CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Sabtu, 18 Juli 2009

One days left

by: srisulistiana


"Lebih, baik kita cerai saja!!!!!
”“ DEEENG ” Kepalaku terasa kosong mendengar perkataan ayah itu, Akhirnya pertengkaran panjang ini akan segera berakhir, jujur aku sedikit lega mendengar keputusan papa itu mungkin cerai adalah pilihan yang terbaik untuk kami. Papa, mama dan aku. Aku bosan setiap pagi harus mendengar teriakan pertengkaran mereka, aku bosan setiap pulang sekolah mendapati mereka sedang bertengkar hebat dan melampiaskan pada banyak barang elektronik di rumah, terlebih lagi saat malam hari sehingga membuatku sulit memejamkan mata dan ujung – ujungnya aku sering terlambat ke sekolah. “ Dinda!”Aku menoleh, saat itu aku berniat mencari udara segar di luar, sebab bagiku udara di rumah ini sudah terkontaminasi dengan hawa kebencian dan kemarahan sehingga membuatku pengap. “ Ada apa” Jawabku singkat, padat dan jelas “ Mama dan papa memutuskan untuk…..” “ Aku tau, Jadi sekarang mau kalian apa?” “ Kamu harus pilih, antara mama dan papa, kamu mau ikut sama siapa?”Mataku terbelalak, aku sama sekali tidak menduga sebelumnya akan muncul pertanyaan seperti ini. Aku harus menjawab apa? Aku bingung? Walau bagaimana pun mereka adalah orang tuaku, kalau harus memilih harus tinggal sama siapa aku mendingan tidak tinggal dengan kedua duanya. “ Aku tidak bisa,” Jawabku memecah kehenian “ Maksud kamu apa, nak?” Tanya papa, wajahnya kelihatan bingung“ Kalau harus memilih seperti ini, aku tidak bisa. Aku lebih baik tinggal sama nenek,” Jelasku lagi, lalu segera pergi dari hadapan mereka berdua.………………………….Hari ini, aku berada di sidang orang tuaku.Aku sedih karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan mereka. Begitu palu hakim itu diketuk aku akan resmi menjadi anak yatim piatu tanpa mama dan papa. “ Dinda, kamu beneran tidak mau memilih salah satu di antara kami?” Tanya mama begitu sidang telah selesai. Wajahnya terlihat cemas.“ Ma, dinda tidak mau mengganggu mama dan papa lagi. Kalau tidak ada dinda, mama dan papa kan bisa membuat keluarga yang baru, yang lebih bahagia. Iya kan?”Mama menunduk, mungkin kata – kataku terlalu keras baginya. Tapi, akhirnya dia bisa menerima. Dan akhirnya aku benar – benar terpisah dengan mereka. Untuk terakhir kalinya, mama, papa, dan aku pergi ke rumah nenek yang berada di desa. Sebenarnya aku merasa senang, entah sudah berapa lama aku tidak merasakan suasana seperti ini. Walaupun yang terakhir, tapi aku senang bisa berkumpul dengan mereka. Kira – kira 3 jam berlalu sejak aku berangkat dari kota, kini aku telah berada di sebuah desa kecil yang indah. Hmm, pemandangan desa ini sangat indah. Waktu kecil aku pernah kesini dan aku tidak menyangka desa nya tetap seperti dulu. Tidak berubah. “ Nak, Mama..sudah bicara dengan nenek..Katanya, kamu boleh tinggal disini,” Mama tiba – tiba muncul di belakangku.Aku menoleh tapi tidak menjawab satu kata pun. Aku hanya diam menatap mama. “ Nak, kamu benar – benar yakin dengan keputusanmu?”“ Ma, aku yakin. Lagian kasian nenek, dia kan sudah tua. Kasihan kan kalau dia tinggal sendiri,”Kali ini mama tidak mendesakku lagi. Dia menatapku dengan tatapan sedih dan penuh pengharapan, mungkin dia masih berharap kalau aku aku ikut dengannya. “ Nak, mama pergi dulu. Kamu jaga diri baik – baik ya?”Aku tidak kuasa menahan air mata ini. Tapi, aku tidak mau menangis di depan mama, Aku tidak mau kelihatan seperti anak yang cengeng, aku harus kuat. Aku harus siap menghadapi kehidupan baruku disini.……………………………….. 1 tahun sudah aku tinggal didesa ini. Dan aku sama sekali tidak betah tinggal disini. Nenek yang selalu mengaturku seperti anak tk, teman – teman sekolah yang selalu ingin tau urusanku, bahkan seorang cowok tetangga yang selalu membuntuti ku kemanapun aku pergi. Jujur Aku tidak suka disini!. “ Nak, kamu mau pergi kemana?” Tanya nenekAku tidak menjawab. Aku bosan menjawab pertanyaan yang sama terus setiap hari. Apa nenek tidak melihat aku memakai seragam sekolah. Disekolah pun keadaan tidak lebih baik dari di rumah. Teman – teman selalu berusaha mendekatiku. Dan selalu ingin tau urusanku. Apa mereka tidak lihat aku ingin sendiri. “ Din, kamu mau tidak ikut dengan kami ke rumah fena,” Tanya anak berpenampilan cupu bernama astuti. “ Tidak, Lagian untuk apa juga aku kesana,” “ Begini din, Fena baru aja beli telpon genggam baru di kota. Dan dia ingin mmperlihatkannya pada kita,” Anak lain yang bernama ani melanjutkan.“ Kuno banget sih kalian, hp baru aja dipamer,” Aku langsung pergi meninggalkan mereka yang masih menatapku dengan tatapan antara kecewa dan sedih.Bel pulang sekolah berbunyi. Inilah saat yang aku tunggu – tunggu. Rasanya tidak tahan kalau terus berada bersama sekumpulan orang – orang cupu ini.Saat pulang sekolah aku tidak langsung pulang kerumah, aku selalu mampir ke danau yag berada di ujung desa. Mungkin, danau inilah satu – satunya tempat terkeren di desa ini. “ Ma, pa.. Kenapa kalian tidak pernah menghubungiku. Apa kalian sudah punya keluarga baru, apa kalian sudah lupa sama aku,” Tanpa terasa air mataku menetes.Aku tidak tahan kalau harus terus hidup di desa ini. Bisa – bisa aku menjadi orang cupu seperti mereka. Disini, aku benar – benar terisolasi dari dunia luar. Aku tidak tau perkembangan dunia diluar sana. Disini, aku bahkan tidak tau hp keluaran terbaru. “ Hey, melamun aja ni,”Aku menoleh, melihat seorang cowok berpakaian sederhana di belakangku. Dia lagi – dia lagi, apa tidak bosan selalu membuntuti aku. “ Mau apa?” “ Kamu ini kok pemarah sekali sih, Aku hanya mau berteman sama kamu,” “ APA?”Tidak.tidak, aku tidak boleh punya teman dari desa ini. Nanti aku ketularan deh ama mereka. Aku harus sabar, nanti kalau sudah tamat sekolah aku akan langsung pergi dari desa terpencil ini. “ Mau kan?” Tanya nya lagi. “ Oke, tapi kamu harus jawab dulu pertanyaanku,” “ Apa itu, pasti kujawab,” Jawabnya yakin. “ Apa hp yang paling terkenal sekarang? Apa laptop yang paling mahal sekarang? Siapa presiden Indonesia sekarang?”Cowok itu terdiam. Dia bingung. Ya, tuhan presiden sekarang saja dia tidak tau. Seterpencil inikah desa ini?“ Pertanyaan seperti ini saja kamu tidak bisa jawab, gimana bisa jadi temanku. Kalau kamu sudah dapat jawabannya baru aku mau mau jadi teman kamu,”Cowok itu terdiam. Dia menatapku dengan tatapan kecewa dan tiba – tiba langsung pergi meninggalkanku. Di rumah keadaan menjadi lebih buruk. Nenek langsung menjatuhi sejuta pertanyaan yang membuatku malas menjawabnya. “ Dari mana? Kok malam begini baru pulang?” “ Dari sekolah, tadi ada kegiatan makanya telat pulang,” Aku terpaksa berbohong. “ Kamu tidak bohong kan?” “ Tidak..Mana makanannya aku lapar!”Tempe, tahu, dan sagu. Makanan yang sama lagi. Jujur, disini aku makan nasi hanya sebulan sekali. Huh, gimana bisa sehat kalau Cuma makan sagu. Burung juga tidak mau makan makanan menjijikan ini. Tapi, daripada kelaparan. Aku terpaksa harus memakannya. Butuh perjuangan berat untuk menghabiskan sepiring makanan ini. Sebelum tidur, kuperhatikan ayat suci yang berada di di dinding – dinding kamar.Aku jadi malu pada diriku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak membaca ayat suci itu. Mungkin kehidupanku sekarang adalah balasan dari tuhan karena aku sudah lama melupakanNya.…………………….. “ Dinda, kamu tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi nenek ikut,”Selama ini aku sudah berpikir kalau nenek sudah pikun, tapi kali ini aku benar – benar yakin kalau nenek sudah benar – benar pikun. Gimana nih? Masa aku mau bawa nenek – nenek ke sekolah? “ Ta..tapi, nek,” “ Kamu pasti bohong, bilangnya mau sekolah, taunya pacaran iya kan?”Apa?. Nenek.. nenek, kenapa sih bisa punya pikiran seperti itu, lagian jangankan pacaran, berteman saja aku tidak mau sama orang di kampung ini. “ Nek, mana mungkin itu terjadi,”Cukup lama aku berdebat dengan nenek. Sampai akhirnya nenek yang menang. Dan sekarang aku benar – benar telah melakukan hal yang paling bodoh seumur hidupku. Membawa nenek – nenek ke sekolah. Tebak, siapa yang berani melakukan ini. “ O, pantesan aja dinda gak mau berteman sama kita, rupanya dia maunya temenan sama nenek – nenek,” Seru cowok berpenampilan super berantakan begitu aku memasuki kelas.Mendengar suara cowok itu, kontan seluruh kelas tertawa. Aku jadi ingat saat aku sekolah di kota dulu. Saat Ani membawa adiknya ke kelas, aku lah yang paling keras tertawa. Sekarang aku juga merasakannya. “ Ternyata orang sombong ini gemar sama nenek - nenek,” anak yang lain balas mengejekku. “ Di rumahku juga ada nenek – nenek lo, kalau kamu mau datanglah bermain dengannya,” lanjut anak yang lain.Suara tawa anak – anak itu menjadi lebih keras. Ya tuhan, aku malu sekali. Sekarang wajahku pasti sudah kayak kepiting rebus. Aku tidak tahan lagi. “ Hey, mau kemana kamu anak sombong, jangan tinggalin tuh teman kamu,”Aku tidak mau lagi disini, aku tidak tahan, desa ini memang bukan tempat untukku. Rasanya aku sudah tidak punya muka lagi untuk ke sekolah apalagi pulang ke rumah. Aku mau mati saja. “ Mati, ya. Lebih baik aku mati saja. Tidak ada lagi alasanku untuk hidup,”Kupercepat langkahku menuju ke tabib di desa ini. Aku mau minta racun, mungkin terlihat aneh, tapi, mungkin inilah keputusan yang terbaik untukku.……………………… “ Kamu yakin?” sang tabib mengeryutkan keningnya yang berwarna putih. “ Iya, pak. Aku sudah tidak tahan lagi hidup di dunia ini,”Sejenak tabib itu terdiam. Lalu kemudian dia tersenyum, “ Baiklah,”Tabib itu memberikan sebuah ramuan aneh. Katanya kalau aku minum obat itu, aku hanya akan bertahan hidup 1 hari. Awalnya aku sedikit ragu. Tapi, mengingat perlakuan teman – temanku tadi rasanya aku ingin cepat – cepat meneguk obat itu. “ minumlah obat itu nanti malam sebelum tidur, dan waktu hidupmu hanya tinggal 1 hari,” “ Baik, pak,”Setelah mengucapkan terima kasih aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Untung saja tabib itu tidak meminta bayaran sepeser pun. Karena kalaupun dia minta bayaran, aku juga tidak punya uang untuk membayarnya. Di perjalanan pulang, aku bertemu lagi sama cowok aneh yang suka mengikutiku itu. Wajahnya terihat penuh kemenangan saat menghampiriku. “ Hey, aku sudah tau jawabannya,” sahutnya sambil nyengir. “ Jawaban apa?,” tanyaku bingung. “ Itu, pertanyaan mu yang kemarin. Aku bisa jawab sekarang,”Orang ini benar – benar aneh. Apa dia tidak tau kalau pertanyaan yang kemarin itu hanya sekedar penolakan secara halus. “ maaf,” sahutku ketus “ aku tidak punya waktu, lebih baik simpan jawaban itu untuk dirimu sendiri!,”Aku pergi meninggalkannya. Untung saja kali ini dia tidak mengikutiku. Mungkin dia sudah menyerah. Baguslah, biar sisa hidupku ini aman tanpa dia.…………………… Sudah malam, hari ini untuk pertama kalinya nenek tidak bicara satu kata pun padaku. Apa nenek merasa bersalah ?. Huhh, kasihan nenek. Kalau aku meninggal, dia akan sendirian lagi. Sudah ah, aku tidak boleh membatalkan niatku. Kuperhatikan botol kaca kecil di tanganku. Apa aku harus meminumnya?.“ TOK TOK TOK ” pintu diketuk saat aku hendak membuka tutup botol racun itu.Aku tidak menjawab, pura – pura tidur.“ Dinda, maafkan nenek. Ini semua nenek lakukan karena nenek sayang sama kamu,”Aku terdiam, benarkah apa yang dikatakan nenek?. Dia sayang sama aku, tapi bukannya tadi dia sudah membuatku malu dihadapan teman – teman. “ nek…” Sahutku pelan, memastikan nenek tidak ada lagi di depan pintu.Tidak ada jawaban. Sekarang aman. Aku bisa meminum racun ini sekarang. Kubuka utup botol itu, dan meneguknya perlahan –lahan. Seteguk, dua teguk dan akhirnya habis. Ukkhh, obat ini pahit sekali. Dan tiba – tiba aku merasa mengantuk……………………… Untuk pertama kalinya sagu terasa sangat nikmat bagiku. Mungkin karena inilah makanan terakhirku di dunia. Besok aku telah tiada. Rasanya sedih juga. “ Nak, kamu masih mau,” sahut nenek menawarkan semanguk penuh sagu. “ Tidak nek,” “ Nenek senang hari ini kamu sangat ceria, maafkan nenek atas kejadian kemarin ya?” “ Kemarin? Oh, aku udah lupain tuh. Oh iya nek aku pergi dulu ya ke sekolah”Aku menciumi tangan nenek, pertama kalinya kulakukan sejak aku tinggal disini. Seperti yang kuduga, teman – teman masih belum bisa melupakan kejadian yang kemarin. Mereka terus saja mengejekku. “ Teman – teman maafkan aku, mungkin selama ini aku sombong sama kalian. Maafkan aku,” Teriakku saat tawa teman – teman sekelas mulai menyeruak.Mereka langsung terdiam, menatapku tidak percaya. Aku senang akhirnya kuutarakan juga hal itu. Aku tidak mau mempunyai musuh saat aku meninggal nanti. “ Kamu. Beneran?” anak yang kemarin duluan mengejekku pertama bicara. “ Iya, aku.. aku ingin berteman dengan kalian semua sebelum aku ma….,”Uppps, hampir saja keceplosan. Aku tidak boleh mengatakan hal ini duluan, biarlah besok mereka mengetahuinya dari nenek. “ Ma. Apa?” Astuti bertanya “ Ma..manyesal,” sahutku berusaha menjawab “ Lho? Bukannya menyesal?” anak yang lain menimpali. “ I..iya, maksudku itu,”Anak – anak lain langsung tertawa mendengar jawabanku. Aku pun ikut tertawa, Sudah lama aku tidak tertawa seperti ini sama teman – teman, rasanya menyenangkan sekali. Aku bahkan hampir lupa kalau aku akan meninggal besok. Sekolah usai, untuk pertama kalinya aku merasa waktu di sekolah sangat singkat. Hari ini benar – benar menyenangkan. Saat aku dalam perjalanan pulang, aku mendapati cowok aneh itu sedang duduk termenung di pinggir danau. Aku memutuskan menghampirinya. “ Hei!!,” sahutku sambil menepuk pundaknya.Ia menoleh. Wajahnya terlihat bingung dan terkejut saat menatapku. Sesekali di kucek – kuceknya matanya untuk memastikan. “ I..ini beneran kamu?” “ Kenapa sih, kayak aku ini artis saja,”Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya aku melihat senyumannya, cowok ini manis juga. Tidak kalah sama cowok – cowok di kota. “ Aku mau minta maaf,” “ Maaf ? Memangnya kamu salah apa?” Tanya nya bingung. “ Selama ini, aku sudah sombong sama kamu. Makanya aku..,” “ Oh.. aku udah lupain tuh, oh iya aku sudah tau jawaban dari pertanyaan mu,” “ Oh ya?” “ Hp termahal sekarang nokia, laptop termahal sekarang computer, dan presiden Indonesia sekarang SBY, iya kan?” “ Jawaban kamu hanya satu yang benar, hahahahaha,” “ Yaa, ayahku salah dong memberikan jawaban,”Kami berdua tertawa bersama. Lalu kemudian cowok itu terdiam dan menatapku. “ Hei, aku tau kamu memang cantik tapi kamu menjadi jauh lebih cantik kalau tertawa seperti itu,”Wajahku memerah, Aduh kenapa denganku. Jantungku berdegup kencang. Mungkinkah racun itu mulai bereaksi? “ Oh iya aku belum tau siapa namamu?” “ Aku Dinda,” “ Aku Rio, salam kenal,”……………………. Hari sudah malam. Aku mengambil air wudhu dan menjalankan sholat isya bareng nenek. Aku sudah lupa cara wudhu dan gerakan sholat, tapi dengan sabar nenek mengajariku. Aku tidak tau, kalau sholat dapat membuat jiwaku setenang ini. “ Ya, tuhan..Terima kasih telah memberikan hari terakhir yang indah untukku, tapi tuhan kalau aku boleh memohon, bolehkah aku tetap hidup besok dan seterusnya. Aku tidak ingin mati ya tuhan, aku ingin terus hidup menemani nenek dan memperbaiki kehidupanku yang dulu,” Sahutku dalam hati.Setelah sholat, aku mencium tangan nenek dan beranjak ke kamarku. Sebelum tidur, bayangan akan kejadian hari in teringat lagi olehku. Kenapa, perasaan bahagia ini menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Ya tuhan, semoga besok aku masih bisa merasakan kebahagiaan ini, amin!………………….. Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan segar. Lho? Aku masih hidup? Kok bisa?. Rasanya tidak percaya kalau aku masih melihat dunia ini. “ Dinda, sarapan sudah siap. Kamu mau tidur sampai kapan?” teriakan nenek membuatku benar – benar yakin kalau ini bukan mimpi. Ini nyata! Aku masih hidup!Hatiku terus bertanya – Tanya mengapa racun itu tidak bekerja? Untuk menuntaskan rasa penasaran ini aku kembali mengunjungi rumah tabib itu. Aku terpaksa membolos. “ Apa? Jadi itu bukan racun?” “ Iya, itu hanya obat herbal biasa,” ujar tabib itu “ Kok bisa,” “ Kurasa kamu tau jawabannya,”Otakku menimbang – menimbang perkataan kakek itu, dalam hati aku bersyukur kalau aku belum mati. Aku bersyukur, aku masih bisa merasakan indahnya kehidupanku sekarang. Kakek ini benar, coba kalau dia berikan aku racun beneran aku pasti akan mati sia – sia. Bukannya bunuh diri itu dosa? “ Terima kasih kek, sekali lagi terima kasih,” “ Mulai sekarang kamu harus lebih menghargai hidup,” “ Iya,” Beberapa bulan berlalu sejak kejadian itu, hidupku benar – benar berubah sekarang. Teman – temanku sangat baik padaku, Nenek sangat sayang padaku, dan hal yang paling membuatku bahagia adalah papa dan mama rujuk lagi, dan mereka kembali mengajakku untuk tinggal bersama mereka, tetapi aku tidak bisa menerimanya karena… “ Kalau kamu mau pergi, pergilah! Bukannya itu yang sangat kamu impikan,” “ Tapi,”“ Jangan khawatir, nanti kalau udah lulus sma aku bakal ke Jakarta buat lanjutin sekolah,” Ujar rio sambil tersenyum “ baiklah, tapi kamu janji ya,” “ Iya, aku janji,”Aku memutuskan untuk balik lagi ke kota. Rasanya sedih juga harus meninggalkan tempat ini. Tempat yang mengajariku cara untuk lebih menghargai hidup. Tapi, aku juga senang bisa berkumpul lagi sama mama dan papa. Kupikir selama ini mereka melupakanku. Ternyata, pengalaman itu memang guru yang terbaik. Ia mengajariku ujian terlebih dahulu baru kemudian pelajarannya..

0 komentar: