CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Kategori

Selasa, 12 Mei 2009

WAJAH DUA RAHIM

Pagi terus saja menyeret matahari yang bulat. Cahaya keemasan berpijar makin memanas membungkus tubuh Dewantoro yang tegak menghadap tiang bendera Merah-Putih, persis di tengah halaman sekolah SMP. Tangan kanannya nampak masih bertahan memberi hormat kepada bendera yang terus saja berkibar dengan gagah, bahkan seakan terus mengejeknya. Keringat Dewantoro mulai bergulung berjatuhan dari dahinya yang licin dengan menyimpan rasa malu.
Sampai lima belas menit kemudian, ibu Rahmi, guru wali kelas Dewantoro, menghentikan hukuman atasnya.
“Bagaimana rasanya” tanya ibu Rahmi.
Dewantoro diam.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini”
“Tidak akan datang terlambat lagi”
“Baik, kamu harus berjanji…”

***

Di kelas, Dewantoro benar-benar tidak dapat berfikir bening. Hatinya nampak sekali remuk meskipun ia begitu berusaha kuat menahannya dalam diam. Bagai tikaman belati merobek perut Dewantoro, setiap pagi ia tak pernah merasakan namanya sarapan nasi. Paling dia hanya dapat makan getuk hasil tanam ubi di belakang pekarangan rumahnya, itupun nasibnya senin-kamis.
Prapti ibunya, selalu memetik daunnya setiap pagi, lantas dijualnya di pasar. Dikumpulkan uang seratus-dua ratus rupiah dengan sabar. Jika habis semua, paling terkumpul uang Rp.10.000 setiap harinya. Namun seringkali kurang dari itu. Tentu saja uang hasil jualan daun ubi dari pekarangan yang tidak luas bagi Prapti sangat tidak bisa diandalkan untuk makan keluarga setiap harinya. Tapi apa boleh buat semua harus dijalaninya.
Kondisi ekonomi bangsa yang terus terpuruk lebih-lebih sejak kasus moneter 1998 memang teramat terasa sekali begitu mencekik bagi keluarga seperti Prapti. Di saat bagi kebanyakan orang coin Rp.500 sudah tidak berharga, tapi tidak bagi Prapti Jangankan untuk berfikir menyekolahkan anak yang biaya sekolah begitu mahalnya, mengusahakan makan sehari-hari saja begitu sulitnya. Apalagi Prapti sebagai orangtua tunggal harus pontang-panting mengidupi keluarga. Sejarah kehidupan Prapti memang sempat tragis. Arjono suaminya telah meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di pabrik tempat dia bekerja sebagai buruh kasar tujuh tahun silam. Meskipun ada tabungan ganti rugi atas jaminan kecelakaan pekerja dari pihak pabrik, tapi tetap saja itu tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka berdua keseharaiannya.
Dewantoro semakin tidak dapat melihat tulisan pada bukunya dengan jelas, semuanya nampak kabur bahkan pandangan matanya makin gelap, tak tahan langsung dirundukkan kepalanya di atas meja. Semua teman-teman sekelasnya ikut-ikutan terbawa iba dan kasihan. Segera Ani, ketua kelasnya melaporkan kondisi Dewantoro kepada ibu Rahmi.
“Dewantoro sakit ya ? maafkan Ibu yang tadi telah menghukummu. Ibu tidak tahu kalau kamu lagi sakit”
Dewantoro malah semakin tak sanggup menahan tangisnya. Tak ada jawaban satu katapun yang dapat diberikan. Ibu Rahmi pun lantas menganjurkan Dewantoro agar pulang dan istirahat saja di rumah.
***
Sejak kejadian itu Dewantoro sudah tidak lagi masuk sekolah. Kebutuhan ekonomi keluargannya yang sangat sesak menghimpitnya akhirnya mendesaknya untuk berhitung keras mengambil keputusan untuk putus sekolah. Seakarang dia ikut membantu ibunya mencari uang untuk bisa makan kesehariannya dengan mengojek payung di Mall setiap hujan. Namun jika cuaca bagus, Dewantoro menjadi polisi cepek yang ngatur lalu-lintas kendaraan di perempatan jalan di wilayah Perumahan Wibawa Praja. Hasilnya agak lumayan. Terkadang ia bisa makan dan menabung sisanya.
Guru dan teman-temannya pernah membujuk Dewantoro agar tetap sekolah.
Mereka memang begitu sangat perduli.
“Sayang kalau keluar, tinggal satu tahun,” kata mereka.
Bahkan pihak sekolah sudah mencoba menghubungi Prapti, agar Dewantoro tetap sekolah dengan jaminan dibebaskan membayar semua kebutuhan pendidikan, termasuk SPP dan buku-buku. Tapi sekarang Dewantoro sudah terlanjur sibuk di jalan. Penampilannya pun sudah berubah tidak seperti ketika ia masih sekolah. Rambutnya lumayan gondrong dan disemir pink.
Malam makin berselimutkan gelap. Sorot lampu jalan bagai suluh mengiris pori-pori. Dewantoro masih bertahan tegak di tengah jalan menunggu mobil berlalu-lalang. Di mulutnya terselip peluit yang sesekali ditiupnya. Biasanya sekitar pukul 20.00 WIB Dewantoro baru istirahat di warung kopi seberang jalan, sembari menghitung hasil palakan.
Jaja, senior Dewantoro mendekatinya.
“Dapat banyak Toro ?”
“sedikit”
“Mana jatah…”
Dewantoro menyerahkan beberapa lembar ribuan pada Jaja sebagai setoran untuk keberadaan kelompok jalan mereka. Ya, mereka telah memebentuk gang preman untuk menguasai daerah agar tidak diambil yang lain. Naluri seperti itu telah tertanam dengan sendirinya.
“Besok penampilan kamu harus lebih sangar lagi, biar agak macho” kata Jaja menekan.
“Apa hubungannya”
”Kayak kagak tahu aja, biar orang takut ”
“Maksa dong …”
“Di jaman sekarang ini hidup perlu paksaan. Kalau perlu kaca mobilnya digedor”
“Busyeet…pulang ah …”
Menyusul Dewantoro bergegas meninggalkan Jaja. Keduanya saling tos.
“Ok bos, sampai ketemu besok”
Pola pikir Dewantoro memang berubah semenjak ia menemukan lingkungan baru yang tidak mengenal sekolah. Pribadi dasarnya sebenarnya ia anak yang halus dan berbudi. Tapi lingkungan jalanan ternyata cukup tanggung membawanya menjadi manusia yang serba nekat.
***
Pada sebuah rumah gedek yang mungil. Di atas kasur tanpa ranjang, Dewantoro, untuk pertama kalinya menikmati menonton teve hasil dari keringatnya. Tentu saja membuat Prapti semakin sayang dengan anak semata wayangnya itu.
“Makanlah dulu Toro, ibu sudah masakkan lauk kesukaanmu, kalau didiamkan lama nanti basi” kata Prapti.
“Biarlah bu, Toro sudah kenyang, baru saja makan di warung”
“ Itu yang ibu tak suka, setelah kamu bisa mencari uang sendiri, lantas jarang makan di rumah. Padahal ibu juga ingin makan bareng kamu Toro”.
Dewantoro terus saja memainkan remote teve memilih-pilih siaran yang bagus.. Seakan dia tidak mendengar kata-kata ibunya.
Udara semakin dingin dan malam pun semakin gelap. Tapi Dewantoro semakin tidak bisa tidur. Tiba-tiba bayangan wajah bapaknya menelusup dalam ingatannya. Dilihatnya ibunya sudah tertidur pulas. Ditatapnya wajah ibunya yang berkerut, menandakan betapa Prapti sudah mulai tua dan letih. Dewantoro diam-diam memijat-pijat kaki ibunya, hingga membuat Prapti setengah tersadar dari tidur.
“Kamu kok belum tidur Toro?”
“ Belum bu, sudah ibu tidur saja, biar Toro yang memijit kaki ibu”
“Kamu baik sekali Toro…, terima kasih ya..”
Malam mulai mengapung bersama bintang-bintang tampak menghias langit. Namun mata Toro masih belum dapat tidur.
“Kalau saja ada ayah sekarang, tentu ibu tidak seletih sekarang, kasihan sekali ibu” pikirnya.
Perlahan-lahan nampak air mata bergulir dari dua bola matanya yang jantan, menetes di kaki ibunya.
“Pasti ibu sekarang bermimpi indah. Ya Allah lindungilah ibuku, sebagaimana ia selalu menjagaku …., aku tidak ingin melihat ibu sedih ….” Sebait doa Dewantoro begitu tulus yang langsung direbahkan tubuhnya dan tidur di samping ibunya.***




by:Mustaqiem Eska


PS: Bersyukurlah jika hidup jauh lebih baik!

0 komentar: