Ditulis oleh Mustaqiem Eska
Bagai seribu malam yang tengkurap di satu musim, entah kenapa mendadak aku kembali mengingatmu. Sebenarnaya jujur kuakui, aku sudah bertahun-tahun terus melubangi setiap tanah pekarangan rumah membentuk kuburan-kuburan sehingga setiap kenangan itu muncul segera aku melemparnya menuju alam sepi yang lumat dengan batu-batu nisan. Tapi memang terlalu sulit. Kau seperti alam semesta yang terus melakukan metamorphosis. Sehingga beribu-ribu kali aku terus menemukan wajahmu bergerak berubah dari waktu ke waktu, namun sejatinya itu tetap kamu. Di sini, di atas batu kecil ini aku belajar melupakanmu dari waktu ke waktu. Perlahan-lahan aku belajar dengan kerasnya kerikil-kerikil di sekitarku. Begitu tenang ia menjadi tapakan-tapakan sederhana bagi kaki-kaki telanjang.
Dulu pernah kau mengatakan kepadaku, bahwa lebih baik aku melakukan yang kecil karena itu sesungguhnya besar daripada aku melakukan yang besar tapi jika ternyata itu tak bisa merubah apa-apa, katamu. Nyaris aku lantas menjelma menjadi apa saja yang siap bersemayam di derasnya kehidupan. Aku masih ingat betul kenangan kita waktu itu. Saat kita berdua merayap di bawah untuk setiap tanah menjadi rumput. Kau dan aku selalu mengisi ruang-ruang kosong untuk kita tumbuh dan bernafas. Kita bertahan untuk segala musim. Begitu panas datang, kita merasa cukup dengan selimutnya malam dan cipratan embun di setiap paginya, hingga kita bersih dan bening. Ya, kita belajar ketegaran dari bawah dan dari rupa-rupa persenyawaan. Betapa aku pernah bangga bisa melihatmu tertawa dengan terbahak-bahak meski di senja usia itu kau harus kerapkali bergulat dengan sakit. Masih ingatkah kau, bagaimana saat aku memapahmu menuju pembaringan, lantas kau minta aku injak-injak agar tubuhmu dapat segar. Dan aku melakukannya dengan sempurna. Sempurna untuk dua hal, yang pertama aku telah membuat otot-ototmu bisa kendor dan berkeringat. Keduanya, itu kepentingannya untuk diriku sendiri. Setidaknya aku bisa melampiaskan sisa-sisa dendam sakit hatiku dengan menempatkan posisi kegagahanku yang bisa meremukkan semua tulang-tulangmu saat itu, tanpa membuat hatimu terluka. Aku memang akan selalu memanfaatkan sudut-sudut yang terpojok itu menjadi endapan kenikmatan yang seringkali disia-siakan oleh banyak orang.
Masih ingatkah kamu, saat kau menulis surat untukku lewat selembar daun pisang. Betapa perlahan kau mengukir butiran-butiran huruf itu membentuk kata dengan tenang dan sabar. Kalimatmu sangat sigkat, “Jadilah orang yang bermanfaat, jika tidak bisa untuk banyak orang, setidaknya untuk diri sendiri” katamu. Dan aku masih tidak tahu apa sesungguhnya pesanmu yang begitu sulit kueja saat kamu memanggang daun pisang itu dalam kondisi setengah basah setengah kering. Terus aku menyimpannya hingga sekarang di ruang hatiku dengan tersusun rapi. Tapi aku tak pernah berniat untuk membalasnya. Maafkan aku, aku memang terlalu melankolis dalam surat menyurat. Bahkan aku begitu cengeng untuk sebuah penghormatan. Karenanya aku tak mau terlarut begitu jauh dengan urusan diriku sendiri. Aku sudah terbiasa melemparkan diriku di ruang nol yang tidak lagi mengenal untung dan rugi, senang dan susah. Atau dalam kalimatmu, kau pernah terucap dengan menyebutku manusia nol tanpa dosa. Ah, itupun aku tak pernah memperdulikannya. Yang ada di depan bayangan hidupku hanyalah bagaimana aku bisa lebih baik hari ini ketimbang kemarin. Hingga terkadang begitu hati-hatinya aku takut terjerembab ke jalan ketergesa-gesaan, lantas aku diam untuk beberapa saat, semadi, merenungkan langkah-langkah ke depan yang terbaik nantinya. Banyak sekali ronak dan lompatan-lompatan yang harus aku lalui dengan perjuangan dan tekad yang kukuh membaja. Tidak hanya itu, persiapan mental untuk tidak memperdulikan segala gesekan yang melukai perasaanku saat ujian itu tiba menikamku.
Begitu untuk yang kedua kalinya kau kirim surat untukku, aku menjadi lebih bersemangat untuk tidak menemuimu lagi. Hingga terakhir aku katakan padamu, bahwa anggap saja saya sudah mati. Kalaupun suatu saat Tuhan masih saja memepertemukan kita anggap saja itu adalah mayat. Sebenarnya begitulah cara aku menyayangimu. Aku tak kuasa menatap wajahmu. Entahlah, perasaan apa sebenarnya ini, ada pemberontakan kecil yang begitu menyumbat kesadaranku, dan betul-betul aku tak sanggup mengatakannya. Aku sama sekali tak ingin melihat air matamu menderas di hadapanku. Seringkali kau tanpa sengaja, dengan ketulusanmu mengatakan sejuta keluhanmu tentang hidup ini yang begitu berat. Tapi aku justru sangat lemah dan tak sanggup menolongmu. Meskipun ribuan dan jutaan doa setiap malam aku hantar di rumahmu sebagai obat dan ketenanganmu. Dalam gelap aku meraba-raba pintu nuranimu untuk menyusun gejolak batinmu yang tercecer di ribuan tempat. Setelahnya, aku pulang tanpa sepengetahuanmu.
Hari ini, saat aku memaksakan menulis surat untukmu, sebenarnya aku tak sanggup mendengar berita tentangmu semalam. Berpuluh-puluh utusan malaikat itu menemuiku. Mereka membawakan mayatmu untukku. Aku tak percaya dengan semuanya. Tapi mereka memaksa aku untuk melihat wajahmu.
“Mayat ini adalah hadiah untukmu, begitu Tuhan menitipkan kepada kami semua untuk menyerahkannya kepadamu” kata utusan malaikat terdepan.
“Mayat siapa ? saya tidak kenal” jawabku menolak.
“Tuhan tidak pernah salah dalam keputusanNya. Semua terserah kamu” kata malaikat satunya lagi.
“Baiklah…, letakkan saja di amben depan situ” jawabku dengan berat. Benar-benar tak sanggup menolaknya setelah para malaikat itu menyebut kata Tuhan.
Setelahnya, berpuluh-puluh malaikat itu mendadak menghilang. Aku memandangi tajam wajahmu. Perlahan-lahan jasadmu kian mengecil – dan terus mengecil. Lantas menghilang dari pandangan mataku. Aku sangat terkejut dan memastikan untuk meraba amben tempat jasadmu di mana para malaikat itu meletakkanmu. Dan setelahnya aku terbangun. Nyaris aku tak sanggup menerjemahkan mimpiku malam itu tentangmu.
Ya, tentunya surat ini sangat khusus buatmu. Aku campur tintanya dengan minyak misk yang menaburkan keharuman di setiap kata-katanya, agar tidak ada satu kalimat pun yang menyakitimu. Aku harus membuatmu bahagia dan bisa tertawa di sisa-sisa usiamu. Harapanku tidak lain untukmu adalah bagaimana kamu bisa benar-benar mendapatkan hadiah khusnul khatimah dari Tuhan. Meski aku tahu hingga sekarang kau masih menolak hubungan sholat dengan sorga. Itu yang sangat berbeda dengan pikiranku. Bagimu, apalah artinya sholat lima waktu, rajin ke masjid kalau perilaku selalu sarat dengan comberan. Sementara bagiku, justru dengan sholat itu adalah batas sessungguhnya antara orang itu muslim atau tidak. Aku lebih menerima orang berperilaku dosa tetapi masih mau sholat menghadap Tuhan setelahnya. Di sini aku mencoba berfikir positif, semoga…, dan semoga…., sementara kamu langsung klaim dan menghidar.
Setelah surat ini kutulis, aku benar-benar kehilangan alamatmu. Aku telah kehilangan jejakmu yang sempurna. Ratusan dan ribuan sahabat yang pernah mengenalmu pun tak lagi menyimpan keberadaanmu. Hanya sisa-sisa pikiranmu yang terus menyelip di pikiran-pikiran mereka, termasuk aku.
“Dimana aku harus mengalamatkan surat yang kutulis khusus buatmu?” pertanyaanku menggantung di sudut waktu.
Akhirnya, berbulan-bulan aku masih menggenggam surat untukmu. Bertambah hari hingga berganti tahun, surat itu masih tertahan di laci meja kerjaku. Aku tetap berharap kau bisa membacanya. Tapi kapan aku tak tahu. Alamatmu belum juga aku temukan. Entahlah…, sepertinya kau benar-benar menghilang.
“Apakah, kau yang ada dalam mimpiku?”
Tak ada jawaban. Hingga surat itupun ikut menghilang. Entah di mana. Aku tak tahu.***
Kategori
- Cerpen Motivator (45)
- Motivasi (10)
- Renungan (19)
Jumat, 07 Agustus 2009
SURAT UNTUK KAMU
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar