Ditulis oleh Mustaqiem Eska
Secara perlahan-lahan bumi terus-terusan dikapling-kapling oleh manusia. Sejak Adam hingga sekarang entah kapan proses pengkaplingan akan bumi itu berakhir, nyaris tak ada yang bisa menduga. Tuhan memang Super Maha Tangguh untuk menciptakan bumi dengan desain yang sangat Maha Luar biasa. Bahkan tidak ada setitik partikel sekecil apapun di bumi yang tak bernilai fungsi. Dari batuan yang berfraksi-fraksi seperti jauh di atas ukuran 40 – 63 mm, ke bawahnya 20 – 40 mm, 10 – 20 mm, 5 – 10 mm, 0 – 10 mm, dan seterusnya, tanah, lumpur, air, atau pasir hingga filler – lolos saringan 0.075 mm – bahkan yang jauh lebih halus dengan tujuh saringan di bawahnya lagi ; 20 µmº, atau kita sering menyebutnya dengan abu abunya abu terbang, semua tersusun bersatu membentuk kekuatan bumi ini hingga melahirkan jalan beraspal, bangunan berbeton seperti layaknya bendungan, tol, jembatan dan sebagainya. Bahkan hingga pada bagian bumi yang lain, jika manusia bersedia meminang dan pandai mengolahnya, tanah-tanah itu sudah dipastikan akan melahirkan jutaan-jutaan trilyun kesuburan. Atau kalau Tuhan memberikan bocoran istilah kepada manusia menyebutnya dengan : Keberkahan.
Keberkahan bumi pilihan ini atas keMaha AdilanNya sudah dibagi-bagikan kepada manusia dengan menjadikannya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa hakikatnya tanpa pilih kasih. Masing-masing sudah dihitung dan dipertimbangkan-Nya sesuai dengan kadar kesanggupan dan kesediaan manusia itu sendiri. Tuhan sama sekali tidak menginginkan untuk membebani nasib manusia untuk sengsara dan terlunta-lunta tanpa kehormatan. Bahkan KTP untuk setiap manusia dari Tuhan semua dibuat sama merata nyaris tidak ada perbedaan. Semua berjudul sama : “Bahwa kamu Aku ciptakan adalah sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi”. Dan tugas setiap manusia berikutnya yang diembankan Tuhan pun tak ada yang berbeda : “Khairunnas Anfa’uhum Linnas”- sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia. Tapi kenapa lantas manusia menjadi berklas-klas, berstrata dan merasa berbeda-beda? Padahal porsi akal dan pikiran yang dituangkan Tuhan untuk manusia berfungsi sama ? Ini adalah karena Kesanggupan menfungsikan akal dan pikiran dari masing-masing individu manusia itu berbeda kadar nilai guna dan implementasinya. Bagi yang pandai mengembangkannya, ia akan membentuk manusia luhur dan berfungsi cipta. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga alam di sekitarnya. Begitu bagi yang tak pandai menangkapnya, ia akan tetap menjadi manusia lemah-rendah dan tak berguna. Sangat tepat Tuhan mengandaikan manusia yang tak berkehendak memanfungsikan peran akalnya dengan baik adalah diibaratkan laksana hewan, bahkan lebih rendah dari hewan. Korelasi perbandingannya jelas, manusia dianugerahi Tuhan dengan akal yang tentu seharusnya jauh berilmu pengetahuan dalam mengolah alam semesta, sementara hewan tak berakal, maka ia berkehendak sesuai dengan naluri kebinatangannya semata, tanpa hukum dan aturan. Jadi kalau manusia sederajat dengan hewan hakikatnya adalah baladulluhum.
Seiring dengan perjalanan waktu, sejarah terus mengukir pembuktian bahwa manusia terus haus dengan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik cinta, kepuasan, kesenangan, keserakahan dalam sandang, pangan dan papan. Awalnya, Adam dan Hawa memang sangat leluasa menghuni bumi semesta, tak ada yang lain selain keduanya. Hingga lahirlah pemenuhan cinta untuk pertama kalinya yang mengantarkan keduanya berbelai kasih, merindu, dan menginginkan kemewahan keturunan untuk keduanya. Hingga lahirlah Habil dan Qobil. Terlalu luas bumi semesta hadiah Tuhan untuk keduanya. Sekenario kehidupan manusia di bumi pilihan, oleh Tuhan memang didesain dan diformat sedemikian rupa. Agar berlindung dari panas dan hujan Adam mulai berhitung untuk membangun rumah, mulailailah ia melakukan sejarah pengkaplingan bumi pilihan yang pertama kali. Satu dirak dua dirak dan seterusnya, sejengkal demi sejengkal dan seterusnya, sedepa demi sedepa dan seterusnya hingga orang-orang anak keturunan Adam menemukan standar ukuran berikutnya dengan meter, kilometer, centimeter, millimeter, micron dan yang lain.
Layaknya air, pengkaplingan-pengkaplingan terus merambat nyaris memenuhi bumi. Berjuta-juta orang mulai merasa mulai kehilangan keleluasaan dalam mendapatkan jatah kapling. Masing-masing kapling mulai diserifikat. Lantas mereka mengembangkannya dengan bangunan dan rumah-rumah megah, kebun-kebun berbuah, hingga area-area rekreasi, lapangan golf, dan perumahan-perumahan. Tak berhenti, manusia terus bertambah, otomatis, pemenuhan akan tanah pilihan pun terus bergerak melebar. Batas wilayah mulai dibuat line, antar desa antar kampung mulai dibuat gardu perbatasan, antar kota antar pulau mulai di buat jarak dengan suku, bahkan antar Negara mulai juga dibatasi dengan passport. Hingga manusia mulai sempit bergerak di bumi. Karena untuk memenuhi keinginan yang banyak mereka harus membayar dengan harga yang semakin mahal. Di bumi, nyaris tidak ada yang gratis. Bahkan di bawah guyuran jeram genung nan jernih, ramai orang-orang memperdagangkan air. Padahal dahulu, orang-orang kalau minum, cukup dengan air kendi yang langsung diambil dari sumur.
Ingat tentang kisah sejarah Majapahit, bagaimana Gajah Mada juga melakukan penundukan-penundukan dan perampasan-perampasan bumi pilihan dengan dalih politik nusantara. Atau pada sejarah penjajahan, betapa Belanda dan Jepang begitu antusias untuk memperkosa Indonesia. Tak ketinggalan Malaysia dan Indonesia menjadi sempat bergesekan karena saling klaim ambalat. Atau kejadian sebelumnya, Timor-timor melepaskan diri dari cengkeraman nusantara adalah juga karena pada dasarnya menginginkan kekuasaan atas kaplingan bumi pilihan. Semuanya ditempuh dengan harga yang mahal hingga darah dan nyawa. Pembunuhan dan tipu-tipu muslihat mulai terus merambat seperti menggergaji bumi. Antar manusia mulai saling tuding, saling curiga dan saling mempertahankan diri. Mulai untuk menjaga diri dan kehormatan, di rumah-rumah mereka mulai dipersenjatai dengan security, anjing-anjing penggonggong hingga kawat-kawat berlistrik. Manusia-manusia semakin tidak malu-malu melakukan kebiasaan tikam menikam. Ghibah dan makan bangkai saudara sendiri sudah menjadi gizi di setiap pagi bagi pemuja entertainment. Bumi pilihan kian menyempit. Jakarta penuh sesak dengan manusia. Surabaya, Semarang, Medan, Palembang, terus berjibun orang-orang berebut ke kota. Masing-masing berjuang mendapatkan jatah bumi pilihan. Kadar keinginan mereka meskipun berbeda tapi prinsipnya tetap sama. Masing-masing berkehendak untuk kejayaannya.
Hari itu, terlihat tetangga sebelah, saling ribut dan saling serang. Suara yang muncrat dari mulutnya menjadi dahsyat tak selembut sebelumnya. Matanya merah menikam. Kata-katanya saling mengumpat dan menyemburkan ejekan-ejekan. Semua terjadi, hanya gara-gara tetangga sebelahnya terlalu lebih mengkapling tanah kekuasaaannya, hingga masuk menggerogoti ½ meter tanah punya tetangga.
“Lihat batasnya di sertifikat!” teriak tetangga sebelah murka.
“Batukmu…, kamu juga lihat sertifikat” timpal tetangga satunya tak mau kalah.
Bumi pilihan yang dihamparkan Tuhan untuk manusia sebenarnya masih sangat jauh teramat luas kalau hanya untuk sekedar menampung semua makhluknya yang bernama manusia. Tapi manusia sendiri yang justru membuatnya sempit. Mereka tak bisa berbagi rata. Keinginan untuk mendapatkan jatah yang terbaik selalu memenuhi nafsunya. Bahkan mereka hanya berkerumun di satu sudut kota. Perhitungan akan keramaian dan demi kepentingan bisnis untuk timbunan keuntungan selalu menjadi alternative utama. Sementara di tempat lain, untuk tanah nusantara saja, di belahan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan yang lain, teramat luas masih bentangan bumi Tuhan yang masih tersia-sia. Bahkan jika berani mengolah, kesuburan dan kemolekannya jauh bisa mengalahkan Jakarta.
Bumi pilihan terus menjadi rebutan. Timbunan orang-orang pada satu sudut kota bisa diukur dari besaran nomor kependudukan. Hingga tidak aneh, jika di satu sudut kota itu bumi pilihan mulai lahir penindasan, perampokan,pencurian, pembegalan, atau perampasan. Ketidak nyamanan hidup di kota terus menggelinding menjegal setiap kepribadian. Orang-orang lantas mendindingi pagar rumahnya setebal-tebalnya dan setinggi-tingginya. Kecurigaan antar tetangga di komplek-komplek perumahan mulai seperti kerajaan-kerajaan kecil. Semakin menyempit tingkat silaturrakhmi, hingga nama tetangga rumah sebelah sudah tidak kenal lagi. Masing-masing tinggal tersisa “say hello” bahkan nyaris sirna.
Di sinilah, di sebelah sudut kota yang jomplang dengan manusia, keramaiannya mulai menyempit menjadi keterasingan di kampung sendiri. Tak ada srawung dan tegur sapa. Masing-masing berlomba dan berebut untuk kepuasan pribadi. Keinginan untuk menjadi diri sendiri membesi, keras dan berkarat. Hingga sampai pada ujung waktunya. Saat Tuhan benar-benar memanggil kembali manusia satu-persatu untuk kembali kepadaNya. Hanya bisa didapatkan, bahwa yang siap menggali lobang kuburnya hanya satu orang, yang siap memandikannya hanya tiga orang, yang siap mengkafani hanya satu orang, yang siap menyolati hanya satu orang dan yang siap mengantarkan ke kuburan hanya lima orang. Dan mereka semua juga adalah keluarganya sendiri. Sampai tercapai kesendiriannya yang sebenarnya. Di dalam timbunan tanah itu; Sendiri !*** (mustaqiem eska/Karebbe Hydroelectric Project-Malili-Sulsel,25/7/09).
Kategori
- Cerpen Motivator (45)
- Motivasi (10)
- Renungan (19)
Jumat, 07 Agustus 2009
BEREBUT BUMI PILIHAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar