CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Selasa, 12 Mei 2009

POHON JATI FG TPQ

Pohon jati yang kau tanam di pekarangan rumah pak Ade itu terus tumbuh dengan gagahnya. Daun-daunnya yang melebar sekarang terasa semilir saat berkelebat dielus angin. Aku teringat betul, dulu, saat kau berkenalan pertama kali dengannya, jati itu nyaris hampir mati. Saat itu benar-benar kemarau panjang. Tapi kau punya ketulusan dan keyakinan untuk membuat ia bisa hidup. Diam-diam setiap pagi dan sore kau membelainya dengan cipratan air. Lentikmu lembut. Orang-orang di sekitar rumah pak Ade sering memujimu lewat pak Ade. Maklum waktu itu mereka lebih mengenal pak Ade sebelumnya. Dan pada malam gelap kau pun memupuknya dengan doa, tak ada satu orang pun yang tahu. Bait-bait doamu sangat singkat, “Tuhan, jadikan aku makhlukmu yang bermanfaat’.
Pohon jati itu terus tumbuh dengan suburnya. Kau tak pernah berhenti untuk membuatnya indah. Di bawah rindangnya kau mulai bangun dudukan-dudukan. Dengan sederhana kau rajin mengumpulkan batang bambu kuning yang kau dapatkan dari hasil silaturrahmi dengan teman-temanmu dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung, dengan ogkosmu sendiri. Hingga mereka sekarang mengenalmu sebagai perempuan yang ulet. Hasil karyamu membuahkan hasil. Anak-anak setiap waktu betah bermain di bawahnya. Dan para orang tua pun menilainya sebagai suatu kenyamanan saat mereka berlari-lari di bawahnya. Dari waktu ke waktu pohon jati itu semakin banyak peminatnya, terlebih anak-anak.
Malam, saat keningmu runduk ke tanah, sempat terpikirkan olehmu untuk membuat anak-anak itu bisa belajar dan mengaji.
“Semoga bermanfaat..” doa singkat itu kembali kau ulang.
Pagi nan ranum.Udara terasa bersih. Dunia belum terlalu bising tidak seperti siang hari. Kau bersama pak Ade mulai membuat pengembangan akan keindahan pohon jati itu. Tidak lama setelah itu berdirilah sebuah bangunan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) tempat mereka bisa belajar al-quran dan membaca.
“Indah sekali TPQ di bawah pohon jati ini ya…, padahal tanah ini dulu terkenal tandus. Berkali-kali banyak orang mencoba mengolahnya, tapi selalu saja mati….” Jelas pak Ade menyemangatimu.
Tetangga pak Ade seperti pak Lamto, pak Syarif dan pak Amin mulai betah menyambangi bangunan TPQ yang kau bangun. Aku melihatnya mereka bisa tertawa ketika melihat anak-anak itu jingkrak-jingkrak sembari melafadzkan kata-kata barunya tentang Asmaul Husna. Sepertinya mereka lupa dengan keletihannya sebagai kerja kantoran. Layaknya pak Ade, dulu mereka juga nyaris tidak percaya kalau pohon jati itu bisa tumbuh. Mereka melihat pohon jati itu mulai bisa menumbuhkan kesadaran tersendiri untuk nilai sebuah perjuangan.
Aku pernah mengingatkanmu, hati-hati dengan niat baikmu. Suatu saat kamu akan diuji oleh Allah dengan kebaikan-kebaikan yang sekarang kamu lakukan. Aku tidak tahu bentuknya seperti apa. Tapi biasanya, setiap kebaikan itu ujiannya adalah kebaikan itu juga, hingga menjadi samar dan membentuk tikungan.
“Apa maksudmu ..” tanyamu waktu itu dengan kebingungan yang sangat.
“Seperti Khidir, aku akan menuntunmu, hingga kau menemukan jawabannya, suatu saat…” kataku.
“Jadi apa yang harus aku lakukan…”
“Bergurulah kepada keteguhan dan ketulusan pohon jati yang telah kau pelihara…, semakin ia tumbuh meninggi, daunnya makin lebat dan akarnya pun menghujam. Tapi pukulan angin itu semakin kencang….”
Kau terus berjalan, sembari menelorkan ide-ide kreatifmu setiap lepas bersetubuh denganku. Tapi aku tak bisa menemanimu dengan terbuka. Wajahku sudah terlalu cukup untuk memenuhi kepuasan hidupku yang selalu tenggelam di bawah samudra.
Satu musim, seiring dengan putik bunga jati luruh menghias halaman TPQ, 2004 santri tumpleg bersenandungkan nada-nada Hadad Alwi dan Sulis. Perlahan wajahmu mulai terlihat dan dikenal oleh banyak orang. Mereka terkagum dengan pohon jati itu. Hingga sejak saat itu, lantas pak Ade melimpahkan banyak tugas kepadamu untuk terus bisa membesarkan TPQ yang berdiri di pekarangannya.
Entahlah, kamu terlalu baik, padahal pak Ade sama sekali tak pernah menitipkan kepadamu sepersen pun uang untuk mengganti ongkosmu untuk keluar masuk kampung di 26 Kecamatan. Padahal kamu siang malam begitu tak mengenal lelah mengenalkan kebesaran TPQ yang kau bangun bersamanya di bawah jati. Dan kamu maklum Itu perjuangan !
“Untuk urusan agama, tabu bicara tentang uang…”
“Ya, tapi itu nanti akan menjadi gesekan tersendiri antara kamu dan pak Ade ketika berjuang…, iblis mudah masuk lewat jalur itu. Iblis bisa memlintir tidak karuan akan kebenaran. Yang benar akan menjadi tidak benar. Sekarang belum terasa. Coba nanti kalau TPQ itu sudah berkembang. Orang akan mempertanyakan langkahmu selama ini. Darimana ongkos yang kamu pakai untuk urusan kesana-kemari kalau bukan dari keuangan TPQ…, nah…”
“Ah kamu melemahkan semangatku untuk berjuang dan belajar menaburkan kemaslahatan…..”
“Tidak. Aku tidak mencoba mempengaruhimu untuk lemah. Bukankah aku pernah bilang. Konsekwensi ketangguhan adalah ketangguhan itu sendiri yang terbalik. Begitu juga dengan ketulusan. Konsekwensinya adalah keikhlasan itu sendiri yang pasti akan dipertanyakan oleh keikhlasan itu sendiri….”
“Kamu mengajariku berpikir muter-muter…., aku tak paham filsafat…!”
“Itu bukan filsafat…, tapi hikmah…”
“Baiklah, aku akan memahaminya sembari berjalan….”
“Ya, itu proses yang benar …” kataku.
Diam-diam, dari bawah samudra, aku membimbingmu untuk menerbitkan majalah. Dengan majalah itu, progam-progam kerja TPQ yang kamu kelola akan mudah diakses oleh banyak orang. Khususnya kalangan pemerintahan seperti Departemen Agama.
“Apa hubungan TPQ dengan penerbitan…?” tanyamu waktu itu.
“Salah satu kekuatan terbesar yang sanggup mengobrak-abrik dan meluruskan dunia adalah media” kataku
“Maksudnya….”
“ Percuma kamu memperjuangkan TPQ secara terbuka kalau kamu tidak bisa mengakses media. Orang-orang batil akan mudah mengalahkan yang haq karena mereka melakukan jaringan organisasi denagan begitu rapi dan profesional, salah satunya alat yang mereka gunakan aadalah media. Jadi kalau menginginkan TPQ yang kamu kelola bisa lebih maju, kamu harus punya gerakan dengan media….”
“Tapi….”
“Tenang saja, saya akan membantumu ….., saya akan menjelma seperti Yusa’ bin Nuh”
“Masya Allah ….!!!”
“Sudah tenang saja, suatu hari kamu akan menemukan jawabannya. Siapa sebenarnya orang-orang yang ada di sekitarmu….”
Benar, pohon jati yang dulu rajin kau siram itu ikut membawa kebesaran TPQ yang berdiri di bawahnya. Ratusan guru TPQ dari kampung dan kota terus beringsut saling berjabat tangan denganmu. Hingga akhirnya Departemen Agama mulai perduli akan keberadaan kalian. Penaka Majapahit, di bawah jati, saat senja menikam, kudengar kau berikrar untuk mempererat persahabatan antar teman-teman TPQ yang lama kau susun dan rangkai membentuk bunga yang berwarna-warni.
Aku sangat paham dengan sepak terjangmu. Kau sudah terbiasa dengan melipat dua tiga kerja sekali jalan. Kau pun begitu akrab dengan nilai sebuah efektifitas waktu. Meskipun nyatanya kulihat kau jarang beristirahat, dan nyaris tak pernah tidur siang. Meskipun dari sudut pandang yang lain cara kerjamu itu rentan dari kontrol dan titik fokus. Namun okelah, aku sangat paham dengan semua itu. Itulah kondisi yang sedang kau hadapi. Apalagi orang-orang seperti pak Ade, pak Lamto, pak Syarif dan pak Amin hanya bisa peduli saat waktu-waktu luangnya. Dan itu tidak setiap waktu. Apalagi mereka itu adalah pemikir. Jadi nyaris 80% yang mereka sumbangkan adalah semata pemikiran untuk perkembangan TPQ. Sementara kamu 100% teori dan 100% praktek. Dari sini sebenarnya untuk roda sebuah kebersamaan nyaris tidak stabil. Tapi apa boleh kata, nyatanya kau pun bisa senang hati dan menikmatinya. Meskipun nyatanya terkadang diam-diam kau pun nyaris bertanya dan merasa lelah. Tapi aku salut, kau tipikal perempuan yang tidak mudah menyerah.
Hari ini, menjelang ulang tahun Departemen Agama. Petinggi penamas yang duduk di jajaran Departemen Agama untuk wilayah Propinsi mengundang forum TPQ yang sudah berhasil kamu rintis bersama pak Ade dan teman-teman. Lantas dengan atas nama bersama kau sepakat forum itu dengan nama Forum Guru (FG) TPQ. Setelah itu Pak Ade kau lihat semakin besar. Pekarangannya semakin melebar ke sebelah Barat, timur, utara dan selatan. Pemerintah mulai memberi konstribusi untuk fg tpq itu lebih berkembang. Untuk mempererat kedekatan fg tpq dengan pemerintah dalam hal ini departemen Agama wilayah Propinsi, untuk niat yang bening aku terpaksa menemanimu larut menjadi air. Bergerak merambat ke Kitri Bhakti membangun perkemahan-perkemahan santri agar ribuan santri bisa saling unjuk kreatifitas dan bernyanyi bersama, sebagai wujud kebesaran fg tpq gagasan kalian. Untuk progam yang satu ini dua bulan persiapan yang aku dan kamu lakukan untuk sosialisasi ke tpq-tpq. Lagi-lagi tanpa dana.
Sekarang aku masuk ke dalam liang keniscayaan. Untung kau dan aku diam-diam kaya. Saatnya kita berguru dengan kehidupan nyata layaknya Muhamad dan Khadijah. Kau dan aku sudah terbiasa menjadi rumput. Dulu sewaktu malang melintang di negeri orang kau dan aku bisa menjadi rumput Kuala Lumpur yang bisa tumbuh tanpa disiram. Bahkan dilempar di tanah manapun, kau dan aku tentu akan tetap hidup tanpa harus manja dengan harta warisan ataupun gaji pemerintah.
“Sekarang saatnya kau akan melihat betapa mereka akan memperlakukan kamu “
“Maksudmu..”
“Pengalaman hidup orang-orang yang mengelilingimu itu rata-rata terlahir untuk pandai berhitung untung rugi. Standar mereka adalah kepastian. Mereka adalah orang kalkulasi. Jadi kalau tidak dengan hitungan yang matang bagaimana sebuah langkah itu berjalan. Sementara hitungan pasti kamu adalah kegigihan dan ketekunan. Aku tahu, sebenarnya kamu punya cara hitungan yang sama dengan mereka, tapi karena metode aljabarmu lebih lebur dengan kondisi alam, nyaris kadang-kadang kamu harus menjadi cacing, kadang menjadi burung, kadang menjadi matahari dan rembulan. Hingga tubuh kamu nyaris sirna di pelupuk mata mereka”
“Lantas apa yang harus aku lakukan ….”
“Ya,.progam sudah berjalan… sekarang jalani saja. Tanyakan nilai bakti kebersamaan mereka sebelum langkah itu semakin jauh. Seberapa jauh kadar nilai juang dan ketulusan mereka”
“Katanya, untuk kemah santri, mereka pada tidak bisa ikut andil. Semua masuk kerja. Dan pak Ade sendiri harus ke China”
“Ya, itu alamat pertama…, percayalah, kita lihat saja”
“Jadi…..”
“Kalau begitu alasan mereka…., jalani saja..lakukan apa yang kau dan aku bisa lakukan. Jangan berharap dengan bantuan mereka dalam hal ini. Itu kan jawaban mereka. Jangan progam yang sudah direncanakan jadi korban”

***

Benar, hari kemah santri nyaris di depan mata. Mereka datang seperti penguasa. Mukanya beram nampak resah karena merasa tidak diajak terlibat. Mereka telah lupa dengan apa yang dikatakan saat konsekwensi sebuah kebersamaan itu diminta. Nyaris. Hari petaka pertama.
“Kamu ingat kata-kataku…, inilah awal wujud kepribadian mereka yang sebenarnya nampak, mereka adalah orang-orang pintar yang pandai berapologi. Dan itu sah. Kamu harus catat itu. Ikuti saja terus cara mereka bertindak. Kamu akan bisa belajar dengan cara-cara mereka yang akan lebih menyakitkan di kemudian hari…., dan itu penting untuk membuat hatimu menjadi lembut dan rendah hati…”
“Tapi inimenyakitkan….”
“Teruskan saja, aku akan terus menjadikannya snapshot dan atsar yang kucatat terus menerus untuk album kehidupan kelak.., dimana anak cucu kita bisa belajar dari kehidupan yang nyata…”
“Tapi….”
“Sudahlah… jangan tapi-tapi….. kau sudah berenang di tengah samudra. Kosongkan pikiranmu dari ketidak cocokkan…, berhentilah ketika saat itu tiba” kataku

***

Spanduk fg tpq seperti bertepuk tangan seiring bayang-bayang matahari yang kian meninggi. Kau memandang bangunan tpq yang tegak di bawah pohon jati kenangan kesabaranmu.
Kau melihat hari itu, teman-temanmu datang dengan begitu bernafsu. Setelah pemerintah memperhatikan dan peduli dengan bangunan itu, bahkan berjanji akan memberikan subsidi untuk jerih payah mereka sebagai guru tpq. Lantas dengan tulus hati kau menuntun mereka menebar ribuan proposal seperti jaring. Sementara kau sendiri tidak mengajukan. Aku lihat kau kali ini bagaikan lilin.
Sore hari, pak Ade tidak berterus terang dengan apa yang didapatkannya dari propinsi bersama pak Amir saat menengokku yang terjatuh dari motor. Aku merasakan semua dengan save batinnya. Biarlah. Itu urusan mereka. Setidaknya, dari sini perlahan-lahan kau mulai bisa masuk ke rumah batinnya yang sesunguhnya. Tidak selamanya kejujuran dapat mengalahkan uang. Inilah saatnya buat kamu untuk belajar teguh menjaga ketulusan yang sudah kau jadikan akar batinmu itu bisa menang melawan kefasiqan.
“Kenapa mereka mulai bersikap tertutup…” tanyamu.
“Saat perjuangan berbau uang, nilai-nilai bisa menjadi intrik”
“Lantas?”
“Sudahlah, jangan berpikir dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Siapa yang menanamkan kebaikan akan tetap berbuah kebaikan. Siapa yang menanamkan benih keburukan hasilnya juga tak jauh beda…, belajarlah dengan ikan yang tak pernah terpengaruh oleh asinnya lautan”.
Selanjutnya, pelan-pelan mereka mulai meninggalkanmu. Sebuah fakta perjuangan saat kamu mengkokohkan pondasi dengan menyulam satu persatu tali silaturahmi kini sudah tergirus oleh debu kebesaran hasilnya. Seperti lebah sekarang mereka ramai berkerumun untuk menghisap madu subsidi yang nilainya tak seberapa. Dan mereka sekarang bergerombol. Sembari bermain belakang diam-diam mereka menyorongkan tubuhmu terus menerus agar tersudut di pojokan. Seperti politik, teman-teman akarabmu pun diam-diam mereka bekali dengan belati untuk bisa menusukmu dari belakang.
Langit memang sudah gelap. Dan sejarah itu nyaris ingin dikubur. Pasal 17 dalam ART adalah apologi mereka. Aku sebenarnya sudah kasihan melihat semua yang terjadi. Tapi biarlah. Sengaja aku biarkan sampai kamu sendiri merasakan betul bahwa pengalaman memperjuangkan keikhlasan, mempertahankan kebenaran, dan rendah budi demi kemaslahatan bersama itu pahit. Di zaman sekarang ini keluhuran itu letaknya di dalam diri.
“Apakah kamu sudah putus asa..” aku mencoba ingin tahu tingkat kepasrahanya.
“Tapi kenapa kamu tak seagresif seperti dulu…”
“Ah, tingkat kemaslahatannya sudah tragis…”
“Maksud kamu…” saya mencoba bertanya.
Tapi kamu hanya bisa diam. Kulihat airmatamu mulai menetes mengaliri pipimu yang bening.
Aku sebenarnya sudah sangat kasihan dengan kamu. Terlalu tangguh kamu berjuang dalam kondisi seperti ini di saat banyak orang tak sanggup.
Aku juga sudah melihat berduyun-duuyun teman-temanmu itu sudah dipersenjatai belati untuk merobek-robek kesejatianmu..
Mereka mulai memlintir-mlintir hal-hal yang kecil untuk menghancurkan reputasimu.
Baru saja aku melihat, bagaimana bu Eti dan bu Uun begitu sangat tidak berdosa membalik-balikkan fakta tentang kisah-kisahmu menjadi jahanam, sementara selama ini mereka hanya bisa membaca kamu dengan samar. Tapi gaya bicaranya seperti merekalah yang melahirkanmu dan membesarkanmu. Kemauannya nyaris kamu harus mengecup rakhimnya di kebesarannya. Dan bahkan berkali-kali mereka meludah setiap menyebut namamu.
“Sekarang, apakah kamu masih berharap dengan pohon jati fg tpq kesayanganmu?”
“Tidak. Aku sudah ikhlas semuanya. Anggap saja semua sudah menjadi mayat” jawabmu.
“Kata-katamu yang terakhir itu masih ada unsur dendam ….” Terangku.
“Astaghfirullah….”
“Sudahlah, tinggalkan saja…”itu saranku yang terakhir kali padamu.
Sejak saat itu sudah dua bulan kau dan aku tak lagi ketemu. Aku harus menyelesaikan tugasku di Pekanbaru sementara kamu konsentrasi mengelola pendidikan di Lampung. Sementara rumah di Tangerang rumputnya sudah meninggi seiring musim hujan yang selalu basah.
Akhir Februari 2009. Kau kirim email padaku.
“Bismillah, aku sudah serahkan semua kepada Allah. Terima kasih ya Allah, engkau telah tunjukkan sisi manusia yang wataknya aneh bin nyata padaku. Lebur antara ngaji dan ghibah. Teguhkanlah imanku. Jauhkanlah hamba darinya. Tsabit qalbi ala dienik wa ala toatik, good by pohon jati fg tpq. Aku ikhlas kehilanganmu”
Kata-katamu menyentuh sekali batinku. Dan aku pun terharu, hingga aku tak sanggup membalas kembali emailmu …...***



by: Mustaqiem

0 komentar: