by: friday
sudah seminggu aku memandangi anak itu asyik saja mengangkat batu, mengocok semen, naik ke genteng dengan tangga, dan lain sebagainya dengan wajah riang dan tanpa beban
Aku yang asyik memperhatikan dari dalam rumah, merasa tersentuh dan tak dapat berkata-kata selain sangat prihatin memandangi dia dengan diam-diam. Rasanya aku ingin bertanya, mengapa jam sekolah seperti ini dia membantu bapaknya mengerjakan rumah kami yang sedang mengadakan rehab kecil-kecilan?. mengapa anak itu tidak di ruang kelasnya? Aku menduga-duga anak ini pasti berumur sekitar sepuluh tahunan.
Suatu sore sesudah selesai bekerja dari hari senin sampai hari sabtu, rasa penasaranku semakin tinggi. Aku memberikan upah mingguan bapaknya dan tidak memberikan apapun kecuali makan siang untuk anaknya. Karena aku merasa tidak pernah meminta anak itu untuk datang dan membantu bapaknya
"Ini ya pak, uang mingguannya, dipotong pinjaman bapak selama seminggu" aku berkata kepada bapak itu sambil memberikan kuitansi tanda terima upah kerja.
Bapak tua itu menerima dengan senang hati setelah membersihkan tanggannya yang kotor di bawah kran di tembok kami
"Pak ngomong-ngomong kenapa anak bapak ikut kerja, apa dia tidak sekolah?" tanyaku sambil menerima kuitansi yang sudah ditandatangani
"Oh, iya bu, soalnya tenaga saya kan sudah kurang, trus dia juga gak sekolah, jadi saya suruh bantu saya saja bu" katanya sambil tersenyum memandang kepada anak itu
"Loh, kenapa tidak sekolah?" tanyaku penasaran. "Masak anak seumur ini tidak sekolah pak, kan sekarang bayaran sudah murah dan wajib belajar sembilan tahun?'
"Murah sih, murah bu, tapi beli bajunya, beli bukunya, beli sepatunya, wah masih banyak pengeluaran bu,..." Dia garuk-garuk kepala
"Anak saya banyak bu ada delapan orang, jadi kakak-kakaknya yang sudah sekolah aja biar bisa nerusin, trus adiknya minta sekolah, nah dia mau ngalah, ya sudah dia bilang mau bantu bapak aja.... anak ini sudah tiga tahun bu gak sekolah" katanya sambil merapikan perlengakapan kerja didekatnya
"Wah jangan gitu to pak, anak anak harus diusahakan sekolah pak" kataku sambil duduk dikursi teras
"Ya iya bu, maunya sih begitu, tapi apa boleh buat, belum ada duitnya bu.." bapak itu kembali memasukkan barang-barangnya yang dipakai kedalam ransel tuanya.
"ayo kita pulang dul, bilang trimakasih sama ibu" bapak tua itu memberi kode kepada anaknya
"Trimakasih bu.." Dia menyapaku dan tersenyum
Ketika mereka akan keluar pagar, hatiku sangat tersentuh dan gelisah. Bayanganku tentang anak ini agar masuk sekolah semakit terlihat jelas. Aku harus mengatakan sesuatu
"Eh dul, kamu mau sekolah?" tanyaku kepadanya. Tiba-tiba dia terdiam dan menengok kepada bapaknya yang kelihatan capek.
"Mau?" tanyaku lagi. Dia kelihatan bingung. Sejenak dia memandangiku dan kembali memandangi bapaknya.
"Mau sih bu, tapi kata bapak kapan-kapan diterusin sekolahnya"
"Memangnya kamu berhenti kelas berapa?" Aku bertanya penasaran
"Kelas empat naik kekelas lima bu" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal
"Begini dul, kalau kamu memang niat mau sekolah, mau nggak kita sama-sama membantu?" tanyaku sambil tersenyum. Aku merasa inilah jalan terbaik yang harus kutawarkan kepadanya
"Mau bu!" tanpa sadar suaranya agak keras sambil tersenyum
"Oh bagus dul, jadi kalau kamu mau ibu bantu, maka kamu juga harus bantu ibu dirumah... kamu tinggal disini bersama kami dan anak-anak ibu, nah kamu bantu ibu bersih-bersih rumah atau cuci mobil, nanti yang lain si mbok bisa kerjakan, jadi ibu tidak usah pakai dua pembantu, cukup kamu saja ikut ibu, sambil kita cari sekolah siang...bagaiman?" tanyaku kepadanya yang serius mendengarkanku
Sejenak terasa hening. Aku melihat ada cahaya di wajahnya yang lelah. Dia tersenyum kepada bapaknya.
"Bagaimana dul? kamu mau tinggal dirumah ibu Ida?" tanya bapaknya sambil terus memandangi anaknya yang kelihatan terharu.
"Iya pak, aku mau....tapi kan rapotku kebawa banjir" katanya perlahan kemudian terlihat ada kekhawatiran di wajahnya
"Oh, kalau rapotmu terbawa banjir, nanti kita lapor ya nak, kita bisa kesekolahmu yang lama, atau ke kantor yang bisa bantu kamu ya" Aku meyakinkan anak itu dan wajahnya kembali berseri.
Mereka meninggalkan aku dengan sikap yang berbeda dari biasanya. Nuansa sore itu terlihat indah meskipun hari semakin larut.
Beberapa hari kemudian, anak itu datang tanpa membawa peralatan kerja, karena memang tidak ada lagi yang perlu diperbaiki di rumah kami. Aku melihat mereka mengangkat tas, sepatu dan sendal yang mulai robek dan duduk di teras rumah kami.
"Wah sudah siap mau sekolah?" gurauku kepada mereka.
"Sudah bu, wong dia nggak bisa tidur hanya memikirkan mau sekolah katanya... tuh, bukunya yang sudah kumal juga semua dibawa bu..."
"wah, semangat mau sekolah ya... nah, sekarang kamu taruh dikamar yang sudah disediakn si mbok, besok kita cari sekolah disekitar sini, kita sama-sama mendaftar ya dul..." kataku sambil duduk di dekat dia.
"Trimakasih bu... sekolah saya yang dulu dekat kok disini, sekolah negeri, dan teman-teman saya yang dibawah saya juga masih disitu..." katanya sambil mengusap-usap tasnya.
"Oh bagus itu... kita besok kesekolahmu dulu ya... ayo pak diantar anaknya kekamar..." Aku meninggalkan mereka karena akan kepasar didekat rumahku
Kami sudah berada di sekolahnya yang lama sambil menunggu kepada sekolah keluar.Sementara kami menunggu, dul melompat kedalam dan memperhatikan teman-temannya yang dulu dibawahnya mengerjakan tugas. Anak itu sangat ingin tahu akan pelajaran yang dikerjakan teman-temannya. Ibu guru yang sedang mengajar kaget karena ia masuk begitu saja. Aku ingin melarang dul dan memintanya keluar, tapi guru itu kelihatan senang karena memandangi dul yang tiba-tiba ikut duduk dimeja temannya sambil mengikut pelajaran.
Aku tertegun...betapa tingginya semangat anak itu...
Sejenak tiba-tiba datang Kepala Sekolah menghampiriku diikuti beberapa guru disampingnya. Aku diajak keruangannya yang sederhana dan dipersilakan duduk bersama guru-guru yang lain.
"Ibu...kami sangat berterima kasih kepada ibu, yang sangat mendukung dul untuk bersekolah lagi..." Aku terkejut, karena ibu itu sudah mengetahui kedatangan kami
" Dul itu tetangga saya, dan orangtuanya sudah menceritakan kepada saya apa yang diinginkan dul selama ini. Sekarang anak itu pasti kami bantu....Terlebih, karena ibu saja yang berbeda agama, mau membantu anak itu,apalagi keluarga itu sangat sederhana... maka apalagi kami, akan mempermudah agar dia kembali sekolah, karena anak itu sangat pintar.... karena anak itu selalu berkata...aku mau disana, bukan disini...sambil dia menunjuk kesekolah kami ibu..." Aku terharu mendengar perkataan ibu kepala sekolah tersebut
"Ibu, kita saling membantu bukan harus memandang agama...tapi karena mereka adalah calon pemimpin dinegara kita ini..." jawabku
"Baiklah ibu, kita bantulah anak itu...anak yang punya cita-cita" Kataku sambil melangkah pulang dengan sukacita dihatiku. Aku berkata dalam hati, suatu saat ia akan menjadi salah satu orang penting! paling tidak dilingkukangannya fikirku..Ada kegembiraan dihati ini
Kategori
- Cerpen Motivator (45)
- Motivasi (10)
- Renungan (19)
Jumat, 07 Agustus 2009
Aku mau disana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar