CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivator. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

Tumbuh sebagai Anak Jalanan, Menjadi Dewasa Bersama Islam

Awal hidupnya ia jalani dengan kekacauan, namun hatinya tidak pernah menolak kebenaran. Akhirnya ia pun menemui makna hidup bersama Islam

Namaku sekarang Abdullah Abdul-Malik, dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di Amerika Serikat. Usiaku 28 tahun. Aku sudah menjadi Muslim selama hampir 5 tahun.

Aku dibesarkan di sebuah lingkungan yang elok di Philadelphia, Pennsylvania. Aku suka bermain sepakbola di waktu kecil. Sebagaimana seorang remaja Amerika, aku senang mendengarkan musik rap dan menonton film-film yang penuh adegan kekerasan. Ketika itu aku yakin bahwa hidup memanglah seperti itu.

Aku menyangka apa yang aku lakukan ketika itu keren, dan memang gaya hidup seperti itulah yang harus dijalani, penuh gairah, dan berbahaya. Oleh sebab itu, aku menjadikan para rapper dan pemain film itu sebagai panutan, dan termakan keyakinan bahwa hidup itu harus menjadi seorang pembangkang terhadap lingkungan.

Sekarang aku tahu bahayanya musik dan televisi terhadap masyarakat kita. Jika kamu tidak memiliki panutan yang positif, maka kamu akan memiliki panutan yang negatif.

Aku terjerumus mengkonsumsi mariyuana, dan mulai menjualnya saat usia remaja. Aku menjalani hidup seperti itu selama masa sekolah menengah hingga kira-kira berusia 23 tahun.

Aku mulai merasa bahwa teman-temanku bukanlah teman yang sebenarnya. Aku menjadi paranoid, tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Jiwaku terasa hampa.

Akhirnya aku bermain dan membuat musik untuk menyalurkan tekanan perasaan yang terpendam di dada.

Hidupku menjadi kehilangan semangat dan terisolasi. Aku mencari-cari jati diri.

Keluargaku kemudian mengalami masalah keuangan, lalu mereka pindah ke Florida. Aku sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di Pennsylvania, karena di sanalah aku dibesarkan. Baik atau buruk, Pennsylvania adalah rumah bagiku, dan aku belum siap meninggalkannya.

Aku pindah rumah, tinggal sendiri di sebuah apartemen yang dekat dengan tempat aku dibesarkan. Aku belajar untuk bertahan hidup. Ketika itu rasanya sangat sulit dan kesepian.

Kehidupanku semakin keras saja. Aku mulai berani mengambil kesempatan. Aku berhenti menjual narkoba secara sembunyi-sembunyi, mulai nekat, dan tidak takut apapun.

Aku tidak lagi hanya menjual narkoba kepada orang-orang yang kukenal, bahkan mulai menjualnya kepada orang yang tidak kukenal sama sekali. Aku mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak akan pernah aku lakukan. Begitulah, jika kamu sudah terperosok dalam pada sesuatu, maka kamu akan semakin berani mengambil resiko, dan gaya hidup yang berbahaya sekali pun mulai dirasa nyaman dan bahkan dianggap normal.

Akhirnya akupun terjebak menjual mariyuana kepada seorang polisi yang menyamar pada tahun 2004. Aku kemudian menjalani pemeriksaan. Ketika itu aku merasa ada tekanan yang besar dari sekelilingku.

Aku takut jika harus hidup dalam penjara, karena itu aku berhenti menjual narkoba dan mulai mencari pekerjaan. Saat itulah aku bertemu dengan seorang pria Muslim berusia 50-an tahun. Di tempat bekerja itu aku mulai berbincang-bincang tentang Islam. Aku bertanya kepada orang tua itu, apakah Muslim percaya pada Yesus, karena selama ini yang aku tahu hanyalah Yesus.

Dia bilang, ya. Yesus adalah salah seorang yang mulia dalam pandangan agama, tapi kami mempercayainya sebagai seorang nabi, bukan Tuhan. Ia mengatakan kepadaku bahwa Muslim percaya kepada semua nabi, mulai dari Adam hingga Muhammad. Dan Tuhan itu Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya dan menyamai-Nya.

Ketika ia menjelaskan hal itu, aku menerimanya, sepertinya aku sudah pernah merasakannya. Apa yang dikatakannya bisa diterima nalar. Jadi mana mungkin seseorang menolak pernyataan yang sangat kuat dan masuk akal seperti itu?

Oleh karena aku kelihatan tertarik, ia berkata akan memberiku sesuatu.

Saat itu aku merasa bahwa aku harus berubah, dan aku haus akan jawaban. Aku selalu percaya adanya Tuhan, tapi banyak hal yang membingungkanku, dan aku tidak bisa menerima Kristen sebagai sebuah keyakinan yang benar.

Satu malam setelah mengantar orang tua itu pulang kerja, ia memberiku sebuah Al-Qur’an. Kuucapkan terima kasih, dan malam itu pula aku mulai membacanya. Kitab itu seakan berbicara dan menjelaskan semuanya dengan jelas kepadaku. Aku yakin kitab itu benar, dan hanya Tuhan saja yang mampu membuat kitab seperti itu.

Sungguh sangat masuk akal bagiku, dan sekejap ada kedamaian yang kurasakan di dalam hati. Sesuatu yang sepertinya belum pernah aku rasakan.

Merenungkan Makna

Ketika aku berjumpa lagi dengan pak tua keesokan harinya, ia berkata bahwa aku kelihatan sangat jauh berbeda. Aku katakan padanya bahwa kitab itu membuat kita merasa baik, dan hal itu sangat menakjubkan.

Aku tahu bahwa aku senantiasa diawasi oleh polisi. Aku pikir, karena mereka tidak menangkapku, maka mungkin mereka membiarkan hingga aku melakukan sesuatu yang lebih buruk. Banyak detektif yang tidak ingin melakukan penangkapan kecil, biasanya ingin mendapatkan tangkapan yang besar.

Setelah beberapa bulan di bawah pengawasan, beberapa orang detektif tiba-bisa muncul di suatu tempat dan menyergapku. Aku ditahan dengan tuduhan menjual mariyuana dalam jumlah kecil.

Aku kehilangan pekerjaan, dan dipenjara selama beberapa hari sebelum akhirnya keluargaku yang berada di Florida membayar tebusan. Berita itu sungguh menyedihkan hati mereka, dan menimbulkan masalah besar kepada keluargaku.

Para detektif itu mengatakan, mereka tidak benar-benar menginginkan aku, mereka ingin agar aku menolong mereka menjebak orang lain. Tapi aku menampiknya dan memutuskan untuk menjadi lelaki sejati.

Setelah bebas dengan tebusan, aku terus membaca Al-Quran dan merenungkan secara mendalam makna yang dikandungnya.

Pada suatu malam, ketika aku membacanya dalam kegelapan, aku melihat seakan-akan ada cahaya yang memancar dari kitab itu. Aku yakin itu adalah tanda dari Tuhan bahwa kitab itu benar, dan bahwa hidupku akan segera berubah selamanya, dan aku mempunyai tujuan hidup.

Cahaya itu tidak memancar sekejap saja, tapi memancar selama aku membacanya–kurang lebih selama 45 menit. Aku berpikir untuk memberitahukan hal itu pada temanku yang tidur di lantai atas. Tapi aku merasa itu adalah tanda dari Tuhan untukku, dan aku tidak akan merusaknya.

Sebelumnya aku sudah percaya jika kitab itu benar, tetapi ketika aku melihat cahaya itu, keyakinanku berubah selamanya.

Pada akhirnya, aku pun harus masuk penjara. Di sana aku bertemu orang-orang Muslim, yang ternyata merupakan orang-orang terbaik yang pernah aku temui. Orang-orang yang sebenarnya tidak jahat, tetapi hanyalah orang-orang yang terperosok pada situasi yang menyudutkan dan mengambil keputusan yang keliru.

Aku jadi tahu karakter orang muslim: laki-laki kuat yang punya harga diri, rendah hati, penyayang, dan penuh ketaatan. Di dalam penjara itu aku belajar berpuasa, berdoa, shalat dan mengikuti shalat Jumat.

Aku melihat bahwa karakter seorang Muslim itu teguh memegang kebenaran dan tahu bagaimana menjadi pengikut setia Tuhannya. Mereka adalah orang-orang, yang meskipun dalam keadaan tertekan, selalu tabah atas apa yang menimpa diri mereka, tanpa rasa khawatir, dan percaya sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Hidupku seluruhnya diobati, dan jiwaku berubah. Penjara membantuku menjadi bijaksana, dan pikiranku menjadi terang untuk pertama kalinya. Di penjara kamu akan belajar menjadi orang yang berpikir, karena kamu tidak punya apapun kecuali waktu untuk berpikir, merenung. Kamu akan mempertanyakan segalanya, agamamu, keluargamu, teman-temanmu.

Di penjara, berarti kamu berada di tempat yang tidak banyak gangguannya. Sungguh itu sebuah anugerah bagiku.

Aku tahu bahwa aku tidak akan menyukai penjara, tapi aku yakin bahwa itu adalah yang terbaik bagiku.

Di sana kegiatanku hanya membaca, berolahraga, dan mengingat-ingat kembali apa yang telah aku lakukan selama ini, dan apa tujuan hidupku sebenarnya.

Aku menjalani masa kurungan hanya satu tahun lamanya. Setelah keluar, aku pindah ke Florida. Sejak itu aku tinggal di sana.

Aku merasa seperti dilahirkan kembali.

Sekarang, aku sedang mengikuti pendidikan keperawatan, dan berencana untuk keliling dunia membantu orang-orang yang tidak seberuntung aku. Sambil terus menyebarkan pesan agama kebenaran.

Jika kamu pernah melakukan kesalahan, lalu menemukan kebenaran, maka segalanya akan terasa semakin terlihat jelas. Menakjubkan, ketika pertama kali aku belajar hidup sebagai seorang dewasa. Kebenaran datang saat aku membutuhkannya, di saat yang tepat.

Hidupku sebelumnya sungguh kacau. Aku merasa sangat beruntung karena menemukan Islam sebagai jalan benar yang lurus. Jika kamu sudah menemukan agama ini, maka kamu tidak akan ingin kembali kepada keadaan seperti sebelumnya.

Aku pernah hidup di jalanan, kemudian tinggal di penjara, dan akhirnya hidup dalam Islam.

Akhirnya, aku merasakan apa yang telah aku jalani semuanya adalah berharga dan patut. Tanpa semua itu, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah! [di/ri/www.hidayatullah.com]

buku harian Parmin

Parmin duduk di depan tokonya. Barang-barang yang baru datang, diangkut oleh beberapa anak buahnya masuk ke dalam gudang. Sambil menghitung dan menge-cek, Parmin memastikan keadaan barang-barang pesanannya utuh dan baik. Sebagai pengusaha furniture dan prabot rumah tangga yang maju, Parmin sangat menjaga sekali kuwalitas barang dagangannya dan memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Rupanya ia tepati janjinya, dulu ketika dia masih menjadi pesuruh di sebuah kantor perusahaan besar. Apa yang pernah ia alami akan menjadi pedoman dalam hidupnya. Anak buahnya begitu senang mempunyai bos seperti Parmin. Dengan sikap Parmin yang pemurah dan ramah membuat anak buahnya bekerja dengan loyal dan bersungguh-sungguh serta tanggung jawab penuh dan semua itu berpengaruh juga dengan hasil kerja mereka. Usaha Parmin semakin berkembang. Setelah merasa barang-barangnya baik Parmin melangkah masuk kedalam ruang kerjanya yang sekaligus sebagai tempat tinggalnya. Buku harian yang lama tak tersentuh diambil dari dalam lemari bajunya, sesaat ia memperhatikan sampulnya yang kusam. Lembar demi lembar dibukanya, sambil duduk di kursi kayu di depan mejanya. Ia terbayang kemasa lalu yang pahit namun indah. Parmin serius membaca kisahnya sendiri, terkadang bibirnya tersenyum, lalu sedih dan terharu.Mei, 2004Jalan hidup memang penuh dengan warna, terkadang putih, mendadak berubah menjadi hitam, begitu pula sebaliknya. Namun, kadang juga bisa berwarna-warni, seperti pelangi, indah dengan banyak warna.Warna kehidupan tergantung bagaimana kita menghendakinya. Sebab semua berawal dari diri kita sendiri. Aku mungkin harus lebih sabar lagi, menghadapi seorang Bos yang hobinya marah-marah, meskipun aku sendiri tidak tahu apa salahku. Terkadang aku merasa tersinggung dengan ucapannya yang sangat menyakitkan hati.“ He kacung!, sini kamu” Bentak Bosku.” Iya Pak, ada apa?”Tanyaku sambil membunkukkan badanku.”Ada apa!, lihat pakai matamu kertas-kertas berantakan seperti itu di mejaku. Rapihkan!”tanganya sambil menengulkan kepalaku, di depan orang ramai, aku hanya menunduk dan mengangguk, dalam hatiku terbesit sejuta luka, dan aku kembali dalam kebingungan,” apa sebenarnya yang salah, mengapa bos harus pakai acara maki-maki?, nyuruh ya nyuruh aja gak usah pakai cacian segala, Ya Allah kuatkanlah hati hamba” Ratap hatiku penuh dengan iba.“ Kamu di sini hanya kacung !, bukan pejabat ?!. apa yang aku katakan kamu harus dengar dan kerjakan “ Ucapnya bengis. Aku ingin bertanya, apa sebenarnya kesalahanku, namun belum bibir ini terbuka ia sudah menghujani aku dengan makian dan cemoohan.Sabtu, Mei ’04 Sebelum subuh, pada saat orang-orang masih terlelap dengan mimpinya, aku sudah bermandi keringat. Dari lantai tiga hingga lantai bawah sudah aku bersihkan, dan selesai jam 07 .00 pagi. Istirahatku hanya waktu sholat. Menyapu, ngepel, hingga mengelap kaca jendela, setiap hari aku kerjakan. Gaji yang aku terima hanya cukup untuk biaya sekolah adikku, aku tidak pernah punya pendapatan lebih dari gaji pokokku. Dua tahun sudah aku jalani pekerjaan ini. Betapa nikmat dan senangnya aku melakukannya. Jika saja pekerjaanku dihargai, tidak usahlah dengan digaji besar. Jangan dimarah-marah saja aku sudah merasakan kebahagiaan tersendiri.“ Inilah ladang ibadah buatku” Ucap hatiku pasrah, sambil mendorong kain pel dari kiri ke kanan, ke depan ke belakang. Sambil bernyanyi lirih menyebut asma Allah.“ Allah Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, mengerti dari setiap ucapan dan langkah, mengetahui dari segala niat di hati “. Aku tidak boleh berlama-lama seperti ini. Setelah adikku lulus dan modalku cukup untuk membuka suatu usaha, aku jadikan pekerjaan ini sebagai tempatku menimba ilmu dari segala pengalaman yang aku alami. Aku akan akhiri pendidikan yang sangat menekan ini. Mudah-mudahan aku lulus menjadi orang yang sabar.Berat memang aku rasakan, namun itu tidak aku jadikan beban, apapun bentuknya ucapan yang ditujukan padaku itu adalah ilmu. Sekarang tinggal aku yang berfikir positif saja, mungkin bos marah-marah padaku karena ia mempunyai masalah dengan relasinya, atau keluarganya atau hal-hal lain. Ya, namanya juga orang penting, wajar kalau punya masalah dimana-mana.Tapi yang aku herankan mengapa harus aku yang menjadi luapan amarahnya?. Ehm!. Aku hanya tersenyum, “Alhamdullialah Ya Allah,” mungkin dengan dijadikannya aku tempat untuk melampiaskan amarahnya, dapat membuat pikiran dan hatinya tenang, walau hanya sesaat. Jika saja dia tahu, obat yang paling mujarab untuk mengobati kegelisahaan yang selalu melandanya itu, pasti ia tidak akan pernah lagi memarahi aku dan menjadikannya sebagai media untuk melepaskan segala unek-uneknya. Hanya kepada Allah seharusnya ia mengadukan segala masalahnya, karena Dia-lah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu. Aku juga bisa tenang, senang walau dihina, dicaci dan dimaki itu karena pertolonganNya. Andainya kamu tahu Bos.! Kalau Allah itu Maha Penyayang dan Pengasih, lagi Maha pemberi pentunjuk. Sambil berdendang ria dengan pekerjaanku, azan subuh berkumandang. Aku buru-buru mandi dan melaksanakan kewajibanku yang utama “ Sholat Subuh”. Aku tidak pernah menyesali nasibku dan aku tidak pernah membenci pekerjaanku, walau menjadi pesuruh dan tukang sapu, bagiku inilah yang terbaik. yang diberikan Allah padaku. Apapun pekerjaan itu asal masih dijalanNya aku siap melakukannya.Terkadang aku merasa iri, dengan orang-orang yang bekerja di kantoran, yang sukses dengan usahanya, karena pekerjaan yang mereka lakukan sangat diimpi-impikan oleh kebanyakan orang, salah satunya orang tuaku, mereka mengharapkan aku bekerja di kantoran yang punya koneksi dan gaji tinggi. Ya ! itu lumrah, keinginan dan cita-cita orang-orang, seperti orang tuaku yang selalu hidup dalam garis kemiskinan. Walau pendidikanku tidak juga rendah, tapi aku merasakan kenikmatan tersendiri walau pekerjaanku dianggap rendah oleh orang. Aku senang melakukannya. Mengapa tingginya derajat dunia selalu di ukur dari materi dan jabatan, ya ?. apakah penampilan dan harta yang banyak dapat menjamin manusia itu bahagia?. Ah, itu tergantung dari manusianya dan apakah kemiskinan selalu merasa kesusahan ?, sekali lagi itu tergantung manusianya, cara bersyukurnyalah yang dapat menentukan menurutku.Kemiskinan dan kekurangan memang aku rasakan tapi bukan berarti aku menyesali pada nasib. Kekurangan aku jadikan sebagai alasan untuk berjuang meraih yang lebih baik, dan kekurangan akan selalu ada pada setiap mahkluk. Kemiskinan aku jadikan cambuk untuk lebih memahami dan menghargai hidup. Senin, Mei ’04Jam dinding menjukan Pukul 03.45 menit, hanya beberapa suara ayam berkokok, aku terbangun, aku melihat bulan penuh, bersinar di ujung barat, cerah langit malam ini, bintang bersinar meredup. Aku menatap bulan penuh dengan kebanggaan “Betapa besar Ya Allah KuasaMu”aku tersenyum sambil melangkah menahan kantuk, hatiku berdesir saat aku tatap bulan itu seakan tersenyum melihatku. Lima ekor kalong lewat bersama-sama, seakan menuju arah sinar sang rembulan, mereka hendak pulang, setelah hampir semalaman mereka mencari buah-buahan sebagai nafkahnya. Walau bukan musim buah-buahan namun kalong tetap saja menemukan makanan, oh inilah keadilan dan kasih sayang Allah. Aku duduk sesaat merenungi betapa besar Kasih sayang Allah untuk mahlukNya. Siang tadi aku merasa putus asa, aku takut tidak mendapatkan pekerjaan lagi, kalau aku dipecat nanti. Ucapan bosku kali ini memang susah untuk aku terima, aku memang orang kecil, tapi apakah aku tidak boleh bermimpi menjadi orang besar,? walau hanya mimpi.??!Siang tadi Aku mengajukan permohonan kasbon untuk biaya adikku yang akan ujian seminggu lagi. Gajiku hanya cukup melunasi uang bulananya saja sedangkan uang ujiannya sama besar jumlahnya dengan gajiku bekerja sebulan di sini. Baru dua hari aku gajian, sekarang sudah habis untuk membayar hutang diwarung makan dan biaya sekolah, pikiranku kalut kemana aku harus berhutang. Akhiranya aku nekat untuk meminjam uang pada bendahara.“ Aduh Min, aku tidak bisa memberikan pinjaman, kalau tidak ada surat persetujuan dari Bos.” Ucap wanita itu. “ Jadi aku harus menghadap Bos dulu ?, baru biasa mendapat pinjaman itu, aduh Mbak, aku takut, pasti nanti aku di maki-maki Bos, Mbak tahu kan Bos itu bagaimana?”. Kata ku bingung“ Iya Min, aku tahu dan semua tahu, kalau beliau itu orangnya galak, sombong, pelit dan segala sesuatunya harus teliti, detail serta mempunyai alasan-alasan yang tepat.”“ Bisa nggak ya Mbak, aku dapat uang hari ini, soalnya adikku mau ujian, ini sangat terpaksa Mbak, aku harus berhutang, soalnya tidak ada lagi tempat aku meminjam” Ucapku lirih. Bendahara itu hanya menghela nafas.“ Maaf ya Min, aku tidak bisa membantu kamu, aku sendiri juga banyak kebutuhan”. “ Tidak apa-apa Mbak, kalau begitu aku harus temui bos sekarang, nanti keburu dia pergi, terima kasih ya Mbak,” . Sambil berlalu dari ruangan yang ber AC namun panas itu, aku menuju keruangan bosku. Kebetulan dia ada di dalam dan sedang tidak ada tamu, pelan aku ketuk, lalu ku dorong pintunya, terlihat pria tua botak, gendut melihatku heran. Tidak ada senyum dibibirnya, biasanya jika ada tamu yang datang dia selalu ramah dan menyambutnya dengan pujian dan jilatan kata yang manis madu, tapi terhadapku seakan melihat sampah yang menjijikan, tidak terdengar ucapan apapun, silahkan duduk kek, atau tanya ada perlu apa gitu. Apa mentang-mentang aku ini kacung sehingga tidak ada harganya sama sekali. Aku tersenyum sambil merundukan badanku.“ Maaf Pak, mengganggu sebentar, “ . “ Iya .! ada apa!?”. Belum-belum ucapanya sudah membentak keras aku jadi sedikit gemetaran.“ Begini Pak, saya ada keperluan, adik saya mau ujian, dan biayanya masih kurang, .....” Belum selesai aku mengutarakan maksudku ia sudah berdiri dan mendekati aku dengan mata yang tajam melotot.“ He.., Min! kamu anggap aku ini bapakmu apa..!, kalau tidak punya biaya jangan sok menyekolahkan segala. Kalau tidak mampu jangan sok kaya, he,..! dengar ya, aku menggaji kamu bukan untuk sekolah adikmu, kalau urusan lain itu urusan mu bukan urusanku ngerti !”. Begitu pedih ucapan itu, aku hanya menunduk dan mengutuk dalam hati“ Iya pak tapi saya benar-benar membutuhkannya,tolong saya Pak,...?!, saya tidak tahu lagi pinjam kemana, biarlah bulan depan saya tidak digaji, yang penting adik saya bisa ikut ujian?!”. Aku mengiba, kata-kataku sedikit dipikirkannya, terlihat dari kerut di keningnya.“ Baik !, akan aku buatkan surat bonnya dan bulan depan kamu tidak mendapatkan gaji.” Aku mengangguk cepat, rasa senang dan bahagia begitu aku rasakan, walau bulan depan entah aku akan makan apa, yang penting adikku bisa mengikuti ujian.Buru-buru aku keluar menuju ruang bendahara, sambil membawa selembar surat dari bosku.Tiga lembar uang ratusan ribu aku selipkan dalam saku celanaku.“Akhirnya adikku bisa juga mengikuti ujian kelulusan,” Batinku puas. Rasa bahagia, bangga, sangat aku rasakan.Juni ’04Hari ini akhir bulan, aku benar-benar tidak diberi gaji oleh bosku. Bulan ini tenagaku terkuras penuh. Hutang di warung baru separuh aku bayar. “ Oh Tuhan, Ya..Allah beri hamabamu kesabaran yang tidak terbatas, agar hambamu terhindar dari perbuatan yang Engkau hinakan. “Hari ini, aku harus berpuasa, karena tidak ada lagi uang yang tersisa, mau hutang di warung lagi, aku malu. Hutang ku bulan kemarin belum bisa aku bayar. Mungkin sebulan ini aku harus mencari cara untuk bisa mendapatkan dana seseran.“ Ya Allah Murahkan RezkiMu, Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah lagi Maha Kaya Raya.” Hatiku tidak henti-hentinya berdo’a. Hanya pasrah yang aku bisa perbuat. Hari makin sepi aku rasa, yang terus menghibur hanya hinaan dan cacian. Dikerjakan tidak dikerjakan sama saja hasilnya, selalu saja dimarah. Aku mulai berfikir untuk pindah saja dari pekerjaan ini, aku yakin diluar sana masih banyak yang lebih baik “ Kamu tidak pernah pecus bekerja, apa yang kamu kerjakan Min?!”’. Bentak bosku, di tengah-tengah orang ramai. Aku hanya tertunduk, tidak ada yang bisa aku ucapkan, suaranya terlalu keras, sangat menyakitkan.“ He..! dengar ya , Min,! kamu seharusnya bersyukur bisa bekerja di sini, dari pada kamu, lontang lantung tidak karuan. Kamu seharusnya berterima kasih padaku, karena aku bisa kasih kamu kerjaan, coba kamu lihat diluar sana, banyak orang ngantri mencari pekerjaan. Sekarang aku mau tanya, darimana kamu dapatkan uang tambahan itu. Kamu maling ya, apa kamu jual alat-alat yang ada di kantor ini ha !. “. Apa yang hendak aku jawab. Ingin aku jelaskan padanya darimana aku mendapatkan uang tambahan itu. Uang itu aku dapat dari mereka yang menyuruhku memfoto cofy berkas atau menyuruhku membeli rokok diwarung, bahkan ada yang Cuma-cuama memberiku uang, karena mereka kasihan terhadapku. Aku tidak pernah meminta apalagi aku harus mencuri.” Ya Allah cobaan Mu begitu indah aku rasakan, aku semakin tunduk pada KebesaranMu Ya Allah. Lindungilah hamba Mu dari segala fitnahan ini”. Aku hanya bisa menghembuskan nafas berat, aku ingin sekali meninju mukanya yang bengis itu, ingin sekali aku meremas mukanya yang begitu menjijikan itu. Aku bersyukur dan berterima kasih bukan padanya, tapi pada Allah.“ Min..! aku tidak mau melihat mukamu lagi di sini, mulai besok kamu sudah harus pergi dari sini, aku tidak mau mempunyai kacung seorang pencuri..!” Bentaknya sambil menunjuk wajah ku. Aku hanya tertunduk, ingin sekali aku menangis karena malu, ingin sekali aku menendang perut buncit itu, tapi apa gunanya.Aku memang harus pergi dari tempat ini, cukup sudah bekal yang harus aku bawa untuk melangkah kedepan kearah yang lebih baik.Memang tidak nyaman rasanya menjadi bawahan, selalu saja menjadi tempat pelampiasan amarah atasan. Mudah-mudahan jika aku diberi kepercayaan jadi pimpinan aku tidak akan semena-mena terhadap bawahan. Sakit hati ini, jika kita di maki, dimarah tanpa tahu sebab kesalahannya. Apalagi dihina dan difitnah di depan banyak orang.Aku berlalu dari hadapan manusia itu, manusia yang bermuka iblis. Dengan berjuta sakit yang ku bawa, orang-orang memandangku penuh dengan keibaan. Bahkan ada yang menangis. Aku bersyukur, akhirnya aku terlepas juga dari tempat yang aku rasa bagai dipenjara jaman Jepang. Walau tanpa pesangon, aku bersyukur, karena Allah telah menunjukan jalan yang terbaik untukku.Berbekal penderitaan, hinaan, dan serba kekurangan aku jalani hidup ini penuh dengan kesabaran. Aku punya keyakinan, bahwa Allah Maha Adil, Pengasih dan Penyayang.* * * * * *Parmin menghela nafas, ditutup buku harian masa lalunya. Ia sandarkan tubuhnya di kursi kayu matanya berkaca, seakan ia melihat dirinya dimasa lalu, sedang di caci maki bos, sedang mengepel lantai, mengelap kaca, bahkan sedang sedih duduk ditepian jendela, merenung mencari jalan keluar untuk mendapatkan uang agar adiknya bisa terus sekolah.

Minggu, 25 Oktober 2009

kisah dua orang pencuri

Penulis : Febriya Fajri

pada tahun 1887, disebuah toko makanan kecil, Seorang pria yang tampak terkemuka berumur lebih kurang 60 tahun
membeli lobak hijau. Dia menyerahkan kepada pelayan selembar uang dua puluh dolar dan menunggu kembaliannya. Pelayan toko menerima uang dan mulai memasukkannya ke laci sementara dia mengambil kembalian. Walau demikian, dia melihat ada tinta pada jarinya, yang masih basah karena memegang lobak hijau. Dia terkejut dan berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya. Setelah sesaat bergulat dengan masalah itu, dia membuat keputusan. Pembeli itu adalah Emmanuel Ninger, teman lama, tetangga, dan pelanggan. Tentunya orang ini tidak akan memberinya uang palsu. Dia pun memberikan kembalian dan pembeli tersebut pun pergi.

Kemudian, si pelayan toko berpikir kembali karena uang dua puluh dolar merupakan jumlah yang sangat besar pada tahun 1887. Dia akhirnya memanggil polisi. Seorang polisi merasa yakin bahwa uang dua puluh dolar itu asli. Polisi lainnya kebingungan tentang tinta yang terhapus. Akhirnya, rasa ingin tahu yang diperpadukan dengan tanggung jawab memaksa mereka untuk meminta surat penggeledahan atas rumah Ninger. Di rumah tersebut, di loteng, mereka menemukan fasilitas untuk mencetak uang lembaran dua puluh dolar. Bahkan mereka menemukan lembaran uang dua puluh dolar yang masih dalam proses pencetakan. Mereka juga menemukan tiga potret diri yang dilukis oleh Ninger.

Ninger adalah seorang pelukis, dan pelukis yang ahli. Dia begitu ahli, sehingga dia melukis lembaran dua puluh dolar dengan tangan! Dengan teliti, goresan demi goresan, dia menggunakan sentuhan keahliannya sedemikian cermat sehingga dia bisa membodohi setiap orang sampai hari itu.

Setelah dia ditangkap, potret dirinya dijual dalam sebuah lelang umum dan terjual seharga $16.000, berarti lebih dari $5.000 per lukisan. Ironi dari kisah ini adalah bahwa Emmanuel Ninger menghabiskan waktu yang tepat sama untuk melukis uang dua puluh dolar seperti yang dilakukannya untuk melukis potret diri seharga $5.000.

Ya, orang cemerlang yang berbakat ini menjadi pencuri dalam segenap arti katanya. Tragisnya, orang yang paling banyak dicurinya adalah Emmanuel Ninger sendiri. Bukan hanya dia seharusnya menjadi orang kaya secara sah bila dia memasarkan kemampuannya, tetapi seharusnya dia bisa membeli begitu banyak kesenangan dan begitu banyak
keuntungan bagi sesamanya. Dia termasuk dalam daftar pencuri yang tidak ada habis-habisnya mencuri dari dirinya sendiri ketika mereka berusaha mencuri dari orang lain.

Apakah kita adalah "Emmanuel Ninger" yang lain, yang memanfaatkan bakat, ketrampilan, dan diri kita hanya untuk menghasilkan $20, padahal sebenarnya kita bisa menghasilkan $5.000?
apakah kita layaknya seorang Emmanuel Ninger, yang tidak menghargai dan memanfaatkan bakat yang kita punya untuk sesuatu yang berarti, tetapi malah menyia-nyiakannya untuk merusak diri.

yakinlah setiap manusia memiliki potensi dan bakat dalam dirinya... manfaatkanlah bakat tersebut untuk membuat diri melesat, bukan untuk sesuatu yang sia-sia.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Bocah Kampung Menyibak Langit

by: sikhod

Malam menutup hari, menerangi kegelapan dengan para bintang yang menggantung. Bocah-bocah berusia sekitar sepuluh tahunan bermain dengan riang selepas shalat di mushala kampung. Pakaian bocah-bocah itu lusuh. Bagai mendengar panggilan dari sang bintang, salah seorang dari mereka mendongak melihat langit. Ia gembira menjumpai jutaan bintang di langit kampung pedalaman Sumatera Utara itu. Salah seorang temannya melihat gelagatnya dan ikut menatap ke atas. "Sedang apa kau Tak?" Tanya temannya itu heran. "Aku penasaran dengan bintang-bintang itu! Bisa tidak ya kita kesana?" Bocah yang biasa dipanggil Taki itu menjawab polos. "Ah kau ada-ada saja! Mana bisa kita terbang!" Sahabatnya yang bernama Burhan itu menggelengkan kepala. "Tapi tak bisakah kita menelitinya? Seperti para ilmuwan itu-lah! Menemukan rumus-rumus, atau kendaraan untuk keluar langit!" Taki tersenyum berkhayal. "Ah, mimpimu terlalu tinggi! Ingatlah Tak, kita ini anak orang tak punya! Besok bisa makan pun sudah syukur kurasa! Kasihan umak-ayah kita, jangan kau bebankan dengan mimpimu yang terlalu tinggi itu!" Burhan memperingatkan. Taki menarik kepalanya demi menatap sahabatnya, "Tak bolehkah aku tinggi-tinggi bermimpi! Ah, terserah aku lah, aku yang memikirkan!" Burhan lelah menasihatinya "Terserahmulah!" Ia beranjak meninggalkan teman mainnya itu. Sore itu di kampung yang sama, angin mulai bertiup sejuk, sinar matahari tak lagi menusuk kulit. Selepas mandi bocah-bocah kampung bermain-main lagi. Mereka tak perlu uang untuk menghibur diri mereka. Mereka bisa dengan kreatif bermain memanfaatkan kemurahan alam. Saat kelelahan, Taki menelentangkan diri di tanah. Lagi-lagi ia tertarik melihat langit. Beberapa temannya yang juga kelelahan mengikuti tingkahnya. "Lihat apa kau Tak?" Kali ini, Faiz yang telentang di sebelahnya yang bertanya. "Aku suka melihat langit! Tak tertarikkah kau Faiz? Langit itu misterius, aku ingin menyibaknya, menemukan apa gerangan dibaliknya!" Taki mencurahkan lagi impiannya "Ah aneh kau Tak! Langit mana bisa disibak! Lagipula sudah cukup kurasa guru menjelaskan. Disana ada bulan, matahari dan planet-planet, ah entah apa namanya, tak hapal aku!" Faiz berfikir sederhana. Taki yang memang besar rasa penasarannya tidak setuju. "Ah tak cukup itu buatku! Ingin aku menemukan lebih!" Taki asyik mengamati bentuk gumpalan dan semburat awan, mengilat memantulkan cahaya mentari. "Kau temukan saja bintang jatuh kalau kau bisa! Kau umumkan nanti!" Faiz menyarankan sok tahu, "Tapi kalau kau terkenal, ajak-ajak aku ya!" Imbuhnya. "Ah mana pula bintang bisa jatuh!" Taki menganggap istilah itu konyol. "Tapi sering kudengar orang menyebut istilah bintang jatuh!" Faiz membela diri. "Ah terserahmulah percaya atau tidak! Tapi kau kan tidak punya banyak uang Tak!" Faiz mengomentari. "Lalu?" Taki mengernyitkan alis. "Naik apa pula kau menyibak langit? Harga naik pesawat terbang saja sudah tak terjangkau oleh kita! Asal kau tahu Tak, itu setara uang makan kita lima bulan! Kau tahu itu?" Informasi Faiz sok pintar. "Aku nanti yang akan mencari jalannya, tak akan kubiarkan umak atau ayahku yang mencari uangnya!" Taki tersenyum optimis. "Bagaimana pula caranya, ah bermimpi sajalah kau Tak!" Faiz mulai merasa impian temannya itu konyol. "Kau lihat saja Faiz! Suatu hari nanti wajahku akan muncul di tivi karena bisa menguak langit itu! Kau dengar itu!" Janji Taki Optimis. Delapan belas tahun kemudian peristiwa itu terjawab. Di sebuah gedung yang megah dengan arsitektur yang ditata elegan, semua pihak sibuk menyiapkan sebuah konferensi pers istimewa. Semua yang berlalu lalang terlihat tinggi besar badannya dengan ras Kaukasoid atau Negroid. Semua orang terdengar fasih melafalkan ucapan berbahasa inggris, Tentu saja, inilah Amerika, tempat semua mimpi bisa jadi nyata, juga tempat dimana NASA akan meluncurkan pesawat baru untuk meneliti Mars. Semua orang yang bersiap segera sumringah wajahnya mengetahui serombongan anggota NASA mulai datang menuruni mobil-mobil mewah. Yang menjadi pusat perhatian disini tentu saja mereka yang akan diterbangkan dalam pesawat terbaru itu. Berbagai channel televisi mulai meliput wawancara dengan para astronot yang diberi kepercayaan dalam misi itu. Di sebuah kampung, para warga berkumpul di rumah seorang suami-istri renta, bergembira menyaksikan wawancara itu. Kebanyakan diantaranya remaja dan anak-anak. Terlihat salah seorang reporter tertarik membawa seorang astronot dalam pembicaraannya. Astronot yang ini memiliki ras mongoloid, pemuda yang wajahnya sangat asia. Senyum kemenangan tersungging di wajahnya, tersiar langsung ke seantero antena yang menontonnya. "Anda, Mr Taqiyuddin, kalau tidak salah cuma anda yang berasal dari Asia dalam perjalanan ini ya? Bagaimana komentar anda?" Si Reporter wanita menyodorkan miknya. "Alhamdulillah, iya! Saya bersyukur bisa memenuhi mimpi kecil saya ini atas kerja keras saya!" Wajah asia nan rupawan itu menjawab berwibawa. "Darimana anda berasal?" Si reporter mengkonfirmasi. "Indonesia, sebuah tanah surga di garis khatulistiwa! Tepatnya dari Sumatera Utara!" Pemuda itu menjawab bangga. "Dan karena ini penerbangan pertama anda, apakah keluarga anda ada si sini menyaksikan langsung?" Reporter wanita kembali menyodorkan miknya. "Tidak, sayangnya mereka tidak bisa berpergian jauh karena orangtua saya sudah terlalu tua! Tapi saya yakin mereka menyaksikan saya dari sana!" Ia melambai ke kamera. "Kalau begitu apa ada yang ingin anda ucapkan ke keluarga atau kerabat yang menonton anda?" Reporter itu menawarkan kesempatan. Mata pemuda itu menahan haru, khusus kali ini ia berbicara penuh dengan bahasa indonesia. "Terimakasih umak, ayah! Aku ada di sini berkat do'a dan restu kalian! Do'akan Taqi selama di perjalanan ini! Buat semua anak-anak, khususnya anak Indonesia, jangan takut buat bermimpi sesusah apapun hidup kalian! Karena mimpi ini aku bisa berdiri di sini! Selama kita tidak menyerah meraih mimpi itu, bukan mustahil mimpi itu akan menjadi nyata!" Taqiyuddin mengepalkan tangan, menahan haru yang membuncah mengenang perjalanannya menuju mimpinya yang banyak ditentang dan diremehkan orang. "Oh iya satu lagi!" Tambah Taqiyuddin teringat. "Faiz, Burhan, lihat ini! Benar kan apa yang kubilang dulu! Aku sudah memenuhi janjiku! Jangan lagi kalian meremehkan mimpi siapapun!" Taqi tersenyum menahan tawa geli teringat perkataan kedua sahabatnya itu. "Karena aku sudah membuktikannya, awas kalau kalian tidak menepati janji kalian untuk membelikanku sarung saat aku pulang nanti!"

Selasa, 12 Mei 2009

NAMAKU TEGAR

Sebuah surat undangan tergeletak di atas meja, kertasnya berwarna kuning: berhias bunga-bunga mawar yang timbul. kesan mewah kertas undangan itu tentu saja akan menggambarkan betapa mewahnya acara yang akan di selenggarakan oleh si-empunya acara yang mengirimkan surat undangan itu.
Halaman depan surat itu tertulis kepada Yth. saudara Tegar aditiya,sedangkan di pojok bawahnya tertanda :Dr. H. bachri, di bawah nama itu tertera pula jabatan si-empunya nama : BUPATI kota X.
Aku terhenyak di kursiku, memikirkan sesuatu !!
***
Apa yang dipikirkan sang surya ketika ia menyinari bumi ini dengan sinarnya yang hangat ?, itu seperti bagaimana kita merelakan sebagaian dari hidup dan hak-hak kita untuk berbagi bersama orang lain. Meniru sifat mentari itulah, kini aku berusaha untuk hidup sebagai seorang yang terlahir dengan nama : Tegar.
Sebuah nama seperti orang-orang tua kita bilang : nama bukan sembarangan.Nama pada akhirnya menjadi sebuah do'a yang akan selalu mengiringi hidup kita di bumi Sang Khaliq ini. sebagian lagi menyebut nama sebagai pembawa keberuntungan : baik bagi si empunya nama atau pun orang lain yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu sangat disayangkan bila orang tua bapak dan ibu kita memberikan sebuah nama dengan tanpa pertimbangan yang rasional
Lalu bila namaku adalah Tegar aditiya, coba katakan padaku :"apa yang kau pikirkan pertama kali ketika mendengar nama ini ?",
Kau bilang :"bila artinya sebuah do'a itu berarti Tegar selalu mendapatkan kekuatan ketika menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya, atau mungkin orang tua Tegar ingin agar dia selalu bisa se-kuat Mentari (Aditiya dalam basa jawa:matahari).
Lalu pada akhirnya, di puncak kebingunganmu meramalkan apa arti dan maksud orang tuaku memberikan nama seperti ini, pada sebuah kebuntuan pikiran yang membuatmu semakin muak atau juga penasaran kau bilang : terserah lah !itu adalah namau sendiri , kenapa kau tanya pada saya yang bukan siapa-siapa-mu ini?
lalu pikiranku membimbingku dalam sebuah metafor tentang realita bangsa kita saat ini: betapa masa bodohnya anda dengan orang lain.
Kemudian aku mulai merasa sendirian, di tengah sepiku yang tak berkesudahan tiba-tiba tak ada seorangpun yang bisa ku ajak untuk berbagi. asal kau tahu, keadaan seperti inilah yang sering membuatku merasakan sebuah rasa yang teramat ganjil untuk seorang yang bernama :Tegar .saat seperti itu Aku benar-benar merasa rapuh dan sendirian. tahukah kau ?
***
Akhirnya akupun mulai merasa berat menjalani hidup sebagai seorang Tegar, tapi keadaan di sekelilingku selalu menuntut agar aku selalu bisa menjadi tegar. Kadang kala aku ingin memberontak pada semuanya: pada keadaan yang begitu menjepitku tanpa ampun.Tapi sebuah nama yang terukir ini membuatku terus bertanggung jawab terhadap semuanya, terhadap hidup dan eksistensiku dimata Orang lain .
Aku tak ingin terlihat lemah di mata orang lain, apalagi sampai terlihat begitu membutuhkan orang lain, apalagi sampai bergantung pada orang lain.Aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun, sekalipun kau sering merasa kesepian di tengah hiruk pikuk dunia ini.
Aku baru sadar bahwa pikiranku mulai terbelenggu dengan keadaan yang mengahruskanku menjaga kemurnian arti sebuah nama, bisa kah kau paham tentang hal ini.
Aku tak tahu untuk siapa aku berjuang mempertahankannya :apakah untuk orang tuaku atau untukku sendiri?. yang jelas nama Tegar telah membuatku menjadi seorang yang begitu sibuk dan mengalami hiruk pikuk yang hebat di kala sendirian.
Lalu suatu hari seseorang datang dan memuji sikapku, tak tanggung-tanggung beliau seorang Bupati kota tempat tinggalku.tahukah kau apa yang diucap bupati itu untukku ?
"sebagai seorang Tegar anda telah begitu berhasil dalam menunjukkan ke-Tegar-an anda?"
Aku diam diam bangga , di acara yang dihadiri pejabat-pejabat penting itu , semua mata tertuju padaku : semua orang memperhatikanku.aku semakin dikurung dalam sebuah keterbatasan yang menyesakkan,
"saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib yang akan menimpa kantor pendapa ini, jika anda tidak segera bertindak waktu kejadian itu".
Aku tersenyum.
"oleh karena itu kami hendak memberikan sebuah hadiah sekaligus penghargaan kepada anda, terimalah !"
diserahkannya sebuah amplop berisi si-merah, lalu selembar surat dinas yang begitu asing bagiku, aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
"ini untuk anda, semua atas jasa-jasa anda. "
lagi-lagi aku tersenyum.
" lagi pula saya rasa sudah waktunya mengganti petugas satpam Pendapa yang rupanya sudah waktunya pensiun itu".
sementara itu di sebuah pojok ruangan seseorang begitu murung, sambil sesekali merenungi nasibnya. dia tidak lain adalah satpam pendapa yang baru saja di pecat sebab keteledorannya.
subuh kemarin hampir saja kantor pendapa di jarah maling, tapi seseorang yang bernama Tegar, telah dengan berani menghantam kening maling-maling itu. sebuah pentungan karatan melelehkan bekas darah yang mengering, menandakan kejadian waktu itu.

Fatimah Si Pemintal dan Tenda

Konon di sebuah kota Timur Jauh hiduplah seorang gadis bernama Fatimah. Ia adalah seorang anak pemintal yang makmur. Suatu hari ayahnya berkata kepadanya, “ Sini anakku, kita akan memulai sebuah perjalanan, karena aku punya urusan dagang di kepulauan Laut Tengah. Mungkin kau akan menemukan seorang pemuda ganteng dalam kondisi yang baik untuk menjadi suamimu.”

Mereka berangkat dan mengarungi pulau demi pulau, sang ayah melakukan perdagangan sementara Fatimah memimpikan seorang suami yang mungkin segera menjadi miliknya. Namun demikian, suatu hari saat mereka sedang dalam perjalanan menuju Krete ketika sebuah badai besar menghantam , dan kapal itu pun pecah. Fatimah setengah sadar, terdampar di sebuah pantai dekat Aleksandria. Ayahnya wafat, dan ia benar-benar menjadi miskin papa.

Ketika ia berjalan-jalan di atas pasir, sebuah keluarga pembuat kain menemukannya. Meskipun mereka miskin , tetap membawa gadis itu ke rumah meraka yang sederhana dan mengajari membuat kain. Jadi itulah kehidupannya yang kedua, dan dalam dua tahun fatimah merasa bahagia dan melupakan penderitaannya. Tetapi suatu hari, ketika ia sedang berada di pantai karena beberapa alasan, sekelompok pedagang budak mendarat dan membawanya, bersama-sama dengan tawanan lain berlayar bersama mereka.

Meskipun ia sangat meratapi nasibnya, Fatimah tidak mendapatkan simpati dari para pedagang budak itu, yang membawanya ke Istanbul dan menjualnya sebagai seorang budak.

Dunianya telah runtuh untuk kedua kalinya. Sekarang beberapa pembeli sudah ada di pasar. Salah satu dari mereka adalah seorang laki-laki yang sedang mencari beberapa budak untuk dipekerjakan di perkebunan kayu miliknya, tempat ia membuat tiang-tiang kapal. Ketika ia melihat kekesalan Fatimah yang malang, ia memutuskan untuk membalinya. Ia berfikir bahwa dengan cara ini,setidaknya, dirinya mungkin dapat memberi Fatimah sebuah kehidupan yang sedikit lebih baik dari pada jika dibeli oleh orang lain.

Ia membawa Fatimah ke rumahnya, yang bermaksud menjadikannya sebagai pembantu rumah tangga untuk istrinya. Tetapi sesampai di rumah, laki-laki itiu mendapati bahwa dirinya telah kehilangan semua uang di sebuah kargo yang dirampas oleh perompak. Ia tidak dapat membayar para pekerja, sehingga dirinya, Fatimah maupun istrinya bekerja keras membuat tiang-tiang kapal.

Fatimah merasa berterima kasih kepada majikannya karena telah menyelamatkannya. Karena bekerja begitu keras dan rajin sehingga laki-laki tersebut memberinya kebebasan, dan Fatimah menjadi pembantu yang terpercaya. Jadi saat itulah ia menjadi sangat bahagia untuk ketiga kalinya.

Suatu hari laki-laki itu berkata kepadanya,” Fatimah, aku ingin kau pergi dengan kargo berisi tiang-tiang kapal itu ke Jawa, sebagai agenku, dan pastikan kau menjualnya dengan untung besar.”

Ia pun berangkat, tetapi ketika kapalnya meninggalkan pantai Cina sebuah topan menghajarnya, dan Fatimah mendapati dirinya lagi-lagi terdampar di sebuah pantai di kepulauan yang asing. Sekali lagi ia meratapi diri, karena merasa bahwa tak satupun hal dalam kehidupannya berjalan sesuai dengan harapannya. Ketika semua tampak berjalan lancar, sesuatu muncul dan menghancurkan semua harapannya.

“Mengapa?” teriaknya, untuk ketiga kaliya,” setiap aku mencoba melakukan sesuatu selalu berakhir dengan duka? Mengapa begitu banyak kemalangan menimpaku?” Tetapi tidak ada jawaban. Maka ia beranjak dari pantai pasir itu, dan mulai berjalan ke pedalaman.

Saat itu di Cina, tak seorang pun pernah mendengar tentang Fatimah ataupun tahu sedikit pun tentang masalah-masalahnya. Tetapi ada sebuah legenda bahwa pada suatu hari pasti akan datang seorang perempuan asing, yang akan mampu membuat sebuah tenda untuk Sang Kaisar. Dan, karena tak seorangpun di Cina bisa membuat tenda, setiap orang berharap prediksi ini akan terwujud, dengan antisipasi yang luar biasa.

Dalam upaya untuk memastikan bahwa orang asing ini, ketika ia datang, tidak akan hilang, secara turun temurun para Kaisar Cina telah mengikuti adapt ini dengan mengirimkan bentara (pembantu kaisar), setahun sekali, ke seluruh pelosok negeri, kota dan desa, yang meminta perempuan asing manapun untuk dihadapkan ke Istana.

Ketika Fatimah memasuki sebuah kota di pantai Cina, itulah awalnya. Orang-orang berbicara kepadanya melalui seorang penerjemah, dan menjelaskan bahwa dirinya harus pergi menemui Sang Kaisar.

“ Nona,” kata Kaisar, ketika Fatimah dibawa ke hadapannya, “bisakah kau membuat sebuah tenda?”
“ Saya kira bisa, Tuan,” kata Fatimah.

Ia meminta seutas tali, tetapi tak seorang pun memilikinya. Maka, ketika ia ingat bahwa dirinya pernah menjadi seorang pemintal, ia pun mengumpulkan batang linen (rami) dan membuat tali. Kemudian meminta kain yang kuat, tapi tak seorang pun di Cina mempunyai apa yang diinginkannya. Maka dengan memanfaatkan pengalamannya bersama dengan para tukang tenun di Aleksandria, ia membuat beberapa lembar kain tenda yang kuat. Kemudian ia mendapati bahwa dirinya membutuhkan beberapa tiang tenda, tetapi tak satu pun tiang di Cina. Maka Fatimah, mengingat-ingat bagaiman ia telah diajari oleh pembuat tiang kapal di Istanbul, dengan menakjubkan ia membuat tiang-tiang tenda yang kuat. Ketika semuanya telah siap, ia memeras otaknya untuk mengingat semua tenda yang pernah dilihatnya sepanjang perjalanan dan akhirnya, jadilah tenda itu.

Ketika kekaguman ini dilihat sang Kaisar Cina, ia menawarkan kepada Fatimah untuk memenuhi segala permintaannya. Fatimah memilih untuk tinggal di Cina, di mana ia menikah dengan seorang pangeran tampan, dan hidup bahagia, dikelilingi oleh anak-anak mereka, sampai akhir hayatnya.

Melalui pertualangan-pertualangan inilah yang membuat Fatimah menyadari bahwa apa yang tampak menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan waktu itu, berubah menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan sejati

Sabtu, 25 April 2009

Doa Sally

Sally baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Georgi. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Georgi… tapi mereka tidak punya biaya untuk itu.

Sally mendengar ayahnya berbisik, “Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang.”

Sally pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat…tiga kali. Nilainya harus benar-benar tepat.

Dengan membawa uang tersebut, Sally menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di sudut jalan. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian… tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Sally berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal.

Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase.

Berhasil !

“Apa yang kamu perlukan?” tanya apoteker tersebut dengan suara marah.

“Saya sedang berbicara dengan saudara saya.”

“Tapi, saya ingin berbicara kepadamu mengenai adik saya,” Sally menjawab dengan nada yang sama. “Dia sakit…dan saya ingin membeli keajaiban.”

“Apa yang kamu katakan?” ,tanya sang apoteker.

“Ayah saya mengatakan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwanya sekarang… jadi berapa harga keajaiban itu ?”

“Kami tidak menjual keajaiban, adik kecil. Saya tidak bisa menolongmu.”

“Dengar, saya mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya.”

Seorang pria berpakaian rapi berhenti dan bertanya, “Keajaiban jenis apa yang dibutuhkan oleh adikmu?”

“Saya tidak tahu,” jawab Sally. Air mata mulai menetes dipipinya.

“Saya hanya tahu dia sakit parah dan mama mengatakan bahwa ia membutuhkan operasi.

Tapi kedua orang tua saya tidak mampu membayarnya… tapi saya juga mempunyai uang.”

“Berapa uang yang kamu punya ?” tanya pria itu lagi.

“Satu dollar dan sebelas sen,” jawab Sally dengan bangga.

“Dan itulah seluruh uang yang saya miliki di dunia ini.”

“Wah, kebetulan sekali,” kata pria itu sambil tersenyum. Satu dollar dan sebelas sen… harga yang tepat untuk membeli keajaiban yang dapat menolong adikmu. Dia Mengambil uang tersebut dan kemudian memegang tangan Sally sambil berkata, “Bawalah saya kepada adikmu. Saya ingin bertemu dengannya dan juga orang tuamu.”

Pria itu adalah Dr. Carlton Armstrong, seorang ahli bedah terkenal….

Operasi dilakukannya tanpa biaya dan membutuhkan waktu yang tidak lama sebelum Georgi dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Kedua orang tuanya sangat bahagia mendapatkan keajaiban tersebut.

“Operasi itu,” bisik ibunya, “Adalah seperti keajaiban. Saya tidak dapat membayangkan berapa harganya”

Sally tersenyum. Dia tahu secara pasti berapa harga keajaiban tersebut…satu dollar dan sebelas sen… ditambah dengan keyakinan

Orang Brengsek Guru Sejati

Orang Brengsek Guru Sejati
oleh : Gede Prama

Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya
untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With DifficultPeople.
Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama, dll.

Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia
sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit.

Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk
memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan
perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka;
seperti keras kepala, menang sendiri, dll dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian darimereka hanya tersenyum kecut.

Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca
mata terlebih dahulu,sebelum melihat orang lain. Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan kotor.
Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukan
Anda sendiri yang sulit.

Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikit saja pun
jadi sulit. Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.

Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam
keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit.

Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru
kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit. Terutama karena beberapa alasan.

Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa
menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu.

Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka
menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak. Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.

Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi
orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini ( baca : tubuh dan jiwa ini ) menjadi lebih longgar ( sabar ).

Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar,
namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal.

Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya,
pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain.
Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.

Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan.
Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.

Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi
orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain.

Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini
rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya menghina kita.

Tujuh buah kata

Aku tahu aku berbeda dari anak-anak lain. Dan aku amat membencinya. Ketika aku mulai bersekolah, teman-teman selalu mengejekku, maka aku semakin tahu perbedaan diriku. Aku dilahirkan dengan cacat. Langit-langit mulutku terbelah.Ya, aku adalah seorang gadis kecil dengan bibir sumbing, hidung bengkok, gigi yang tak rata. Bila berbicara suaraku sumbang, sengau dan kacau. Bahkan aku tak bisa meniup balon bila tak kupejet hidungku erat-erat.

Jika aku minum menggunakan sedotan, air akan mengucur begitu saja lewat hidungku.

Bila ada teman sekolahku bertanya, “Bibirmu itu kenapa?” Aku katakan bahwa ketika bayi aku terjatuh dan sebilah pecahan beling telah membelah bibirku.

Sepertinya aku lebih suka alasan ini daripada mengatakan bahwa aku cacat semenjak lahir. Saat berusia tujuh tahun aku yakin tidak ada orang selain keluargaku yang mencintai aku. Bahkan tidak ada yang mau menyukaiku.

Saat itu aku naik ke kelas dua dan bertemu dengan bu Leonard. Aku tak tahu apa nama lengkapnya. Aku hanya memanggilnya bu Leonard. Beliau berparas bundar, cantik dan selalu harum. Tangannya gemuk. Rambutnya coklat keperakan. Matanya hitam lembut yang senantiasa tampak tersenyum meski bibirnya tidak. Setiap anak menyukainya. Tetapi tak ada yang menyintainya lebih daripada aku. Dan aku punya alasan tersendiri untuk itu.

Pada suatu ketika sekolah melakukan test kemampuan pendengaran; yaitu mendengar kata yang dibisikkan dengan satu telinga ditutup bergantian. Terus terang sulit bagiku untuk mendengar suara-suara dengan satu telinga. Tidak ada orang yang tahu akan cacatku yang satu ini. Aku tak mau gagal pada test ini lalu menjadi satu-satunya anak dengan segala cacat di sekujur tubuhnya.

Maka aku mencari akal untuk menyusun rencana curang.

Aku perhatikan setiap murid yang ditest. Test berlangsung demikian: setiap murid diminta berjalan ke pintu kelas, membalikkan tubuh, menutup satu telinganya dengan jari, kemudian bu guru akan membisikkan sesuatu dari mejanya tulisnya. Lalu murid diminta untuk mengulangi perkataan bu guru. Hal yang sama dilakukan pada telinga yang satunya. Aku menyadari ternyata tak ada seorang pun yang mengawasi apakah telinga itu ditutup dengan rapat atau tidak. Kalau begitu aku akan berpura-pura saja menutup telingaku. Selain itu aku tahu dari cerita murid-murid yang lain bu guru biasanya membisikkan kata-kata seperti, “Langit itu biru” atau “Apakah kau punya sepatu baru?”.

Kini tiba pada giliran terakhir; giliranku. Aku berjalan ke luar kelas, membalikkan tubuh lalu menutup telingaku yang cacat itu dengan kuat tetapi kemudian perlahan-lahan merenggangkannya sehingga aku bisa mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh bu guru. Aku menunggu dengan berdebar-debar kata-kata apa yang akan dibisikkan oleh bu Leonard. Dan bu Leonard, bu guru yang cantik dan harum, bu guru yang aku cintai itu, membisikkan tujuh buah kata yang aku telah mengubah hidupku selamanya. Ia berbisik dengan lembut, “Maukah kau jadi putriku, wahai gadis manis?” Tanpa sadar aku berbalik, berlari, memeluk bu Leonard erat-erat, dan membiarkan seluruh air mataku tumpah di tubuhnya.

Tulisan singkat dari Prof Yohanes Surya dari Olimpiade Fisika Dunia ke 37 Singapore 2006

Tulisan singkat berikut berasal dari Prof Yohanes Surya.

Hasil ini menunjukkan bangsa kita punya potensi besar untuk sukses di
dunia,kita hanya perlu kerja keras untuk mencapai itu.

Beberapa kesan dari Olimpiade Fisika Dunia ke 37 Singapore 2006

1. Waktu upacara pembagian medali, Dutabesar kita duduk disamping para
dutabesar dari berbagai negara seperti filipina, thailand, dsb. Waktu
honorable mention disebutkan, ternyata tidak ada siswa Indonesia.
Dubes-dubes bertanya pada dubes kita (kalau diterjemahkan) “kok nggak ada
siswa Indonesia”. Dubes kita tersenyum saja. Kemudian setelah itu
dipanggil satu persatu peraih medali perunggu. Ada yang maju dari filipina,
thailand, kazakhtan dsb. Lagi-lagi dubes negara sahabat bertanya “kok
nggak ada siswa Indonesia?” Kembali dubes kita tersenyum. Dubes kita menyalami
dubes yang siswanya dapat medali perunggu.

Kemudian ketika medali perak disebut, muncul seorang anak kecil (masih
SMP) dengan peci sambil mengibarkan bendera kecil, dan namanya diumumkan
Muhammad Firmansyah Kasim…dari Indonesia… Saat itu dubes negara
sahabat kelihatan bingung, mungkin mereka berpikir “nggak salah nih…”. Ketika
mereka sadar, mereka langsung mengucapkan selamat pada dubes kita. Tidak
lama kemudian dipanggil mereka yang dapat medali emas. Saat itu dubes
negara sahabat kaget luar biasa, 4 anak Indonesia maju ke panggung berpeci
hitam dengan jas hitam, gagah sekali. Satu persatu maju sambil
mengibar-ngibarkan bendera merah putih . Mengesankan dan mengharukan.
Semua dubes langsung mengucapkan selamat pada dubes kita sambil berkata bahwa
Indonesia hebat.

Tidak stop sampai disitu. ketika diumumkan “the champion of the
International physics olympiade XXXVII is…….”

“Jonathan Pradhana Mailoa”. Semua orang Indonesia bersorak. Bulu kuduk
berdiri, merinding…. Semua orang mulai berdiri, tepuk tangan menggema
cukup lama… Standing Ovation….Hampir semua orang Indonesia yang hadir
dalam upacara itu tidak kuasa menahan air mata turun. Air mata kebahagiaan,
air mata keharuan…. Air mata kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar…..Segala rasa capai dan lelah langsung hilang seketika… sangat mengharukan….

2. Selesai upacara, semua orang menyalami. Orang Kazakhtan memeluk
erat-erat sambil berkata “wonderful job…” Orang Malaysia menyalami berkata
“You did a great job…” Orang Taiwan bilang :”Now is your turn…” Orang
filipina:”amazing…” Orang Israel “excellent work…” Orang Portugal:”
portugal is great in soccer but has to learn physics from Indonesia”,
Orang Nigeria :”could you come to Nigeria to train our students too?” Orang
Australia :”great….” Orang belanda: “you did it!!!” Orang Rusia
mengacungkan kedua jempolnya.. Orang Iran memeluk sambil berkata “great
wonderful…” 86 negara mengucapkan selamat… Suasananya sangat
mengharukan… saya tidak bisa menceritakan dengan kata-kata…

3. Gaung kemenangan Indonesia menggema cukup keras. Seorang prof dari
Belgia mengirim sms seperti berikut: Echo of Indonesian Victory has reached
Europe! Congratulations to the champions and their coach for these amazing
successes! The future looks bright….

Marc Deschamps.

Ya benar kata Prof. Deschamps, kita punya harapan….

Sepasang Sepatu Sports

Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua
remaja.

Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya
merasa harus memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”.

Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang sepatu kulit.

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang
kepada ayah minta bantuannya.

“Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di
bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai montir.

“Willie” ayah kelihatannya terkejut.

“Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi Mengapa kini kau perlukan sepatu
baru?”

“Setiap orang memakai sepatu sport yah!”

“Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut tidak menjadikan ayah mudah
membayar sepatu sport ”

Gaji ayah kecil dan sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari
hari.

“Ayah, saya tampak seperti bloon memakai sepatu jenis ini ” kataku sambil
menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru.

Ayah memandang dalam dalam ke mataku.

Kemudian ia menjawab, “Begini saja, Kau pakai sepatu ini satu hari
lagi.Besok, di sekolah, perhatikan semua sepatu dari kawan-kawanmu. Bila
seusai sekolah kau masih berkeyakinan bahwa sepatumu paling butut
dibandingkan sepatu kawan kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan
membelikanmu sepasang sepatu sports”

Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh keyakinan
bahwa hari itu merupakan hari terakhir bagiku mamakai sepatu oxford yang
ketinggalan jaman ini.

Saya lakukan apa yang ayah perintahkan saya lakukan, namun tidak, saya
ceritakan apa yang saya lihat secara teliti.

Sepatu coklat, sepatu hitam, sepatu tennis yang sudah kusam, semua menjadi
pusat perhatianku.

Pada petang hari, saya memiliki perbendaharaan dalam ingatanku betapa
banyaknya teman teman di sekolah yang juga memakai sepatu bukan sport,
bahkan sepatu - sepatu rusak, berlobang, menganga dan lain lain bentuk yang
sudah mendekati kepunahan sebagai alat pelindung kaki.

Namun banyak juga yang memakai sepatu sport yang gagah, yang senantiasa
berdetak detik penuh gaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah
perkasa.

Setelah sekolah usai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja.
Saya hampir yakin bahwa Senin depan saya juga akan masuk kelompok yang
sedang “in”

Setiap saya menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah
memakai sepatu sport idaman saya.

Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya denting-denting
metal dari kolong sebuah chevy tua buatan tahun 1956.

Udara berbau oli, namun pada hemat penciuman saya, asyik sekali.

Hanya seorang langganan sedang menunggu ayah yang sedang bergulat di kolong
chevy tua itu.

“Pak Alva” tanya saya kepada langganan yang sedang menunggu, “masih
lamakah?”

“Entah Will. Kau tahu sifat ayahmu. Ia sedang membongkar persneling, namun
bila ia mendapatkan adanya bagian lain yang tidak beres, ia akan
menyelesaikannya juga.”

Saya bersandar pada mobil abu abu itu.

Apa yang bisa saya lihat hanyalah sepasang kaki ayah yang menjulur keluar
dari kolong mobil.

Sambil menjentik jentik lampu belakang chevy, secara tidak sadar saya
menatap kepada kaki ayah.

Celana kerjanya berwarna biru tua, kusam dan lengket terkena oli, lusuh
pula.

Sepatunya, berwarna putih tua…. ah ….bukan hitam muda……, dan sungguh
sungguh butut, sebagaimana mestinya sepatu seorang montir.

Sepatu kirinya sudah tidak bersol, dan bagian kanan masih memiliki sepotong
kecil kulit tipis, yang dahulu bernama sol. Di ujungnya, sebaris staples
menggigit kedua belah kulit kencang kencang, mencegah jempol kakinya
mengintip keluar. Tali sepatunya beriap riap, dan sebuah lubang
memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut kaus katun.

“Sudah pulang nak? “ayah keluar dari kolong mobil.

“Yes sir” kataku.

“Kau lakukan apa yang kuperintahkan hari ini?”

“Yes sir”

“Nah, apa jawabmu ?” la memandangku, seolah olah tahu apa yang akan saya
ucapkan.

“Saya tetap ingin sepatu sport ” Saya berkata tegas, dan berusaha setengah
mati untuk tidak memandang kepada sepatu ayah.

“Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu…..”

“Mengapa tidak pergi dan membelinya sekarang?” lalu ayah mengeluarkan
selembar $ 10. dan memancing uang receh untuk mencari 30 sen guna membayar
3% pajak penjualannya.

Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat pertokoan, dua blok
dari bengkel di mana ayah bekerja.

Di depan sebuah etalase, saya berhenti untuk melihat apakah sepatu sportku
masih dipajang disana. Ternyata masih! $9.95.

Namun uang saya tidak akan cukup bila saya harus membeli paku paku yang akan
dipakukan pada solnya dan menimbulkan suara klak klik yang gagah.

Saya pikir, untuk lari ke rumah dan minta bantuan dana dari mama, sebab
tidak mungkin kembali kepada ayah dan minta kekurangannya.

Pada saat saya teringat kepada ayah, sepatu tuanya tampak membayang
melintasi kedua mataku.

Jelas tampak kebututannya, sisinya yang compang camping, paku paku yang
telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk
menjepit kertas.

Sepatu kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya.

Pada waktu musim dingin yang menggigit, sepatu yang sama dipakainya
melintasi jalan jalan yang dingin, menuju kepada mobil mobil yang mogok.

Namun ayah tidak pernah mengeluh.

Terpikir olehku, betapa banyaknya benda benda yang seharusnya dibutuhkan
ayah, namun tidak dimilikinya, semata mata agar saya mendapatkan apa yang
saya ingini.

Dan kementerengan sepatu sport yang ada di balik kaca etelase di hadapanku
mulai memudar.

Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku.

Sepatu jenis apa yang saat ini kupakai, bila ayahku bersikap seperti saya
bersikap.

Saya masuk ke dalam toko sepatu itu.

Sebuah rak besar terpampang megah, penuh berisikan sepatu sport yang sungguh
keren.

Di sampingnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan “obral
besar. 50% discount”.

Dibawah bingkai itu tergeletak sepatu sepatu semodel sepatu ayah, beberapa
generasi lebih muda, tentunya.

Otakku bermain ping pong. Mula mula sepatu ayah yang butut.

Dan sekarang sepatu baru. Pikiran tentang: menjadi “in” dan seirama dengan
remaja lain di sekolah.

Dan kemudian pikiran tentang ayah,…. telah mengalahkannya.

Saya mengambil sepatu ukuran 42 dari rak yang berdiscount.

Dengan segera berjalan ke arah meja kasir, ditambah pajak, jadilah bilangan
$ 6.13.

Saya kembali ke bengkel dan meletakkan sepatu baru ayah di atas kursi di
mobilnya.

Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan uang kembalian yang masih tersisa.

“Saya pikir harganya $ 9.95″ kata ayah.

“Obral” kataku pendek.

Saya mengambil sapu, dan mulai membantu ayah membersihkan bengkel.

Pukul lima sore, ia memberi tanda bahwa bengkel harus ditutup dan kami harus
pulang.

Ayah mengangkat kotak sepatu ketika kami masuk ke dalam mobilnya.

Ketika ia membuka kotak itu, ia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan
sepatah katapun.

Ia memandang kepada sepatu itu lama-lama, kemudian kepadaku.

“Saya pikir kau membeli sepatu sport”, katanya pelan.

“Sebetulnya ayah, … tapi …. Saya tak sanggup meneruskannya.

Bagaimana saya harus menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi
seperti ayah?

Dan bila saya tumbuh menjadi dewasa, saya sungguh ingin menjadi seperti
orang baik ini, yang Tuhan berikan kepada saya sebagai ayah saya.

Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling memandang untuk
waktu sesaat.

Tidak ada kata kata yang perlu dikatakan. Ayah menstarter mobil, dan kami
pulang.

Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan
bertanggung jawab.

Sebuah koin penyok

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.

Mr Henri

Renungkanlah oleh Anda betapa bahagia dan betapa bangganya perasaan seseorang apabila ia bisa diterima sebagai mahasiswa di universitas yang bergengsi seperti Yale atau Harvard University di USA. Tentunya lebih hebat lagi adalah orang-orang yang bisa menjadi guru besar di Universitas tsb.

Mr Henri adalah seorang guru besar bukan saja di kedua universitas tsb diatas melainkan juga di Universitas Notre Dame. Ia begitu disegani oleh rekan-rekan maupun para mahasiswanya sebagai wong
pinter yang terpandang. Jadi sudah benar-benar berada di puncak kedudukan kariernya seorang ilmuwan.

Pada saat dimana ia sedang berada di puncak karier kehidupannya, tiba-tiba ia merubah arah hidupnya! Ia telah merubah arah kehidupannya bukannya untuk UPWARD lagi melainkan ingin DOWNWARD.

Ia melepaskan seluruh jabatannya di ketiga universitas bergengsi tsb. Ia melepaskan ribuan siswa-siswinya untuk diganti hanya oleh 10 orang siswa lainnya. Bahkan untuk para siwa barunya ini ia mengabdikan dirinya 24 jam sehari. Disitu ia telah benar-benar turun menjadi Mr Nobody.

Disitu tidak ada seorang pun yang mengenal dia, bahkan tidak ada seorang pun yang pernah membaca buku hasil karyanya. Begitu juga tidak ada seorang pun yang merasa kagum terhadap dirinya sebagai
guru besar yang memiliki gelar sepanjang 1 meter. Disitu ia benar- benar menjadi Mr. Nobody tulen. Masalahnya semua anak didiknya sekarang ini adalah anak-anak yang cacad mental. Melalui anak-anak
cacad tsb baru dia menyadari, bahwa segala prestasi yang pernah diraih sebelumnya itu, tidak ada manfaatnya sama sekali dalam pergaulannya dengan mereka.

Boro-boro bisa membaca dan menulis, mandi sendiri pun mereka sudah tidak mampu lagi. Dari guru besar dihadapan ratusan siswa berubah menjadi pelayan untuk melayani anak-anak cacad. Dimana setiap
harinya ia harus membersihkan badan mereka dari kotoran-kotorannya. Bantu menyikat gigi maupun mencukur jenggot mereka dan juga membantu memakai pakaiannya sebelumnya diletakan di kursi rodanya.

Salah satu diantaranya adalah seorang pemuda yang bernama Adam. Bagi kebanyakan orang Adam itu sudah benar-benar tidak berguna sama sekali, sehingga sebenarnya percuma saja ia dilahirkan juga. Adam
walaupun usianya sudah mencapai 25 tahun, tapi ia masih harus dirawat seperti layaknya seorang bayi. Ia tidak bisa makan maupun minum sendiri, sehingga untuk ini ia harus menyuapi dan menunggunya
dengan sabar. Buang air besar pun tidak bisa, maka dari itu setiap hari ia harus mencuci celana maupun badannya yang penuh dengan kotoran yang bau. Ia juga seorang penderita epilepsi yang parah
sehingga badannya sering menjadi kejang dan kaku.

Pekerjaan yang tidak ringan maupun mudah dan terlebih lagi membutuhkan banyak kesabaran. Untuk ini tidak ada penghargaan maupun ucapan terima kasih dari Adam, sebab boro-boro bisa berbicara,
senyum atau menangispun Adam sudah tidak bisa lagi. Hanya sekali pernah terlihat dimana Adam mengeluarkan air mata yang mengalir di pipinya.

Mungkin bagi orang lain apa yang dilakukan Henri sekarang ini adalah pekerjaan wong rendahan dan tiada artinya sama sekali, tetapi bagi dia bahkan masa hidup yang sekarang inilah yang terpenting di dalam
kehidupannya. Henri pernah mengutarakan bahwa ia telah mendapatkan banyak sekali berkat dari pelayanannya ini. Ia menilai bahwa dari fisik dan pikiran Adam muncul seorang manusia yang paling baik yang telah menawarkan dan memberikan kepada dia suatu hadiah yang paling indah daripada apa yang bisa ia berikan kepadanya ialah pelajaran tentang cinta kasih. Dari situlah ia merasa bahwa sebenarnya ialah yang dilayani oleh Adam untuk belajar melayani, bersabar maupun berbagi kasih yang tak berkesudahan.

Apa yang diucapkan oleh Henry ini bukannya hanya sekedar basa-basi, sebab untuk ini ia telah menulis satu buku khusus, mengenai hikmah dan pelajaran apa saja yang telah ia dapatkan dari Adam dalam
bukunya “Adam´s Peace”.

Bayangkan saja ia seorang guru besar dari universitas bergengsi, ternyata telah bisa menimba ilmu dari anak-anak cacad. Anak-anak cacad tsb telah berhasil mengajarkan kepada Henry apa artinya cinta
kasih itu. Terlebih lagi disitulah baru ia menyadari, bahwa bahwa apa yang membuat kita menjadi manusia, bukanlah gelar, harta, maupun jabatan kita. Begitu juga bukanlah otak kita, tapi hati kita!

Bukan kemampuan kita berpikir, tetapi kemampuan kita untuk mengasihi. Henry telah turun menjadi Mr Nobody dimata dunia, tetapi dilain pihak ia telah berhasil menjadi VIP dimata Sang Pencipta.

Mr. Henry Josef Michael Nouwen (1932 - 1996) dengan sengaja telah meninggalkan komunitas orang-orang hebat dan bergengsi untuk memilih hidup di komunitas anak-anak cacad di L´Arche Daybreak di Toronto. Ia melayani disitu terus sampai dengan akhir hayatnya. Ia juga seorang penulis buku rohani. Lebih dari 40 buku rohani yang pernah ia tulis salah satu bukunya yang paling banyak dibaca ialah: “Innder
Voice of Love”.

Menurut ukuran dunia keberhasilan seseorang diukur berdasarkan keberhasilan maupun ketinggian yang bisa diraih oleh orang tsb dengan motto “How high can you fly?” Beda dengan dunia kerohanian.
Disana berlaku motto kebalikannya ialah “How low can you go?”. Jalan ilahi adalah jalan yang menurun kebawah.

Selasa, 14 April 2009

Perangkap Monyet

Sahabat, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Caranya sangat manusiawi (*umm…atau mungkin hewani kali ye..hehehe*). Sang pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Sahabat, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin, sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa “toples-toples” itu kemana pun kita pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Sahabat, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena, kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada sahabat, agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

Pemberian Terbaik kepada Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!". Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.

Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…"

Namun, pemimpin pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. "Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.

Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.

Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini…."

Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.

Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya…."

Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.

***
Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.

Sesungguhnya, Allah sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Allah, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Allah butuh semua itu, dan juga bukan karena Allah kekurangan. Namun karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, dan Allah sedang menguji setiap hamba-Nya.

Allah sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur. Allah sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya. Dan Allah, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan kita bayangkan. Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Allah memang Maha Pemberi Kemuliaan.

Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.

Allah selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya

Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.

Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.

Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.

Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.

Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.

Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.

Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.

Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.

Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.

(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )

Thomas

Anak Cacat Perang Vietnam

“Huuu….uuura!” Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah ber-tahun2 menghilang. Apalagi ia adalah anak satu2nya. Maklumlah anak tsb pergi ditugaskan perang ke
Vietnam pada 4 th yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tsb. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tsb. Dalam telegram tsb tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.

Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan2 bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota. Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada
di airport.

Si Anak: “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?” Ibu: “Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan2 bawalah!” Si Anak: “Tetapi kawan saya adalah seorang cacad, karena korban perang di Vietnam?”

Ibu: “……oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacad? ” - nada suaranya sudah agak menurun

Si Anak: “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!” Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira
tidak jadi masalah?” Si Anak: “…tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!”

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: “Na…ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya!” Si Anak: “…tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!” Si Ibu: “Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang2 penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacad dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan2 nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup. Orang tua dari kedua anak tsb maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tsb tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka.

Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tsb
adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!

- Jusuf Randy -

==============

Kita akan menilai bahwa orang tua dari anak tsb kejam dan hanya
mementingkan nama dan status mereka saja, tetapi bagaimana dengan
diri kita sendiri? Apakah kita lain dari mereka?

Apakah Anda masih tetap mau berkawan
....... dengan orang cacad?
........yang bukan karena cacad tubuh saja?
....... tetapi cacad mental atau
........cacad status atau cacad nama atau
........cacad latar belakang kehidupannya?

Apakah Anda masih tetap mau berkawan dengan orang
.......yang jatuh miskin?
...... yang kena penyakit AIDS?
.......yang bekas pelacur?
.......yang tidak punya rumah lagi?
.......yang pemabuk?
.......yang pencandu?
.......yang berlainan agama?
.......yang lebih bodoh dari anda ?

Renungkanlah jawabannya

Bekerjalah dengan Cinta

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.

Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?

* * *

Selalu…

Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.

Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.

Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.

Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.

Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.

Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.

Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.

Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.

Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.

Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…

Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran). Wallahu a’lamu bish-shawaab.
-Abu Aufa-

Catatan:
- Kokusai kouryuu kaikan: International House
- Obachan: wanita berumur, setengah tua
- Ojichan: pria berumur, setengah tua

Aku Ingin Mama Kembali

Sebuah kisah teladan dari negeri China

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa.

Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya.
Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27
Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.

Pada tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini.Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.

Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian
ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya.

Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.

ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia
membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Zhang Da menyuntik sendiri papanya.

Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan ijeksi/suntikan kepada pasiennya.

Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.

Aku Mau Mama Kembali

Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da,
Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir.

Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab
apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.

Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun
tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup
untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta
sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg
istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Tuhan tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya.

Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan….bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.