CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Selasa, 12 Mei 2009

NAMAKU TEGAR

Sebuah surat undangan tergeletak di atas meja, kertasnya berwarna kuning: berhias bunga-bunga mawar yang timbul. kesan mewah kertas undangan itu tentu saja akan menggambarkan betapa mewahnya acara yang akan di selenggarakan oleh si-empunya acara yang mengirimkan surat undangan itu.
Halaman depan surat itu tertulis kepada Yth. saudara Tegar aditiya,sedangkan di pojok bawahnya tertanda :Dr. H. bachri, di bawah nama itu tertera pula jabatan si-empunya nama : BUPATI kota X.
Aku terhenyak di kursiku, memikirkan sesuatu !!
***
Apa yang dipikirkan sang surya ketika ia menyinari bumi ini dengan sinarnya yang hangat ?, itu seperti bagaimana kita merelakan sebagaian dari hidup dan hak-hak kita untuk berbagi bersama orang lain. Meniru sifat mentari itulah, kini aku berusaha untuk hidup sebagai seorang yang terlahir dengan nama : Tegar.
Sebuah nama seperti orang-orang tua kita bilang : nama bukan sembarangan.Nama pada akhirnya menjadi sebuah do'a yang akan selalu mengiringi hidup kita di bumi Sang Khaliq ini. sebagian lagi menyebut nama sebagai pembawa keberuntungan : baik bagi si empunya nama atau pun orang lain yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu sangat disayangkan bila orang tua bapak dan ibu kita memberikan sebuah nama dengan tanpa pertimbangan yang rasional
Lalu bila namaku adalah Tegar aditiya, coba katakan padaku :"apa yang kau pikirkan pertama kali ketika mendengar nama ini ?",
Kau bilang :"bila artinya sebuah do'a itu berarti Tegar selalu mendapatkan kekuatan ketika menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya, atau mungkin orang tua Tegar ingin agar dia selalu bisa se-kuat Mentari (Aditiya dalam basa jawa:matahari).
Lalu pada akhirnya, di puncak kebingunganmu meramalkan apa arti dan maksud orang tuaku memberikan nama seperti ini, pada sebuah kebuntuan pikiran yang membuatmu semakin muak atau juga penasaran kau bilang : terserah lah !itu adalah namau sendiri , kenapa kau tanya pada saya yang bukan siapa-siapa-mu ini?
lalu pikiranku membimbingku dalam sebuah metafor tentang realita bangsa kita saat ini: betapa masa bodohnya anda dengan orang lain.
Kemudian aku mulai merasa sendirian, di tengah sepiku yang tak berkesudahan tiba-tiba tak ada seorangpun yang bisa ku ajak untuk berbagi. asal kau tahu, keadaan seperti inilah yang sering membuatku merasakan sebuah rasa yang teramat ganjil untuk seorang yang bernama :Tegar .saat seperti itu Aku benar-benar merasa rapuh dan sendirian. tahukah kau ?
***
Akhirnya akupun mulai merasa berat menjalani hidup sebagai seorang Tegar, tapi keadaan di sekelilingku selalu menuntut agar aku selalu bisa menjadi tegar. Kadang kala aku ingin memberontak pada semuanya: pada keadaan yang begitu menjepitku tanpa ampun.Tapi sebuah nama yang terukir ini membuatku terus bertanggung jawab terhadap semuanya, terhadap hidup dan eksistensiku dimata Orang lain .
Aku tak ingin terlihat lemah di mata orang lain, apalagi sampai terlihat begitu membutuhkan orang lain, apalagi sampai bergantung pada orang lain.Aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun, sekalipun kau sering merasa kesepian di tengah hiruk pikuk dunia ini.
Aku baru sadar bahwa pikiranku mulai terbelenggu dengan keadaan yang mengahruskanku menjaga kemurnian arti sebuah nama, bisa kah kau paham tentang hal ini.
Aku tak tahu untuk siapa aku berjuang mempertahankannya :apakah untuk orang tuaku atau untukku sendiri?. yang jelas nama Tegar telah membuatku menjadi seorang yang begitu sibuk dan mengalami hiruk pikuk yang hebat di kala sendirian.
Lalu suatu hari seseorang datang dan memuji sikapku, tak tanggung-tanggung beliau seorang Bupati kota tempat tinggalku.tahukah kau apa yang diucap bupati itu untukku ?
"sebagai seorang Tegar anda telah begitu berhasil dalam menunjukkan ke-Tegar-an anda?"
Aku diam diam bangga , di acara yang dihadiri pejabat-pejabat penting itu , semua mata tertuju padaku : semua orang memperhatikanku.aku semakin dikurung dalam sebuah keterbatasan yang menyesakkan,
"saya tak bisa membayangkan bagaimana nasib yang akan menimpa kantor pendapa ini, jika anda tidak segera bertindak waktu kejadian itu".
Aku tersenyum.
"oleh karena itu kami hendak memberikan sebuah hadiah sekaligus penghargaan kepada anda, terimalah !"
diserahkannya sebuah amplop berisi si-merah, lalu selembar surat dinas yang begitu asing bagiku, aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
"ini untuk anda, semua atas jasa-jasa anda. "
lagi-lagi aku tersenyum.
" lagi pula saya rasa sudah waktunya mengganti petugas satpam Pendapa yang rupanya sudah waktunya pensiun itu".
sementara itu di sebuah pojok ruangan seseorang begitu murung, sambil sesekali merenungi nasibnya. dia tidak lain adalah satpam pendapa yang baru saja di pecat sebab keteledorannya.
subuh kemarin hampir saja kantor pendapa di jarah maling, tapi seseorang yang bernama Tegar, telah dengan berani menghantam kening maling-maling itu. sebuah pentungan karatan melelehkan bekas darah yang mengering, menandakan kejadian waktu itu.

0 komentar: