu. Hanya sisa-sisa pikiranmu yang terus menyelip di pikiran-pikiran mereka, termasuk aku.
“Dimana aku harus mengalamatkan surat yang kutulis khusus buatmu?” pertanyaanku menggantung di sudut waktu.
Akhirnya, berbulan-bulan aku masih menggenggam surat untukmu. Bertambah hari hingga berganti tahun, surat itu masih tertahan di laci meja kerjaku. Aku tetap berharap kau bisa membacanya. Tapi kapan aku tak tahu. Alamatmu belum juga aku temukan. Entahlah…, sepertinya kau benar-benar menghilang.
“Apakah, kau yang ada dalam mimpiku?”
Tak ada jawaban. Hingga surat itupun ikut menghilang. Entah di mana. Aku tak tahu.***

BEREBUT BUMI PILIHAN

Ditulis oleh Mustaqiem Eska

Secara perlahan-lahan bumi terus-terusan dikapling-kapling oleh manusia. Sejak Adam hingga sekarang entah kapan proses pengkaplingan akan bumi itu berakhir, nyaris tak ada yang bisa menduga. Tuhan memang Super Maha Tangguh untuk menciptakan bumi dengan desain yang sangat Maha Luar biasa. Bahkan tidak ada setitik partikel sekecil apapun di bumi yang tak bernilai fungsi. Dari batuan yang berfraksi-fraksi seperti jauh di atas ukuran 40 – 63 mm, ke bawahnya 20 – 40 mm, 10 – 20 mm, 5 – 10 mm, 0 – 10 mm, dan seterusnya, tanah, lumpur, air, atau pasir hingga filler – lolos saringan 0.075 mm – bahkan yang jauh lebih halus dengan tujuh saringan di bawahnya lagi ; 20 µmº, atau kita sering menyebutnya dengan abu abunya abu terbang, semua tersusun bersatu membentuk kekuatan bumi ini hingga melahirkan jalan beraspal, bangunan berbeton seperti layaknya bendungan, tol, jembatan dan sebagainya. Bahkan hingga pada bagian bumi yang lain, jika manusia bersedia meminang dan pandai mengolahnya, tanah-tanah itu sudah dipastikan akan melahirkan jutaan-jutaan trilyun kesuburan. Atau kalau Tuhan memberikan bocoran istilah kepada manusia menyebutnya dengan : Keberkahan.
Keberkahan bumi pilihan ini atas keMaha AdilanNya sudah dibagi-bagikan kepada manusia dengan menjadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa hakikatnya tanpa pilih kasih. Masing-masing sudah dihitung dan dipertimbangkan-Nya sesuai dengan kadar kesanggupan dan kesediaan manusia itu sendiri. Tuhan sama sekali tidak menginginkan untuk membebani nasib manusia untuk sengsara dan terlunta-lunta tanpa kehormatan. Bahkan KTP untuk setiap manusia dari Tuhan semua dibuat sama merata nyaris tidak ada perbedaan. Semua berjudul sama : “Bahwa kamu Aku ciptakan adalah sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi”. Dan tugas setiap manusia berikutnya yang diembankan Tuhan pun tak ada yang berbeda : “Khairunnas Anfa’uhum Linnas”- sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia. Tapi kenapa lantas manusia menjadi berklas-klas, berstrata dan merasa berbeda-beda? Padahal porsi akal dan pikiran yang dituangkan Tuhan untuk manusia berfungsi sama ? Ini adalah karena Kesanggupan menfungsikan akal dan pikiran dari masing-masing individu manusia itu berbeda kadar nilai guna dan implementasinya. Bagi yang pandai mengembangkannya, ia akan membentuk manusia luhur dan berfungsi cipta. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga alam di sekitarnya. Begitu bagi yang tak pandai menangkapnya, ia akan tetap menjadi manusia lemah-rendah dan tak berguna. Sangat tepat Tuhan mengandaikan manusia yang tak berkehendak memanfungsikan peran akalnya dengan baik adalah diibaratkan laksana hewan, bahkan lebih rendah dari hewan. Korelasi perbandingannya jelas, manusia dianugerahi Tuhan dengan akal yang tentu seharusnya jauh berilmu pengetahuan dalam mengolah alam semesta, sementara hewan tak berakal, maka ia berkehendak sesuai dengan naluri kebinatangannya semata, tanpa hukum dan aturan. Jadi kalau manusia sederajat dengan hewan hakikatnya adalah baladulluhum.
Seiring dengan perjalanan waktu, sejarah terus mengukir pembuktian bahwa manusia terus haus dengan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik cinta, kepuasan, kesenangan, keserakahan dalam sandang, pangan dan papan. Awalnya, Adam dan Hawa memang sangat leluasa menghuni bumi semesta, tak ada yang lain selain keduanya. Hingga lahirlah pemenuhan cinta untuk pertama kalinya yang mengantarkan keduanya berbelai kasih, merindu, dan menginginkan kemewahan keturunan untuk keduanya. Hingga lahirlah Habil dan Qobil. Terlalu luas bumi semesta hadiah Tuhan untuk keduanya. Sekenario kehidupan manusia di bumi pilihan, oleh Tuhan memang didesain dan diformat sedemikian rupa. Agar berlindung dari panas dan hujan Adam mulai berhitung untuk membangun rumah, mulailailah ia melakukan sejarah pengkaplingan bumi pilihan yang pertama kali. Satu dirak dua dirak dan seterusnya, sejengkal demi sejengkal dan seterusnya, sedepa demi sedepa dan seterusnya hingga orang-orang anak keturunan Adam menemukan standar ukuran berikutnya dengan meter, kilometer, centimeter, millimeter, micron dan yang lain.
Layaknya air, pengkaplingan-pengkaplingan terus merambat nyaris memenuhi bumi. Berjuta-juta orang mulai merasa mulai kehilangan keleluasaan dalam mendapatkan jatah kapling. Masing-masing kapling mulai diserifikat. Lantas mereka mengembangkannya dengan bangunan dan rumah-rumah megah, kebun-kebun berbuah, hingga area-area rekreasi, lapangan golf, dan perumahan-perumahan. Tak berhenti, manusia terus bertambah, otomatis, pemenuhan akan tanah pilihan pun terus bergerak melebar. Batas wilayah mulai dibuat line, antar desa antar kampung mulai dibuat gardu perbatasan, antar kota antar pulau mulai di buat jarak dengan suku, bahkan antar Negara mulai juga dibatasi dengan passport. Hingga manusia mulai sempit bergerak di bumi. Karena untuk memenuhi keinginan yang banyak mereka harus membayar dengan harga yang semakin mahal. Di bumi, nyaris tidak ada yang gratis. Bahkan di bawah guyuran jeram genung nan jernih, ramai orang-orang memperdagangkan air. Padahal dahulu, orang-orang kalau minum, cukup dengan air kendi yang langsung diambil dari sumur.
Ingat tentang kisah sejarah Majapahit, bagaimana Gajah Mada juga melakukan penundukan-penundukan dan perampasan-perampasan bumi pilihan dengan dalih politik nusantara. Atau pada sejarah penjajahan, betapa Belanda dan Jepang begitu antusias untuk memperkosa Indonesia. Tak ketinggalan Malaysia dan Indonesia menjadi sempat bergesekan karena saling klaim ambalat. Atau kejadian sebelumnya, Timor-timor melepaskan diri dari cengkeraman nusantara adalah juga karena pada dasarnya menginginkan kekuasaan atas kaplingan bumi pilihan. Semuanya ditempuh dengan harga yang mahal hingga darah dan nyawa. Pembunuhan dan tipu-tipu muslihat mulai terus merambat seperti menggergaji bumi. Antar manusia mulai saling tuding, saling curiga dan saling mempertahankan diri. Mulai untuk menjaga diri dan kehormatan, di rumah-rumah mereka mulai dipersenjatai dengan security, anjing-anjing penggonggong hingga kawat-kawat berlistrik. Manusia-manusia semakin tidak malu-malu melakukan kebiasaan tikam menikam. Ghibah dan makan bangkai saudara sendiri sudah menjadi gizi di setiap pagi bagi pemuja entertainment. Bumi pilihan kian menyempit. Jakarta penuh sesak dengan manusia. Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, terus berjibun orang-orang berebut ke kota. Masing-masing berjuang mendapatkan jatah bumi pilihan. Kadar keinginan mereka meskipun berbeda tapi prinsipnya tetap sama. Masing-masing berkehendak untuk kejayaannya.
Hari itu, terlihat tetangga sebelah, saling ribut dan saling serang. Suara yang muncrat dari mulutnya menjadi dahsyat tak selembut sebelumnya. Matanya merah menikam. Kata-katanya saling mengumpat dan menyemburkan ejekan-ejekan. Semua terjadi, hanya gara-gara tetangga sebelahnya terlalu lebih mengkapling tanah kekuasaaannya, hingga masuk menggerogoti ½ meter tanah punya tetangga.
“Lihat batasnya di sertifikat!” teriak tetangga sebelah murka.
“Batukmu…, kamu juga lihat sertifikat” timpal tetangga satunya tak mau kalah.
Bumi pilihan yang dihamparkan Tuhan untuk manusia sebenarnya masih sangat jauh teramat luas kalau hanya untuk sekedar menampung semua makhluknya yang bernama manusia. Tapi manusia sendiri yang justru membuatnya sempit. Mereka tak bisa berbagi rata. Keinginan untuk mendapatkan jatah yang terbaik selalu memenuhi nafsunya. Bahkan mereka hanya berkerumun di satu sudut kota. Perhitungan akan keramaian dan demi kepentingan bisnis untuk timbunan keuntungan selalu menjadi alternative utama. Sementara di tempat lain, untuk tanah nusantara saja, di belahan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan yang lain, teramat luas masih bentangan bumi Tuhan yang masih tersia-sia. Bahkan jika berani mengolah, kesuburan dan kemolekannya jauh bisa mengalahkan Jakarta.
Bumi pilihan terus menjadi rebutan. Timbunan orang-orang pada satu sudut kota bisa diukur dari besaran nomor kependudukan. Hingga tidak aneh, jika di satu sudut kota itu bumi pilihan mulai lahir penindasan, perampokan,pencurian, pembegalan, atau perampasan. Ketidak nyamanan hidup di kota terus menggelinding menjegal setiap kepribadian. Orang-orang lantas mendindingi pagar rumahnya setebal-tebalnya dan setinggi-tingginya. Kecurigaan antar tetangga di komplek-komplek perumahan mulai seperti kerajaan-kerajaan kecil. Semakin menyempit tingkat silaturrakhmi, hingga nama tetangga rumah sebelah sudah tidak kenal lagi. Masing-masing tinggal tersisa “say hello” bahkan nyaris sirna.
Di sinilah, di sebelah sudut kota yang jomplang dengan manusia, keramaiannya mulai menyempit menjadi keterasingan di kampung sendiri. Tak ada srawung dan tegur sapa. Masing-masing berlomba dan berebut untuk kepuasan pribadi. Keinginan untuk menjadi diri sendiri membesi, keras dan berkarat. Hingga sampai pada ujung waktunya. Saat Tuhan benar-benar memanggil kembali manusia satu-persatu untuk kembali kepadaNya. Hanya bisa didapatkan, bahwa yang siap menggali lobang kuburnya hanya satu orang, yang siap memandikannya hanya tiga orang, yang siap mengkafani hanya satu orang, yang siap menyolati hanya satu orang dan yang siap mengantarkan ke kuburan hanya lima orang. Dan mereka semua juga adalah keluarganya sendiri. Sampai tercapai kesendiriannya yang sebenarnya. Di dalam timbunan tanah itu; Sendiri !*** (mustaqiem eska/Karebbe Hydroelectric Project-Malili-Sulsel,25/7/09).

Aku mau disana

by: friday


sudah seminggu aku memandangi anak itu asyik saja mengangkat batu, mengocok semen, naik ke genteng dengan tangga, dan lain sebagainya dengan wajah riang dan tanpa beban
Aku yang asyik memperhatikan dari dalam rumah, merasa tersentuh dan tak dapat berkata-kata selain sangat prihatin memandangi dia dengan diam-diam. Rasanya aku ingin bertanya, mengapa jam sekolah seperti ini dia membantu bapaknya mengerjakan rumah kami yang sedang mengadakan rehab kecil-kecilan?. mengapa anak itu tidak di ruang kelasnya? Aku menduga-duga anak ini pasti berumur sekitar sepuluh tahunan.
Suatu sore sesudah selesai bekerja dari hari senin sampai hari sabtu, rasa penasaranku semakin tinggi. Aku memberikan upah mingguan bapaknya dan tidak memberikan apapun kecuali makan siang untuk anaknya. Karena aku merasa tidak pernah meminta anak itu untuk datang dan membantu bapaknya
"Ini ya pak, uang mingguannya, dipotong pinjaman bapak selama seminggu" aku berkata kepada bapak itu sambil memberikan kuitansi tanda terima upah kerja.
Bapak tua itu menerima dengan senang hati setelah membersihkan tanggannya yang kotor di bawah kran di tembok kami
"Pak ngomong-ngomong kenapa anak bapak ikut kerja, apa dia tidak sekolah?" tanyaku sambil menerima kuitansi yang sudah ditandatangani
"Oh, iya bu, soalnya tenaga saya kan sudah kurang, trus dia juga gak sekolah, jadi saya suruh bantu saya saja bu" katanya sambil tersenyum memandang kepada anak itu
"Loh, kenapa tidak sekolah?" tanyaku penasaran. "Masak anak seumur ini tidak sekolah pak, kan sekarang bayaran sudah murah dan wajib belajar sembilan tahun?'
"Murah sih, murah bu, tapi beli bajunya, beli bukunya, beli sepatunya, wah masih banyak pengeluaran bu,..." Dia garuk-garuk kepala
"Anak saya banyak bu ada delapan orang, jadi kakak-kakaknya yang sudah sekolah aja biar bisa nerusin, trus adiknya minta sekolah, nah dia mau ngalah, ya sudah dia bilang mau bantu bapak aja.... anak ini sudah tiga tahun bu gak sekolah" katanya sambil merapikan perlengakapan kerja didekatnya
"Wah jangan gitu to pak, anak anak harus diusahakan sekolah pak" kataku sambil duduk dikursi teras
"Ya iya bu, maunya sih begitu, tapi apa boleh buat, belum ada duitnya bu.." bapak itu kembali memasukkan barang-barangnya yang dipakai kedalam ransel tuanya.
"ayo kita pulang dul, bilang trimakasih sama ibu" bapak tua itu memberi kode kepada anaknya
"Trimakasih bu.." Dia menyapaku dan tersenyum
Ketika mereka akan keluar pagar, hatiku sangat tersentuh dan gelisah. Bayanganku tentang anak ini agar masuk sekolah semakit terlihat jelas. Aku harus mengatakan sesuatu
"Eh dul, kamu mau sekolah?" tanyaku kepadanya. Tiba-tiba dia terdiam dan menengok kepada bapaknya yang kelihatan capek.
"Mau?" tanyaku lagi. Dia kelihatan bingung. Sejenak dia memandangiku dan kembali memandangi bapaknya.
"Mau sih bu, tapi kata bapak kapan-kapan diterusin sekolahnya"
"Memangnya kamu berhenti kelas berapa?" Aku bertanya penasaran
"Kelas empat naik kekelas lima bu" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal
"Begini dul, kalau kamu memang niat mau sekolah, mau nggak kita sama-sama membantu?" tanyaku sambil tersenyum. Aku merasa inilah jalan terbaik yang harus kutawarkan kepadanya
"Mau bu!" tanpa sadar suaranya agak keras sambil tersenyum
"Oh bagus dul, jadi kalau kamu mau ibu bantu, maka kamu juga harus bantu ibu dirumah... kamu tinggal disini bersama kami dan anak-anak ibu, nah kamu bantu ibu bersih-bersih rumah atau cuci mobil, nanti yang lain si mbok bisa kerjakan, jadi ibu tidak usah pakai dua pembantu, cukup kamu saja ikut ibu, sambil kita cari sekolah siang...bagaiman?" tanyaku kepadanya yang serius mendengarkanku
Sejenak terasa hening. Aku melihat ada cahaya di wajahnya yang lelah. Dia tersenyum kepada bapaknya.
"Bagaimana dul? kamu mau tinggal dirumah ibu Ida?" tanya bapaknya sambil terus memandangi anaknya yang kelihatan terharu.
"Iya pak, aku mau....tapi kan rapotku kebawa banjir" katanya perlahan kemudian terlihat ada kekhawatiran di wajahnya
"Oh, kalau rapotmu terbawa banjir, nanti kita lapor ya nak, kita bisa kesekolahmu yang lama, atau ke kantor yang bisa bantu kamu ya" Aku meyakinkan anak itu dan wajahnya kembali berseri.
Mereka meninggalkan aku dengan sikap yang berbeda dari biasanya. Nuansa sore itu terlihat indah meskipun hari semakin larut.
Beberapa hari kemudian, anak itu datang tanpa membawa peralatan kerja, karena memang tidak ada lagi yang perlu diperbaiki di rumah kami. Aku melihat mereka mengangkat tas, sepatu dan sendal yang mulai robek dan duduk di teras rumah kami.
"Wah sudah siap mau sekolah?" gurauku kepada mereka.
"Sudah bu, wong dia nggak bisa tidur hanya memikirkan mau sekolah katanya... tuh, bukunya yang sudah kumal juga semua dibawa bu..."
"wah, semangat mau sekolah ya... nah, sekarang kamu taruh dikamar yang sudah disediakn si mbok, besok kita cari sekolah disekitar sini, kita sama-sama mendaftar ya dul..." kataku sambil duduk di dekat dia.
"Trimakasih bu... sekolah saya yang dulu dekat kok disini, sekolah negeri, dan teman-teman saya yang dibawah saya juga masih disitu..." katanya sambil mengusap-usap tasnya.
"Oh bagus itu... kita besok kesekolahmu dulu ya... ayo pak diantar anaknya kekamar..." Aku meninggalkan mereka karena akan kepasar didekat rumahku
Kami sudah berada di sekolahnya yang lama sambil menunggu kepada sekolah keluar.Sementara kami menunggu, dul melompat kedalam dan memperhatikan teman-temannya yang dulu dibawahnya mengerjakan tugas. Anak itu sangat ingin tahu akan pelajaran yang dikerjakan teman-temannya. Ibu guru yang sedang mengajar kaget karena ia masuk begitu saja. Aku ingin melarang dul dan memintanya keluar, tapi guru itu kelihatan senang karena memandangi dul yang tiba-tiba ikut duduk dimeja temannya sambil mengikut pelajaran.
Aku tertegun...betapa tingginya semangat anak itu...
Sejenak tiba-tiba datang Kepala Sekolah menghampiriku diikuti beberapa guru disampingnya. Aku diajak keruangannya yang sederhana dan dipersilakan duduk bersama guru-guru yang lain.
"Ibu...kami sangat berterima kasih kepada ibu, yang sangat mendukung dul untuk bersekolah lagi..." Aku terkejut, karena ibu itu sudah mengetahui kedatangan kami
" Dul itu tetangga saya, dan orangtuanya sudah menceritakan kepada saya apa yang diinginkan dul selama ini. Sekarang anak itu pasti kami bantu....Terlebih, karena ibu saja yang berbeda agama, mau membantu anak itu,apalagi keluarga itu sangat sederhana... maka apalagi kami, akan mempermudah agar dia kembali sekolah, karena anak itu sangat pintar.... karena anak itu selalu berkata...aku mau disana, bukan disini...sambil dia menunjuk kesekolah kami ibu..." Aku terharu mendengar perkataan ibu kepala sekolah tersebut
"Ibu, kita saling membantu bukan harus memandang agama...tapi karena mereka adalah calon pemimpin dinegara kita ini..." jawabku
"Baiklah ibu, kita bantulah anak itu...anak yang punya cita-cita" Kataku sambil melangkah pulang dengan sukacita dihatiku. Aku berkata dalam hati, suatu saat ia akan menjadi salah satu orang penting! paling tidak dilingkukangannya fikirku..Ada kegembiraan dihati ini

Sabtu, 18 Juli 2009

Saat Matahari...

by: fitrawan umar

Terik. Panas. Debu. Itu yang harus kulalui setiap hari. Beranjak dari gubuk mulai pagi. Seterusnya hingga menjelang petang. Hidup memang penuh liku. Ada saja tikungan tajam yang mengahadang. Ada saja duri-duri dan kerikil tajam yang harus ditapaki. Seperti itu pula yang harus kujalani di jalanan ini. Bermodalkan mangkuk kecil, kubuang muka yang ada.O, kasihan anakku yang harus kubawa di kehidupan yang kejam ini. Maafkan aku nak. Apa lagi yang bisa kulakukan. Hanya ini yang bisa menghidupi kita. Ku tahu kau kepanasan. Tahanlah nak, ini tak lama.“Pak, .....”Hanya itu yang sering kuucapkan ke pengendara yang lewat di bawah lampu lalu lintas sembari mengajukan mangkuk kecil yang kupegang. Malu harus bilang apa, selain terima kasih kepada mereka yang kasihan melihatku.“Ini seribu, sana..sana....”Meski sakit terasa, kupasrah saja. Itu sudah sering kudengar. Ku tahu ia jijik melihatku.“Hei Bu, kerja dong.....jangan minta-minta melulu. Dasar pemalas.”“Orang seperti itu jangan dikasih uang, nanti tambah malas. Itu tidak mendidik.”Ku tahu, benar apa yang mereka katakan. Tidak mendidik memberi uang kepada pengemis sepertiku. Benar akan membuat orang semakin malas. Tapi kumohon, itu tidak denganku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Benar, tak tahu apa yang harus kulakukan. Tuhan, hanya Engkau yang tahu apa yang harus kulakukan.Oh, anakku. Aku hanya bisa menutupi mata dan telinganya agar tidak ikut melihat wajah-wajah jijik yang memandangku. Bentakan-bentakan yang menghinaku. Tidurlah saja nak. Seribu rupiah lagi yang harus ibu cari untuk makan kita pagi ini. Berdoalah nak. Semoga ada yang ikhlas memberi kita sisa rezekinya. Tahanlah nak, ini tak lama.***Ibu. Sampai kapan kita begini. Sampai kapan kita dipanggang matahari setiap hari...Bukan ku bermaksud menyalahi takdir ibu. Bukan pula ku menyalahkan ibu yang membawaku di buruknya kondisi seperti ini. Aku hanya kasihan padanya. Meski ia berusaha menutupinya, ku tahu ibu tidak tahan dengan perlakuan orang-orang. Aku menyesal harus membuat ibu susah payah begini. Yang ia lakukan semata untuk membesarkanku.Kalau perutku lapar, aku berusaha menahan tangis. Sekuat tenaga, aku tak ingin ibu mengkhawatirkanku. Tak ingin ibu cemas. Peluh keringat di wajahnya, membuatku tak sanggup mengeluh perih kosongnya lambungku. Cukup senyum ibu yang menguatkanku.Andai ibu mau, aku juga bisa membantunya. Toh, pernah kulihat anak sepertiku bekerja seperti ibu. Minimal untuk membuatku bisa makan. Dan ibu pun tenang. Tapi ibu tidak mau. Aku tak boleh bekerja seperti itu. Itu hanya pekerjaan orang-orang malas dan yang memang tidak bisa lagi bekerja. Tapi aku tidak setuju. Ibu bukan orang pemalas. Setiap selesai shalat shubuh, ia segera menggendongku menuju tempat ini. Di bawah lampu lalu lintas. Berkilo-kilo jauhnya.Aduh, aku mulai tak tahan dengan laparku. Perutku terasa terkoyak-koyak. Kucoba tegar sekuat hati. Biasanya aku berusaha untuk tidur untuk melupakan sakit ini. Kali ini tidak. Tidur pun aku tak bisa. Oh, anak seusiaku masih sulit menahan derita seperti ini. Maafkan aku ibu. Aku menangis.***“Sabar ya sayang.....sebentar lagi kita makan.....”Oh, Tuhan...rahmatilah kami. Kasihanilah anakku. Kalau sudah begini, aku semakin aktif meminta belas kasihan. Semakin sakit pula hati ini.“Maaf Pak.........anak saya belum makan, kasihani kami..”“Hei, kau tidak baca spanduk di sana.” Bentak istrinyaJANGAN MEMBERI UANG DI JALANANBerkali-kali kubaca spanduk itu. Pak Gubernur yang menginstruksikannya. Memang, sekali lagi kuakui aku salah. Tapi aku tak peduli dengan spanduk itu. Peduli apa gubernur dengan orang sepertiku. Melarang orang meminta-minta di jalanan, tapi tidak memberi solusi yang pasti.Dulu pernah aku diamankan. Katanya untuk diberi keterampilan. Tapi apa? Hanya celaan yang kudapatkan. Meskipun nantinya aku punya keterampilan, siapa yang mau beli hasilnya? Atau siapa yang ingin mempekerjakanku? Mereka jijik melihatku.Ya, ini yang harus kukatakan. Aku menderita kusta. Penyakit yang paling dibenci kebanyakan orang. Setiap langkahku, dijauhi orang. Pandangan yang mengarah padaku adalah pandangan muak. Jijik. Entahlah. Aku bagaikan terisolasi sendiri dalam luasnya dunia. Kehadiranku menggelisahkan banyak orang. Orang senang jika aku pergi.Pernah, di awal-awal menjalani pekerjaan ini, aku selalu naik angkutan umum menuju tempat ini. Aku sisihkan dua ribu rupiah tiap hari untuk naik angkutan esoknya. Tapi kemudian, perlahan aku mulai dikenal sebagai orang berpenyakitan. Orang-orang mulai risih jika aku duduk di dekatnya. Hingga tak ada lagi supir yang mau mengangkutku. Akhirnya jalan yang berkilo-kilo ini harus kutempuh dengan berjalan kaki.Hal-hal seperti itu tentu wajar untuk dimaklumi. Tak ada yang mau ditulari penyakit seperti ini. Tapi, mereka lupa, penyakit TBC justru jauh lebih berbahaya dan sangat mudah menular. Bersin dan batuk sedikit, penyakit itu bisa dengan mudah menular ke orang lain. Mengapa mereka tidak menjauhinya. Atau mengapa orang yang mengidap penyakit AIDS dikampanyekan untuk tidak dikucilkan. Bukankah penyakit itu adalah azab dan bencana akibat perbuatan biadab mereka. Lalu aku? Dosakah ini? Percuma!Suamiku pergi entah kemana. Menghilang. Tak ada yang ditinggalkan untuk istri dan anak-anaknya. Tak ada harta sepersen pun. Inilah beban hidup yang harus kujalani.Oh, anakku masih tersedu-sedu. Bisa kurasakan betapa perihnya yang ia alami. Tubuhnya semakin kurus saja. Aku merasa berdosa. Seharusnya ia sekarang tengah bermain-main dengan anak seusianya. Bahkan merasakan indahnya taman kanak-kanak, belajar sambil bermain. Tapi aku tak bisa itu. Anakku terpaksa kubawa di tempat peraduan ini.“Dek, kasihan anakku belum makan...” lirihku pada anak muda yang berseragam putih abu-abu itu. Wajahnya berseri. Bercahaya. Seolah tak ada penderitaan yang pernah ia rasakan. Beda denganku, kusut.“Ini Bu, ini untuk makan ibu dan anaknya ya...” Syukurlah ya Allah, alhamdulillah akhirnya anakku bisa juga makan hari ini. “Dan ini untuk besok. Minimallah besok ibu tidak mengemis lagi sehari.” Lanjutnya lagi.Alangkah indahnya manusia seperti itu. Aku bahkan malu pada diriku, hanya bisa memanfaatkan kebaikan orang lain.***Alhamdulillah. Akhirnya ibu membelikanku juga makanan. Nasi putih dan ikan. Itulah makananan kami sehari-hari. Saat-saat makan kuanggap anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Betapa nikmatnya. Perut yang tadinya meronta-ronta terisi satu per satu nasi. Ya, akhirnya.Kulihat wajah ibu. Peluh keringat masih menempel di wajahnya. Dengan lahap ia menikmati menu makanannya. Aku bisa merasakan kebahagiaan di matanya. Aku tak pernah tahu mengapa ibu hidup seperti ini. Yang kutahu ibu hanya mempunyai penyakit sedikit di tangan kirinya. Semenjak ayah pergi, ibu tak pernah lagi mengobati penyakitnya itu.Huh, sejauh ini yang kunamai hidup adalah bagaimana kita bisa makan setiap hari. Apalagi. Sudah terlalu beruntung kalau kami makan dua kali sehari. Biasanya cuma sekali sehari. Di saat matahari tepat di atas kami..
Makassar, 8 Februari 2009

One days left

by: srisulistiana


"Lebih, baik kita cerai saja!!!!!
”“ DEEENG ” Kepalaku terasa kosong mendengar perkataan ayah itu, Akhirnya pertengkaran panjang ini akan segera berakhir, jujur aku sedikit lega mendengar keputusan papa itu mungkin cerai adalah pilihan yang terbaik untuk kami. Papa, mama dan aku. Aku bosan setiap pagi harus mendengar teriakan pertengkaran mereka, aku bosan setiap pulang sekolah mendapati mereka sedang bertengkar hebat dan melampiaskan pada banyak barang elektronik di rumah, terlebih lagi saat malam hari sehingga membuatku sulit memejamkan mata dan ujung – ujungnya aku sering terlambat ke sekolah. “ Dinda!”Aku menoleh, saat itu aku berniat mencari udara segar di luar, sebab bagiku udara di rumah ini sudah terkontaminasi dengan hawa kebencian dan kemarahan sehingga membuatku pengap. “ Ada apa” Jawabku singkat, padat dan jelas “ Mama dan papa memutuskan untuk…..” “ Aku tau, Jadi sekarang mau kalian apa?” “ Kamu harus pilih, antara mama dan papa, kamu mau ikut sama siapa?”Mataku terbelalak, aku sama sekali tidak menduga sebelumnya akan muncul pertanyaan seperti ini. Aku harus menjawab apa? Aku bingung? Walau bagaimana pun mereka adalah orang tuaku, kalau harus memilih harus tinggal sama siapa aku mendingan tidak tinggal dengan kedua duanya. “ Aku tidak bisa,” Jawabku memecah kehenian “ Maksud kamu apa, nak?” Tanya papa, wajahnya kelihatan bingung“ Kalau harus memilih seperti ini, aku tidak bisa. Aku lebih baik tinggal sama nenek,” Jelasku lagi, lalu segera pergi dari hadapan mereka berdua.………………………….Hari ini, aku berada di sidang orang tuaku.Aku sedih karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka. Begitu palu hakim itu diketuk aku akan resmi menjadi anak yatim piatu tanpa mama dan papa. “ Dinda, kamu beneran tidak mau memilih salah satu di antara kami?” Tanya mama begitu sidang telah selesai. Wajahnya terlihat cemas.“ Ma, dinda tidak mau mengganggu mama dan papa lagi. Kalau tidak ada dinda, mama dan papa kan bisa membuat keluarga yang baru, yang lebih bahagia. Iya kan?”Mama menunduk, mungkin kata – kataku terlalu keras baginya. Tapi, akhirnya dia bisa menerima. Dan akhirnya aku benar – benar terpisah dengan mereka. Untuk terakhir kalinya, mama, papa, dan aku pergi ke rumah nenek yang berada di desa. Sebenarnya aku merasa senang, entah sudah berapa lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Walaupun yang terakhir, tapi aku senang bisa berkumpul dengan mereka. Kira – kira 3 jam berlalu sejak aku berangkat dari kota, kini aku telah berada di sebuah desa kecil yang indah. Hmm, pemandangan desa ini sangat indah. Waktu kecil aku pernah kesini dan aku tidak menyangka desa nya tetap seperti dulu. Tidak berubah. “ Nak, Mama..sudah bicara dengan nenek..Katanya, kamu boleh tinggal disini,” Mama tiba – tiba muncul di belakangku.Aku menoleh tapi tidak menjawab satu kata pun. Aku hanya diam menatap mama. “ Nak, kamu benar – benar yakin dengan keputusanmu?”“ Ma, aku yakin. Lagian kasian nenek, dia kan sudah tua. Kasihan kan kalau dia tinggal sendiri,”Kali ini mama tidak mendesakku lagi. Dia menatapku dengan tatapan sedih dan penuh pengharapan, mungkin dia masih berharap kalau aku aku ikut dengannya. “ Nak, mama pergi dulu. Kamu jaga diri baik – baik ya?”Aku tidak kuasa menahan air mata ini. Tapi, aku tidak mau menangis di depan mama, Aku tidak mau kelihatan seperti anak yang cengeng, aku harus kuat. Aku harus siap menghadapi kehidupan baruku disini.……………………………….. 1 tahun sudah aku tinggal didesa ini. Dan aku sama sekali tidak betah tinggal disini. Nenek yang selalu mengaturku seperti anak tk, teman – teman sekolah yang selalu ingin tau urusanku, bahkan seorang cowok tetangga yang selalu membuntuti ku kemanapun aku pergi. Jujur Aku tidak suka disini!. “ Nak, kamu mau pergi kemana?” Tanya nenekAku tidak menjawab. Aku bosan menjawab pertanyaan yang sama terus setiap hari. Apa nenek tidak melihat aku memakai seragam sekolah. Disekolah pun keadaan tidak lebih baik dari di rumah. Teman – teman selalu berusaha mendekatiku. Dan selalu ingin tau urusanku. Apa mereka tidak lihat aku ingin sendiri. “ Din, kamu mau tidak ikut dengan kami ke rumah fena,” Tanya anak berpenampilan cupu bernama astuti. “ Tidak, Lagian untuk apa juga aku kesana,” “ Begini din, Fena baru aja beli telpon genggam baru di kota. Dan dia ingin mmperlihatkannya pada kita,” Anak lain yang bernama ani melanjutkan.“ Kuno banget sih kalian, hp baru aja dipamer,” Aku langsung pergi meninggalkan mereka yang masih menatapku dengan tatapan antara kecewa dan sedih.Bel pulang sekolah berbunyi. Inilah saat yang aku tunggu – tunggu. Rasanya tidak tahan kalau terus berada bersama sekumpulan orang – orang cupu ini.Saat pulang sekolah aku tidak langsung pulang kerumah, aku selalu mampir ke danau yag berada di ujung desa. Mungkin, danau inilah satu – satunya tempat terkeren di desa ini. “ Ma, pa.. Kenapa kalian tidak pernah menghubungiku. Apa kalian sudah punya keluarga baru, apa kalian sudah lupa sama aku,” Tanpa terasa air mataku menetes.Aku tidak tahan kalau harus terus hidup di desa ini. Bisa – bisa aku menjadi orang cupu seperti mereka. Disini, aku benar – benar terisolasi dari dunia luar. Aku tidak tau perkembangan dunia diluar sana. Disini, aku bahkan tidak tau hp keluaran terbaru. “ Hey, melamun aja ni,”Aku menoleh, melihat seorang cowok berpakaian sederhana di belakangku. Dia lagi – dia lagi, apa tidak bosan selalu membuntuti aku. “ Mau apa?” “ Kamu ini kok pemarah sekali sih, Aku hanya mau berteman sama kamu,” “ APA?”Tidak.tidak, aku tidak boleh punya teman dari desa ini. Nanti aku ketularan deh ama mereka. Aku harus sabar, nanti kalau sudah tamat sekolah aku akan langsung pergi dari desa terpencil ini. “ Mau kan?” Tanya nya lagi. “ Oke, tapi kamu harus jawab dulu pertanyaanku,” “ Apa itu, pasti kujawab,” Jawabnya yakin. “ Apa hp yang paling terkenal sekarang? Apa laptop yang paling mahal sekarang? Siapa presiden Indonesia sekarang?”Cowok itu terdiam. Dia bingung. Ya, tuhan presiden sekarang saja dia tidak tau. Seterpencil inikah desa ini?“ Pertanyaan seperti ini saja kamu tidak bisa jawab, gimana bisa jadi temanku. Kalau kamu sudah dapat jawabannya baru aku mau mau jadi teman kamu,”Cowok itu terdiam. Dia menatapku dengan tatapan kecewa dan tiba – tiba langsung pergi meninggalkanku. Di rumah keadaan menjadi lebih buruk. Nenek langsung menjatuhi sejuta pertanyaan yang membuatku malas menjawabnya. “ Dari mana? Kok malam begini baru pulang?” “ Dari sekolah, tadi ada kegiatan makanya telat pulang,” Aku terpaksa berbohong. “ Kamu tidak bohong kan?” “ Tidak..Mana makanannya aku lapar!”Tempe, tahu, dan sagu. Makanan yang sama lagi. Jujur, disini aku makan nasi hanya sebulan sekali. Huh, gimana bisa sehat kalau Cuma makan sagu. Burung juga tidak mau makan makanan menjijikan ini. Tapi, daripada kelaparan. Aku terpaksa harus memakannya. Butuh perjuangan berat untuk menghabiskan sepiring makanan ini. Sebelum tidur, kuperhatikan ayat suci yang berada di di dinding – dinding kamar.Aku jadi malu pada diriku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak membaca ayat suci itu. Mungkin kehidupanku sekarang adalah balasan dari tuhan karena aku sudah lama melupakanNya.…………………….. “ Dinda, kamu tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi nenek ikut,”Selama ini aku sudah berpikir kalau nenek sudah pikun, tapi kali ini aku benar – benar yakin kalau nenek sudah benar – benar pikun. Gimana nih? Masa aku mau bawa nenek – nenek ke sekolah? “ Ta..tapi, nek,” “ Kamu pasti bohong, bilangnya mau sekolah, taunya pacaran iya kan?”Apa?. Nenek.. nenek, kenapa sih bisa punya pikiran seperti itu, lagian jangankan pacaran, berteman saja aku tidak mau sama orang di kampung ini. “ Nek, mana mungkin itu terjadi,”Cukup lama aku berdebat dengan nenek. Sampai akhirnya nenek yang menang. Dan sekarang aku benar – benar telah melakukan hal yang paling bodoh seumur hidupku. Membawa nenek – nenek ke sekolah. Tebak, siapa yang berani melakukan ini. “ O, pantesan aja dinda gak mau berteman sama kita, rupanya dia maunya temenan sama nenek – nenek,” Seru cowok berpenampilan super berantakan begitu aku memasuki kelas.Mendengar suara cowok itu, kontan seluruh kelas tertawa. Aku jadi ingat saat aku sekolah di kota dulu. Saat Ani membawa adiknya ke kelas, aku lah yang paling keras tertawa. Sekarang aku juga merasakannya. “ Ternyata orang sombong ini gemar sama nenek - nenek,” anak yang lain balas mengejekku. “ Di rumahku juga ada nenek – nenek lo, kalau kamu mau datanglah bermain dengannya,” lanjut anak yang lain.Suara tawa anak – anak itu menjadi lebih keras. Ya tuhan, aku malu sekali. Sekarang wajahku pasti sudah kayak kepiting rebus. Aku tidak tahan lagi. “ Hey, mau kemana kamu anak sombong, jangan tinggalin tuh teman kamu,”Aku tidak mau lagi disini, aku tidak tahan, desa ini memang bukan tempat untukku. Rasanya aku sudah tidak punya muka lagi untuk ke sekolah apalagi pulang ke rumah. Aku mau mati saja. “ Mati, ya. Lebih baik aku mati saja. Tidak ada lagi alasanku untuk hidup,”Kupercepat langkahku menuju ke tabib di desa ini. Aku mau minta racun, mungkin terlihat aneh, tapi, mungkin inilah keputusan yang terbaik untukku.……………………… “ Kamu yakin?” sang tabib mengeryutkan keningnya yang berwarna putih. “ Iya, pak. Aku sudah tidak tahan lagi hidup di dunia ini,”Sejenak tabib itu terdiam. Lalu kemudian dia tersenyum, “ Baiklah,”Tabib itu memberikan sebuah ramuan aneh. Katanya kalau aku minum obat itu, aku hanya akan bertahan hidup 1 hari. Awalnya aku sedikit ragu. Tapi, mengingat perlakuan teman – temanku tadi rasanya aku ingin cepat – cepat meneguk obat itu. “ minumlah obat itu nanti malam sebelum tidur, dan waktu hidupmu hanya tinggal 1 hari,” “ Baik, pak,”Setelah mengucapkan terima kasih aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Untung saja tabib itu tidak meminta bayaran sepeser pun. Karena kalaupun dia minta bayaran, aku juga tidak punya uang untuk membayarnya. Di perjalanan pulang, aku bertemu lagi sama cowok aneh yang suka mengikutiku itu. Wajahnya terihat penuh kemenangan saat menghampiriku. “ Hey, aku sudah tau jawabannya,” sahutnya sambil nyengir. “ Jawaban apa?,” tanyaku bingung. “ Itu, pertanyaan mu yang kemarin. Aku bisa jawab sekarang,”Orang ini benar – benar aneh. Apa dia tidak tau kalau pertanyaan yang kemarin itu hanya sekedar penolakan secara halus. “ maaf,” sahutku ketus “ aku tidak punya waktu, lebih baik simpan jawaban itu untuk dirimu sendiri!,”Aku pergi meninggalkannya. Untung saja kali ini dia tidak mengikutiku. Mungkin dia sudah menyerah. Baguslah, biar sisa hidupku ini aman tanpa dia.…………………… Sudah malam, hari ini untuk pertama kalinya nenek tidak bicara satu kata pun padaku. Apa nenek merasa bersalah ?. Huhh, kasihan nenek. Kalau aku meninggal, dia akan sendirian lagi. Sudah ah, aku tidak boleh membatalkan niatku. Kuperhatikan botol kaca kecil di tanganku. Apa aku harus meminumnya?.“ TOK TOK TOK ” pintu diketuk saat aku hendak membuka tutup botol racun itu.Aku tidak menjawab, pura – pura tidur.“ Dinda, maafkan nenek. Ini semua nenek lakukan karena nenek sayang sama kamu,”Aku terdiam, benarkah apa yang dikatakan nenek?. Dia sayang sama aku, tapi bukannya tadi dia sudah membuatku malu dihadapan teman – teman. “ nek…” Sahutku pelan, memastikan nenek tidak ada lagi di depan pintu.Tidak ada jawaban. Sekarang aman. Aku bisa meminum racun ini sekarang. Kubuka utup botol itu, dan meneguknya perlahan –lahan. Seteguk, dua teguk dan akhirnya habis. Ukkhh, obat ini pahit sekali. Dan tiba – tiba aku merasa mengantuk……………………… Untuk pertama kalinya sagu terasa sangat nikmat bagiku. Mungkin karena inilah makanan terakhirku di dunia. Besok aku telah tiada. Rasanya sedih juga. “ Nak, kamu masih mau,” sahut nenek menawarkan semanguk penuh sagu. “ Tidak nek,” “ Nenek senang hari ini kamu sangat ceria, maafkan nenek atas kejadian kemarin ya?” “ Kemarin? Oh, aku udah lupain tuh. Oh iya nek aku pergi dulu ya ke sekolah”Aku menciumi tangan nenek, pertama kalinya kulakukan sejak aku tinggal disini. Seperti yang kuduga, teman – teman masih belum bisa melupakan kejadian yang kemarin. Mereka terus saja mengejekku. “ Teman – teman maafkan aku, mungkin selama ini aku sombong sama kalian. Maafkan aku,” Teriakku saat tawa teman – teman sekelas mulai menyeruak.Mereka langsung terdiam, menatapku tidak percaya. Aku senang akhirnya kuutarakan juga hal itu. Aku tidak mau mempunyai musuh saat aku meninggal nanti. “ Kamu. Beneran?” anak yang kemarin duluan mengejekku pertama bicara. “ Iya, aku.. aku ingin berteman dengan kalian semua sebelum aku ma….,”Uppps, hampir saja keceplosan. Aku tidak boleh mengatakan hal ini duluan, biarlah besok mereka mengetahuinya dari nenek. “ Ma. Apa?” Astuti bertanya “ Ma..manyesal,” sahutku berusaha menjawab “ Lho? Bukannya menyesal?” anak yang lain menimpali. “ I..iya, maksudku itu,”Anak – anak lain langsung tertawa mendengar jawabanku. Aku pun ikut tertawa, Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini sama teman – teman, rasanya menyenangkan sekali. Aku bahkan hampir lupa kalau aku akan meninggal besok. Sekolah usai, untuk pertama kalinya aku merasa waktu di sekolah sangat singkat. Hari ini benar – benar menyenangkan. Saat aku dalam perjalanan pulang, aku mendapati cowok aneh itu sedang duduk termenung di pinggir danau. Aku memutuskan menghampirinya. “ Hei!!,” sahutku sambil menepuk pundaknya.Ia menoleh. Wajahnya terlihat bingung dan terkejut saat menatapku. Sesekali di kucek – kuceknya matanya untuk memastikan. “ I..ini beneran kamu?” “ Kenapa sih, kayak aku ini artis saja,”Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya aku melihat senyumannya, cowok ini manis juga. Tidak kalah sama cowok – cowok di kota. “ Aku mau minta maaf,” “ Maaf ? Memangnya kamu salah apa?” Tanya nya bingung. “ Selama ini, aku sudah sombong sama kamu. Makanya aku..,” “ Oh.. aku udah lupain tuh, oh iya aku sudah tau jawaban dari pertanyaan mu,” “ Oh ya?” “ Hp termahal sekarang nokia, laptop termahal sekarang computer, dan presiden Indonesia sekarang SBY, iya kan?” “ Jawaban kamu hanya satu yang benar, hahahahaha,” “ Yaa, ayahku salah dong memberikan jawaban,”Kami berdua tertawa bersama. Lalu kemudian cowok itu terdiam dan menatapku. “ Hei, aku tau kamu memang cantik tapi kamu menjadi jauh lebih cantik kalau tertawa seperti itu,”Wajahku memerah, Aduh kenapa denganku. Jantungku berdegup kencang. Mungkinkah racun itu mulai bereaksi? “ Oh iya aku belum tau siapa namamu?” “ Aku Dinda,” “ Aku Rio, salam kenal,”……………………. Hari sudah malam. Aku mengambil air wudhu dan menjalankan sholat isya bareng nenek. Aku sudah lupa cara wudhu dan gerakan sholat, tapi dengan sabar nenek mengajariku. Aku tidak tau, kalau sholat dapat membuat jiwaku setenang ini. “ Ya, tuhan..Terima kasih telah memberikan hari terakhir yang indah untukku, tapi tuhan kalau aku boleh memohon, bolehkah aku tetap hidup besok dan seterusnya. Aku tidak ingin mati ya tuhan, aku ingin terus hidup menemani nenek dan memperbaiki kehidupanku yang dulu,” Sahutku dalam hati.Setelah sholat, aku mencium tangan nenek dan beranjak ke kamarku. Sebelum tidur, bayangan akan kejadian hari in teringat lagi olehku. Kenapa, perasaan bahagia ini menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Ya tuhan, semoga besok aku masih bisa merasakan kebahagiaan ini, amin!………………….. Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan segar. Lho? Aku masih hidup? Kok bisa?. Rasanya tidak percaya kalau aku masih melihat dunia ini. “ Dinda, sarapan sudah siap. Kamu mau tidur sampai kapan?” teriakan nenek membuatku benar – benar yakin kalau ini bukan mimpi. Ini nyata! Aku masih hidup!Hatiku terus bertanya – Tanya mengapa racun itu tidak bekerja? Untuk menuntaskan rasa penasaran ini aku kembali mengunjungi rumah tabib itu. Aku terpaksa membolos. “ Apa? Jadi itu bukan racun?” “ Iya, itu hanya obat herbal biasa,” ujar tabib itu “ Kok bisa,” “ Kurasa kamu tau jawabannya,”Otakku menimbang – menimbang perkataan kakek itu, dalam hati aku bersyukur kalau aku belum mati. Aku bersyukur, aku masih bisa merasakan indahnya kehidupanku sekarang. Kakek ini benar, coba kalau dia berikan aku racun beneran aku pasti akan mati sia – sia. Bukannya bunuh diri itu dosa? “ Terima kasih kek, sekali lagi terima kasih,” “ Mulai sekarang kamu harus lebih menghargai hidup,” “ Iya,” Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu, hidupku benar – benar berubah sekarang. Teman – temanku sangat baik padaku, Nenek sangat sayang padaku, dan hal yang paling membuatku bahagia adalah papa dan mama rujuk lagi, dan mereka kembali mengajakku untuk tinggal bersama mereka, tetapi aku tidak bisa menerimanya karena… “ Kalau kamu mau pergi, pergilah! Bukannya itu yang sangat kamu impikan,” “ Tapi,”“ Jangan khawatir, nanti kalau udah lulus sma aku bakal ke Jakarta buat lanjutin sekolah,” Ujar rio sambil tersenyum “ baiklah, tapi kamu janji ya,” “ Iya, aku janji,”Aku memutuskan untuk balik lagi ke kota. Rasanya sedih juga harus meninggalkan tempat ini. Tempat yang mengajariku cara untuk lebih menghargai hidup. Tapi, aku juga senang bisa berkumpul lagi sama mama dan papa. Kupikir selama ini mereka melupakanku. Ternyata, pengalaman itu memang guru yang terbaik. Ia mengajariku ujian terlebih dahulu baru kemudian pelajarannya..

Selasa, 12 Mei 2009

WAJAH DUA RAHIM

Pagi terus saja menyeret matahari yang bulat. Cahaya keemasan berpijar makin memanas membungkus tubuh Dewantoro yang tegak menghadap tiang bendera Merah-Putih, persis di tengah halaman sekolah SMP. Tangan kanannya nampak masih bertahan memberi hormat kepada bendera yang terus saja berkibar dengan gagah, bahkan seakan terus mengejeknya. Keringat Dewantoro mulai bergulung berjatuhan dari dahinya yang licin dengan menyimpan rasa malu.
Sampai lima belas menit kemudian, ibu Rahmi, guru wali kelas Dewantoro, menghentikan hukuman atasnya.
“Bagaimana rasanya” tanya ibu Rahmi.
Dewantoro diam.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini”
“Tidak akan datang terlambat lagi”
“Baik, kamu harus berjanji…”

***

Di kelas, Dewantoro benar-benar tidak dapat berfikir bening. Hatinya nampak sekali remuk meskipun ia begitu berusaha kuat menahannya dalam diam. Bagai tikaman belati merobek perut Dewantoro, setiap pagi ia tak pernah merasakan namanya sarapan nasi. Paling dia hanya dapat makan getuk hasil tanam ubi di belakang pekarangan rumahnya, itupun nasibnya senin-kamis.
Prapti ibunya, selalu memetik daunnya setiap pagi, lantas dijualnya di pasar. Dikumpulkan uang seratus-dua ratus rupiah dengan sabar. Jika habis semua, paling terkumpul uang Rp.10.000 setiap harinya. Namun seringkali kurang dari itu. Tentu saja uang hasil jualan daun ubi dari pekarangan yang tidak luas bagi Prapti sangat tidak bisa diandalkan untuk makan keluarga setiap harinya. Tapi apa boleh buat semua harus dijalaninya.
Kondisi ekonomi bangsa yang terus terpuruk lebih-lebih sejak kasus moneter 1998 memang teramat terasa sekali begitu mencekik bagi keluarga seperti Prapti. Di saat bagi kebanyakan orang coin Rp.500 sudah tidak berharga, tapi tidak bagi Prapti Jangankan untuk berfikir menyekolahkan anak yang biaya sekolah begitu mahalnya, mengusahakan makan sehari-hari saja begitu sulitnya. Apalagi Prapti sebagai orangtua tunggal harus pontang-panting mengidupi keluarga. Sejarah kehidupan Prapti memang sempat tragis. Arjono suaminya telah meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di pabrik tempat dia bekerja sebagai buruh kasar tujuh tahun silam. Meskipun ada tabungan ganti rugi atas jaminan kecelakaan pekerja dari pihak pabrik, tapi tetap saja itu tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka berdua keseharaiannya.
Dewantoro semakin tidak dapat melihat tulisan pada bukunya dengan jelas, semuanya nampak kabur bahkan pandangan matanya makin gelap, tak tahan langsung dirundukkan kepalanya di atas meja. Semua teman-teman sekelasnya ikut-ikutan terbawa iba dan kasihan. Segera Ani, ketua kelasnya melaporkan kondisi Dewantoro kepada ibu Rahmi.
“Dewantoro sakit ya ? maafkan Ibu yang tadi telah menghukummu. Ibu tidak tahu kalau kamu lagi sakit”
Dewantoro malah semakin tak sanggup menahan tangisnya. Tak ada jawaban satu katapun yang dapat diberikan. Ibu Rahmi pun lantas menganjurkan Dewantoro agar pulang dan istirahat saja di rumah.
***
Sejak kejadian itu Dewantoro sudah tidak lagi masuk sekolah. Kebutuhan ekonomi keluargannya yang sangat sesak menghimpitnya akhirnya mendesaknya untuk berhitung keras mengambil keputusan untuk putus sekolah. Seakarang dia ikut membantu ibunya mencari uang untuk bisa makan kesehariannya dengan mengojek payung di Mall setiap hujan. Namun jika cuaca bagus, Dewantoro menjadi polisi cepek yang ngatur lalu-lintas kendaraan di perempatan jalan di wilayah Perumahan Wibawa Praja. Hasilnya agak lumayan. Terkadang ia bisa makan dan menabung sisanya.
Guru dan teman-temannya pernah membujuk Dewantoro agar tetap sekolah.
Mereka memang begitu sangat perduli.
“Sayang kalau keluar, tinggal satu tahun,” kata mereka.
Bahkan pihak sekolah sudah mencoba menghubungi Prapti, agar Dewantoro tetap sekolah dengan jaminan dibebaskan membayar semua kebutuhan pendidikan, termasuk SPP dan buku-buku. Tapi sekarang Dewantoro sudah terlanjur sibuk di jalan. Penampilannya pun sudah berubah tidak seperti ketika ia masih sekolah. Rambutnya lumayan gondrong dan disemir pink.
Malam makin berselimutkan gelap. Sorot lampu jalan bagai suluh mengiris pori-pori. Dewantoro masih bertahan tegak di tengah jalan menunggu mobil berlalu-lalang. Di mulutnya terselip peluit yang sesekali ditiupnya. Biasanya sekitar pukul 20.00 WIB Dewantoro baru istirahat di warung kopi seberang jalan, sembari menghitung hasil palakan.
Jaja, senior Dewantoro mendekatinya.
“Dapat banyak Toro ?”
“sedikit”
“Mana jatah…”
Dewantoro menyerahkan beberapa lembar ribuan pada Jaja sebagai setoran untuk keberadaan kelompok jalan mereka. Ya, mereka telah memebentuk gang preman untuk menguasai daerah agar tidak diambil yang lain. Naluri seperti itu telah tertanam dengan sendirinya.
“Besok penampilan kamu harus lebih sangar lagi, biar agak macho” kata Jaja menekan.
“Apa hubungannya”
”Kayak kagak tahu aja, biar orang takut ”
“Maksa dong …”
“Di jaman sekarang ini hidup perlu paksaan. Kalau perlu kaca mobilnya digedor”
“Busyeet…pulang ah …”
Menyusul Dewantoro bergegas meninggalkan Jaja. Keduanya saling tos.
“Ok bos, sampai ketemu besok”
Pola pikir Dewantoro memang berubah semenjak ia menemukan lingkungan baru yang tidak mengenal sekolah. Pribadi dasarnya sebenarnya ia anak yang halus dan berbudi. Tapi lingkungan jalanan ternyata cukup tanggung membawanya menjadi manusia yang serba nekat.
***
Pada sebuah rumah gedek yang mungil. Di atas kasur tanpa ranjang, Dewantoro, untuk pertama kalinya menikmati menonton teve hasil dari keringatnya. Tentu saja membuat Prapti semakin sayang dengan anak semata wayangnya itu.
“Makanlah dulu Toro, ibu sudah masakkan lauk kesukaanmu, kalau didiamkan lama nanti basi” kata Prapti.
“Biarlah bu, Toro sudah kenyang, baru saja makan di warung”
“ Itu yang ibu tak suka, setelah kamu bisa mencari uang sendiri, lantas jarang makan di rumah. Padahal ibu juga ingin makan bareng kamu Toro”.
Dewantoro terus saja memainkan remote teve memilih-pilih siaran yang bagus.. Seakan dia tidak mendengar kata-kata ibunya.
Udara semakin dingin dan malam pun semakin gelap. Tapi Dewantoro semakin tidak bisa tidur. Tiba-tiba bayangan wajah bapaknya menelusup dalam ingatannya. Dilihatnya ibunya sudah tertidur pulas. Ditatapnya wajah ibunya yang berkerut, menandakan betapa Prapti sudah mulai tua dan letih. Dewantoro diam-diam memijat-pijat kaki ibunya, hingga membuat Prapti setengah tersadar dari tidur.
“Kamu kok belum tidur Toro?”
“ Belum bu, sudah ibu tidur saja, biar Toro yang memijit kaki ibu”
“Kamu baik sekali Toro…, terima kasih ya..”
Malam mulai mengapung bersama bintang-bintang tampak menghias langit. Namun mata Toro masih belum dapat tidur.
“Kalau saja ada ayah sekarang, tentu ibu tidak seletih sekarang, kasihan sekali ibu” pikirnya.
Perlahan-lahan nampak air mata bergulir dari dua bola matanya yang jantan, menetes di kaki ibunya.
“Pasti ibu sekarang bermimpi indah. Ya Allah lindungilah ibuku, sebagaimana ia selalu menjagaku …., aku tidak ingin melihat ibu sedih ….” Sebait doa Dewantoro begitu tulus yang langsung direbahkan tubuhnya dan tidur di samping ibunya.***




by:Mustaqiem Eska


PS: Bersyukurlah jika hidup jauh lebih baik!

POHON JATI FG TPQ

Pohon jati yang kau tanam di pekarangan rumah pak Ade itu terus tumbuh dengan gagahnya. Daun-daunnya yang melebar sekarang terasa semilir saat berkelebat dielus angin. Aku teringat betul, dulu, saat kau berkenalan pertama kali dengannya, jati itu nyaris hampir mati. Saat itu benar-benar kemarau panjang. Tapi kau punya ketulusan dan keyakinan untuk membuat ia bisa hidup. Diam-diam setiap pagi dan sore kau membelainya dengan cipratan air. Lentikmu lembut. Orang-orang di sekitar rumah pak Ade sering memujimu lewat pak Ade. Maklum waktu itu mereka lebih mengenal pak Ade sebelumnya. Dan pada malam gelap kau pun memupuknya dengan doa, tak ada satu orang pun yang tahu. Bait-bait doamu sangat singkat, “Tuhan, jadikan aku makhlukmu yang bermanfaat’.
Pohon jati itu terus tumbuh dengan suburnya. Kau tak pernah berhenti untuk membuatnya indah. Di bawah rindangnya kau mulai bangun dudukan-dudukan. Dengan sederhana kau rajin mengumpulkan batang bambu kuning yang kau dapatkan dari hasil silaturrahmi dengan teman-temanmu dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung, dengan ogkosmu sendiri. Hingga mereka sekarang mengenalmu sebagai perempuan yang ulet. Hasil karyamu membuahkan hasil. Anak-anak setiap waktu betah bermain di bawahnya. Dan para orang tua pun menilainya sebagai suatu kenyamanan saat mereka berlari-lari di bawahnya. Dari waktu ke waktu pohon jati itu semakin banyak peminatnya, terlebih anak-anak.
Malam, saat keningmu runduk ke tanah, sempat terpikirkan olehmu untuk membuat anak-anak itu bisa belajar dan mengaji.
“Semoga bermanfaat..” doa singkat itu kembali kau ulang.
Pagi nan ranum.Udara terasa bersih. Dunia belum terlalu bising tidak seperti siang hari. Kau bersama pak Ade mulai membuat pengembangan akan keindahan pohon jati itu. Tidak lama setelah itu berdirilah sebuah bangunan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tempat mereka bisa belajar al-quran dan membaca.
“Indah sekali TPQ di bawah pohon jati ini ya…, padahal tanah ini dulu terkenal tandus. Berkali-kali banyak orang mencoba mengolahnya, tapi selalu saja mati….” Jelas pak Ade menyemangatimu.
Tetangga pak Ade seperti pak Lamto, pak Syarif dan pak Amin mulai betah menyambangi bangunan TPQ yang kau bangun. Aku melihatnya mereka bisa tertawa ketika melihat anak-anak itu jingkrak-jingkrak sembari melafadzkan kata-kata barunya tentang Asmaul Husna. Sepertinya mereka lupa dengan keletihannya sebagai kerja kantoran. Layaknya pak Ade, dulu mereka juga nyaris tidak percaya kalau pohon jati itu bisa tumbuh. Mereka melihat pohon jati itu mulai bisa menumbuhkan kesadaran tersendiri untuk nilai sebuah perjuangan.
Aku pernah mengingatkanmu, hati-hati dengan niat baikmu. Suatu saat kamu akan diuji oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan yang sekarang kamu lakukan. Aku tidak tahu bentuknya seperti apa. Tapi biasanya, setiap kebaikan itu ujiannya adalah kebaikan itu juga, hingga menjadi samar dan membentuk tikungan.
“Apa maksudmu ..” tanyamu waktu itu dengan kebingungan yang sangat.
“Seperti Khidir, aku akan menuntunmu, hingga kau menemukan jawabannya, suatu saat…” kataku.
“Jadi apa yang harus aku lakukan…”
“Bergurulah kepada keteguhan dan ketulusan pohon jati yang telah kau pelihara…, semakin ia tumbuh meninggi, daunnya makin lebat dan akarnya pun menghujam. Tapi pukulan angin itu semakin kencang….”
Kau terus berjalan, sembari menelorkan ide-ide kreatifmu setiap lepas bersetubuh denganku. Tapi aku tak bisa menemanimu dengan terbuka. Wajahku sudah terlalu cukup untuk memenuhi kepuasan hidupku yang selalu tenggelam di bawah samudra.
Satu musim, seiring dengan putik bunga jati luruh menghias halaman TPQ, 2004 santri tumpleg bersenandungkan nada-nada Hadad Alwi dan Sulis. Perlahan wajahmu mulai terlihat dan dikenal oleh banyak orang. Mereka terkagum dengan pohon jati itu. Hingga sejak saat itu, lantas pak Ade melimpahkan banyak tugas kepadamu untuk terus bisa membesarkan TPQ yang berdiri di pekarangannya.
Entahlah, kamu terlalu baik, padahal pak Ade sama sekali tak pernah menitipkan kepadamu sepersen pun uang untuk mengganti ongkosmu untuk keluar masuk kampung di 26 Kecamatan. Padahal kamu siang malam begitu tak mengenal lelah mengenalkan kebesaran TPQ yang kau bangun bersamanya di bawah jati. Dan kamu maklum Itu perjuangan !
“Untuk urusan agama, tabu bicara tentang uang…”
“Ya, tapi itu nanti akan menjadi gesekan tersendiri antara kamu dan pak Ade ketika berjuang…, iblis mudah masuk lewat jalur itu. Iblis bisa memlintir tidak karuan akan kebenaran. Yang benar akan menjadi tidak benar. Sekarang belum terasa. Coba nanti kalau TPQ itu sudah berkembang. Orang akan mempertanyakan langkahmu selama ini. Darimana ongkos yang kamu pakai untuk urusan kesana-kemari kalau bukan dari keuangan TPQ…, nah…”
“Ah kamu melemahkan semangatku untuk berjuang dan belajar menaburkan kemaslahatan…..”
“Tidak. Aku tidak mencoba mempengaruhimu untuk lemah. Bukankah aku pernah bilang. Konsekwensi ketangguhan adalah ketangguhan itu sendiri yang terbalik. Begitu juga dengan ketulusan. Konsekwensinya adalah keikhlasan itu sendiri yang pasti akan dipertanyakan oleh keikhlasan itu sendiri….”
“Kamu mengajariku berpikir muter-muter…., aku tak paham filsafat…!”
“Itu bukan filsafat…, tapi hikmah…”
“Baiklah, aku akan memahaminya sembari berjalan….”
“Ya, itu proses yang benar …” kataku.
Diam-diam, dari bawah samudra, aku membimbingmu untuk menerbitkan majalah. Dengan majalah itu, progam-progam kerja TPQ yang kamu kelola akan mudah diakses oleh banyak orang. Khususnya kalangan pemerintahan seperti Departemen Agama.
“Apa hubungan TPQ dengan penerbitan…?” tanyamu waktu itu.
“Salah satu kekuatan terbesar yang sanggup mengobrak-abrik dan meluruskan dunia adalah media” kataku
“Maksudnya….”
“ Percuma kamu memperjuangkan TPQ secara terbuka kalau kamu tidak bisa mengakses media. Orang-orang batil akan mudah mengalahkan yang haq karena mereka melakukan jaringan organisasi denagan begitu rapi dan profesional, salah satunya alat yang mereka gunakan aadalah media. Jadi kalau menginginkan TPQ yang kamu kelola bisa lebih maju, kamu harus punya gerakan dengan media….”
“Tapi….”
“Tenang saja, saya akan membantumu ….., saya akan menjelma seperti Yusa’ bin Nuh”
“Masya Allah ….!!!”
“Sudah tenang saja, suatu hari kamu akan menemukan jawabannya. Siapa sebenarnya orang-orang yang ada di sekitarmu….”
Benar, pohon jati yang dulu rajin kau siram itu ikut membawa kebesaran TPQ yang berdiri di bawahnya. Ratusan guru TPQ dari kampung dan kota terus beringsut saling berjabat tangan denganmu. Hingga akhirnya Departemen Agama mulai perduli akan keberadaan kalian. Penaka Majapahit, di bawah jati, saat senja menikam, kudengar kau berikrar untuk mempererat persahabatan antar teman-teman TPQ yang lama kau susun dan rangkai membentuk bunga yang berwarna-warni.
Aku sangat paham dengan sepak terjangmu. Kau sudah terbiasa dengan melipat dua tiga kerja sekali jalan. Kau pun begitu akrab dengan nilai sebuah efektifitas waktu. Meskipun nyatanya kulihat kau jarang beristirahat, dan nyaris tak pernah tidur siang. Meskipun dari sudut pandang yang lain cara kerjamu itu rentan dari kontrol dan titik fokus. Namun okelah, aku sangat paham dengan semua itu. Itulah kondisi yang sedang kau hadapi. Apalagi orang-orang seperti pak Ade, pak Lamto, pak Syarif dan pak Amin hanya bisa peduli saat waktu-waktu luangnya. Dan itu tidak setiap waktu. Apalagi mereka itu adalah pemikir. Jadi nyaris 80% yang mereka sumbangkan adalah semata pemikiran untuk perkembangan TPQ. Sementara kamu 100% teori dan 100% praktek. Dari sini sebenarnya untuk roda sebuah kebersamaan nyaris tidak stabil. Tapi apa boleh kata, nyatanya kau pun bisa senang hati dan menikmatinya. Meskipun nyatanya terkadang diam-diam kau pun nyaris bertanya dan merasa lelah. Tapi aku salut, kau tipikal perempuan yang tidak mudah menyerah.
Hari ini, menjelang ulang tahun Departemen Agama. Petinggi penamas yang duduk di jajaran Departemen Agama untuk wilayah Propinsi mengundang forum TPQ yang sudah berhasil kamu rintis bersama pak Ade dan teman-teman. Lantas dengan atas nama bersama kau sepakat forum itu dengan nama Forum Guru (FG) TPQ. Setelah itu Pak Ade kau lihat semakin besar. Pekarangannya semakin melebar ke sebelah Barat, timur, utara dan selatan. Pemerintah mulai memberi konstribusi untuk fg tpq itu lebih berkembang. Untuk mempererat kedekatan fg tpq dengan pemerintah dalam hal ini departemen Agama wilayah Propinsi, untuk niat yang bening aku terpaksa menemanimu larut menjadi air. Bergerak merambat ke Kitri Bhakti membangun perkemahan-perkemahan santri agar ribuan santri bisa saling unjuk kreatifitas dan bernyanyi bersama, sebagai wujud kebesaran fg tpq gagasan kalian. Untuk progam yang satu ini dua bulan persiapan yang aku dan kamu lakukan untuk sosialisasi ke tpq-tpq. Lagi-lagi tanpa dana.
Sekarang aku masuk ke dalam liang keniscayaan. Untung kau dan aku diam-diam kaya. Saatnya kita berguru dengan kehidupan nyata layaknya Muhamad dan Khadijah. Kau dan aku sudah terbiasa menjadi rumput. Dulu sewaktu malang melintang di negeri orang kau dan aku bisa menjadi rumput Kuala Lumpur yang bisa tumbuh tanpa disiram. Bahkan dilempar di tanah manapun, kau dan aku tentu akan tetap hidup tanpa harus manja dengan harta warisan ataupun gaji pemerintah.
“Sekarang saatnya kau akan melihat betapa mereka akan memperlakukan kamu “
“Maksudmu..”
“Pengalaman hidup orang-orang yang mengelilingimu itu rata-rata terlahir untuk pandai berhitung untung rugi. Standar mereka adalah kepastian. Mereka adalah orang kalkulasi. Jadi kalau tidak dengan hitungan yang matang bagaimana sebuah langkah itu berjalan. Sementara hitungan pasti kamu adalah kegigihan dan ketekunan. Aku tahu, sebenarnya kamu punya cara hitungan yang sama dengan mereka, tapi karena metode aljabarmu lebih lebur dengan kondisi alam, nyaris kadang-kadang kamu harus menjadi cacing, kadang menjadi burung, kadang menjadi matahari dan rembulan. Hingga tubuh kamu nyaris sirna di pelupuk mata mereka”
“Lantas apa yang harus aku lakukan ….”
“Ya,.progam sudah berjalan… sekarang jalani saja. Tanyakan nilai bakti kebersamaan mereka sebelum langkah itu semakin jauh. Seberapa jauh kadar nilai juang dan ketulusan mereka”
“Katanya, untuk kemah santri, mereka pada tidak bisa ikut andil. Semua masuk kerja. Dan pak Ade sendiri harus ke China”
“Ya, itu alamat pertama…, percayalah, kita lihat saja”
“Jadi…..”
“Kalau begitu alasan mereka…., jalani saja..lakukan apa yang kau dan aku bisa lakukan. Jangan berharap dengan bantuan mereka dalam hal ini. Itu kan jawaban mereka. Jangan progam yang sudah direncanakan jadi korban”

***

Benar, hari kemah santri nyaris di depan mata. Mereka datang seperti penguasa. Mukanya beram nampak resah karena merasa tidak diajak terlibat. Mereka telah lupa dengan apa yang dikatakan saat konsekwensi sebuah kebersamaan itu diminta. Nyaris. Hari petaka pertama.
“Kamu ingat kata-kataku…, inilah awal wujud kepribadian mereka yang sebenarnya nampak, mereka adalah orang-orang pintar yang pandai berapologi. Dan itu sah. Kamu harus catat itu. Ikuti saja terus cara mereka bertindak. Kamu akan bisa belajar dengan cara-cara mereka yang akan lebih menyakitkan di kemudian hari…., dan itu penting untuk membuat hatimu menjadi lembut dan rendah hati…”
“Tapi inimenyakitkan….”
“Teruskan saja, aku akan terus menjadikannya snapshot dan atsar yang kucatat terus menerus untuk album kehidupan kelak.., dimana anak cucu kita bisa belajar dari kehidupan yang nyata…”
“Tapi….”
“Sudahlah… jangan tapi-tapi….. kau sudah berenang di tengah samudra. Kosongkan pikiranmu dari ketidak cocokkan…, berhentilah ketika saat itu tiba” kataku

***

Spanduk fg tpq seperti bertepuk tangan seiring bayang-bayang matahari yang kian meninggi. Kau memandang bangunan tpq yang tegak di bawah pohon jati kenangan kesabaranmu.
Kau melihat hari itu, teman-temanmu datang dengan begitu bernafsu. Setelah pemerintah memperhatikan dan peduli dengan bangunan itu, bahkan berjanji akan memberikan subsidi untuk jerih payah mereka sebagai guru tpq. Lantas dengan tulus hati kau menuntun mereka menebar ribuan proposal seperti jaring. Sementara kau sendiri tidak mengajukan. Aku lihat kau kali ini bagaikan lilin.
Sore hari, pak Ade tidak berterus terang dengan apa yang didapatkannya dari propinsi bersama pak Amir saat menengokku yang terjatuh dari motor. Aku merasakan semua dengan save batinnya. Biarlah. Itu urusan mereka. Setidaknya, dari sini perlahan-lahan kau mulai bisa masuk ke rumah batinnya yang sesunguhnya. Tidak selamanya kejujuran dapat mengalahkan uang. Inilah saatnya buat kamu untuk belajar teguh menjaga ketulusan yang sudah kau jadikan akar batinmu itu bisa menang melawan kefasiqan.
“Kenapa mereka mulai bersikap tertutup…” tanyamu.
“Saat perjuangan berbau uang, nilai-nilai bisa menjadi intrik”
“Lantas?”
“Sudahlah, jangan berpikir dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Siapa yang menanamkan kebaikan akan tetap berbuah kebaikan. Siapa yang menanamkan benih keburukan hasilnya juga tak jauh beda…, belajarlah dengan ikan yang tak pernah terpengaruh oleh asinnya lautan”.
Selanjutnya, pelan-pelan mereka mulai meninggalkanmu. Sebuah fakta perjuangan saat kamu mengkokohkan pondasi dengan menyulam satu persatu tali silaturahmi kini sudah tergirus oleh debu kebesaran hasilnya. Seperti lebah sekarang mereka ramai berkerumun untuk menghisap madu subsidi yang nilainya tak seberapa. Dan mereka sekarang bergerombol. Sembari bermain belakang diam-diam mereka menyorongkan tubuhmu terus menerus agar tersudut di pojokan. Seperti politik, teman-teman akarabmu pun diam-diam mereka bekali dengan belati untuk bisa menusukmu dari belakang.
Langit memang sudah gelap. Dan sejarah itu nyaris ingin dikubur. Pasal 17 dalam ART adalah apologi mereka. Aku sebenarnya sudah kasihan melihat semua yang terjadi. Tapi biarlah. Sengaja aku biarkan sampai kamu sendiri merasakan betul bahwa pengalaman memperjuangkan keikhlasan, mempertahankan kebenaran, dan rendah budi demi kemaslahatan bersama itu pahit. Di zaman sekarang ini keluhuran itu letaknya di dalam diri.
“Apakah kamu sudah putus asa..” aku mencoba ingin tahu tingkat kepasrahanya.
“Tapi kenapa kamu tak seagresif seperti dulu…”
“Ah, tingkat kemaslahatannya sudah tragis…”
“Maksud kamu…” saya mencoba bertanya.
Tapi kamu hanya bisa diam. Kulihat airmatamu mulai menetes mengaliri pipimu yang bening.
Aku sebenarnya sudah sangat kasihan dengan kamu. Terlalu tangguh kamu berjuang dalam kondisi seperti ini di saat banyak orang tak sanggup.
Aku juga sudah melihat berduyun-duuyun teman-temanmu itu sudah dipersenjatai belati untuk merobek-robek kesejatianmu..
Mereka mulai memlintir-mlintir hal-hal yang kecil untuk menghancurkan reputasimu.
Baru saja aku melihat, bagaimana bu Eti dan bu Uun begitu sangat tidak berdosa membalik-balikkan fakta tentang kisah-kisahmu menjadi jahanam, sementara selama ini mereka hanya bisa membaca kamu dengan samar. Tapi gaya bicaranya seperti merekalah yang melahirkanmu dan membesarkanmu. Kemauannya nyaris kamu harus mengecup rakhimnya di kebesarannya. Dan bahkan berkali-kali mereka meludah setiap menyebut namamu.
“Sekarang, apakah kamu masih berharap dengan pohon jati fg tpq kesayanganmu?”
“Tidak. Aku sudah ikhlas semuanya. Anggap saja semua sudah menjadi mayat” jawabmu.
“Kata-katamu yang terakhir itu masih ada unsur dendam ….” Terangku.
“Astaghfirullah….”
“Sudahlah, tinggalkan saja…”itu saranku yang terakhir kali padamu.
Sejak saat itu sudah dua bulan kau dan aku tak lagi ketemu. Aku harus menyelesaikan tugasku di Pekanbaru sementara kamu konsentrasi mengelola pendidikan di Lampung. Sementara rumah di Tangerang rumputnya sudah meninggi seiring musim hujan yang selalu basah.
Akhir Februari 2009. Kau kirim email padaku.
“Bismillah, aku sudah serahkan semua kepada Allah. Terima kasih ya Allah, engkau telah tunjukkan sisi manusia yang wataknya aneh bin nyata padaku. Lebur antara ngaji dan ghibah. Teguhkanlah imanku. Jauhkanlah hamba darinya. Tsabit qalbi ala dienik wa ala toatik, good by pohon jati fg tpq. Aku ikhlas kehilanganmu”
Kata-katamu menyentuh sekali batinku. Dan aku pun terharu, hingga aku tak sanggup membalas kembali emailmu …...***



by: Mustaqiem